Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for 2017

Meringkas Perjalanan
Seharusnya saya menuliskan jejak awal keberangkatan saya yang kemudian berlanjut pada proses perjalanan hingga bagaimana saya berakhir di tempat ini. Banyak yang terlewatkan dari tinta-tinta pena daring untuk episode kehidupan mahasiswa keguruan yang satu ini. Terlalu banyak. Hal itu cukup menyesakkan sebab seharusnya saya akan begitu banyak mengenang berbagai hal tentang sekolah ini, SMP Negeri 15 Mataram (Spenlibels).
Bagi mereka yang telah, sedang, dan akan menceburkan diri menjadi mahasiswa keguruan tentu melewati sebuah jalan yang seakan tanpa ujung (jika tak dinikmati). Jalan itu bernama Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Jalan yang  terjal dan penuh cobaan, bagi saya. Terlebih pada awal-awal saya melewati jalan itu bersama kawan seperjuangan namun ternyata di ujung jalan, hanya ada saya seorang di sana. Kenyataan yang seharusnya bisa saya cegah, namun takdir Tuhan telah lebih dahulu menggarisnya (Kangen Herlan).
Banyak aral yang telah saya temui, dan hal yang terasa cukup menyesakkan adalah ketika harus menyelesaikan sendiri segala urusan. Di saat teman yang lain menyelesaikannya dengan teman satu program studi, saya harus bertahan dengan solo karir saya. Bantuan yang ada hanya berupa reminder, pertolongan P3K, dan beberapa bantuan ringan lainnya. Untuk pengerjaan laporan akhir PPL, lampiran-lampiran yang bisa dikerjakan bersama teman satu program studi sudah tak mungkin dilakukan. Kawan terbaik saya telah pulang lebih dahulu mengambil jalan memutar. Ia urung melewati jalan ini tersebab banyak hal.
Berdiskusi bersama guru pamong dengan kedisiplinan yang sungguh tinggi membuat saya seringkali merasa sungguh 'spesial' dari teman-teman lain. Saya harus bisa seperti rexona, setia setiap saat. Terkadang, bahkan sering saya merasa iri dengan teman-teman lain. Saya harus berkutat sendiri, memahami kesalahan saya di kelas apa sendiri, memahami banyak hal sendiri dan jelas mengajar pun sendiri. Teman-teman lain biasanya jarang diminta ini dan itu bahkan mereka ada yang jarang diminta mengajar.
Hal lain yang membuat saya sering ingin menangis adalah teman-teman lain tak pernah kesulitan untuk dapat izin pergi ke kampus. Berbeda dengan saya yang harus setia menjadi warga sekolah yang baik. Seringkali ketika saya ingin meminta izin ke pamong untuk acara kampus atau ada hal yang harus diurus di kampus, izin cukup sulit saya dapatkan. Sering pula saya hanya bisa mengelus dada ketika teman yang lain tidak hadir ke sekolah karena tak ada jam mengajar sedangkan saya harus tetap diam di sekolah tanpa tahu akan berbuat apa. Cari sinyal wifi, sih iya.
Akan tetapi, sedih punya masanya masing-masing. Bahagia pun silih berganti. Saya bersyukur diberikan pamong yang sangat disiplin. Keteledoran saya, kesalahan-kesalahan saya selama PPL dapat saya jadikan hikmah untuk bisa memperbaiki banyak hal untuk bisa lebih baik lagi.


Pengalaman adalah Guru yang Paling Baik
Menjadi guru sejatinya adalah menjadi seorang panutan. Ia digugu dan ditiru. Hal itu mengharuskan seorang guru mengisi kantong ilmunya sebanyak mungkin. Itulah sebabnya menjadi guru adalah menjadi siswa. Guru adalah yang paling peka untuk tahu banyak hal. Sebab ilmu itu terus berkembang. Segala perubahan zaman harus disikapi dengan bijak.
Banyak kejadian yang ternyata selama ini, tak pernah saya sadari maksudnya. Omelan-omelan dari Kordinator PPL kami yang ternyata tulus sebagai bentuk cintanya pada kami, nasihat-nasihat beliau yang belum pernah kami lihat tak salah. Banyak hal lain yang di benak kami tak pernah terpikirkan, kami masih berpikir terlalu instan, terlalu pendek. Hal itulah yang sepertinya membuat kami banyak melakukan kekhilafan berlebih di sekolah ini.
Acara penarikan Rabu (13/12) lalu memberikan banyak pelajaran kepada saya dan teman-teman. Banyak hal yang membuat kami merasa satu semester ini adalah pengalaman terbaik kami. Kesan paling indah di tempat ini sungguh luar biasa, tak ada kekata yang bisa meluapkan perasaan kami satu per satu.


Usai seremonial penarikan itu, kami menyalami satu per satu tangan mulia para penyambung ilmu itu. Sambil terus berucap maaf, mata saya seakan mengajukan dirinya saja yang berbicara. Untung saja saya bisa menahan tetes hangatnya. Ia perlahan ingin mengalir di sudut mata tetapi ada yang menahannya di sana, malu. Seorang kawan sudah tak mampu menahannya, Ia tumpahkan saja di tengah ruangan itu sambil memeluk salah seorang ibu guru muda yang selalu tersenyum itu.
Saya? Langsung ke kamar mandi seusai acara salam-salaman itu. Pamong saya tak dapat hadir saat itu, Ia ada pertemuan di gereja beserta anak-anak yatim. Saya tak bisa berkata apa-apa. Padahal saya sangat ingin berfoto bersamanya seperti yang dilakukan teman-teman lain. Akan tetapi, ia selalu saya temui dalam keadaan sibuk. Saya takut membuang-buang waktunya hanya untuk berfoto. 
Saya memberikan kado yang telah saya simpan selama tiga atau empat hari sebelum hari penarikan. Air mata saya sempat ingin menunjukkan dirinya di hadapan beliau tapi saya memintanya untuk menunjukannya kepada saya saja.
Yah, pada akhirnya tulisan ini sebagai pengingat bahwa saya pernah menjejak bersama "dunia nyata pendidikan" lewat jalan panjang bernama PPL. Banyak catatan yang saya dan teman-teman dapatkan. Jika kami diharuskan menulis agenda harian setiap hari dan harus dilampirkan ke dalam laporan PPL, maka seharusnya kami sudah bisa membuat sebuah buku "Catatan Akhir Mahasiswa PPL"….
Pengalaman akan selalu menjadi guru yang paling baik dan mungkin, menjadi guru adalah pengalaman yang terbaik. Hehehe... Pengalaman PPL di SMP Negeri 15 ini adalah hal terbaik yang bisa saya syukuri. Bertemu dengan banyak sosok hebat menjadikan saya harus terus merasa lapar. Lapar akan pengalaman dan ilmu.
Terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, Bapak Ibu guru, staf, para siswa/i atas pengalaman berharga yang penuh hikmah. Maaf karena terlalu banyak khilaf, maaf karena seringkali tak peka dengan keadaan sekolah. Maaf karena terlalu merepotkan sekolah.
Terima kasih sudah mau menerima kami dengan segala keterbatasan kami.
Semoga kebaikan seluruh civitas SMP Negeri 15 Mataram menjadi kebaikan tersendiri bagi kemajuan sekolah. Aamiin


#CatatanAkhirPPL, #Spenlibel, #SMPN15Mataram, #TimetoGoHome,Son

 Beberapa waktu lalu, saya sempat membuka facebook dan mendapati hal yang cukup membahagiakan untuk beberapa orang termasuk saya. Sebelumnya saya telah menulis mengenai Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Seorang Penumpang (Jilid I). Di tulisan itu saya menulis sedikit kekecewaan saya terhadap seorang senior yang sejak dulu saya kagumi dan karena satu hal membuat saya agak kecewa dengannya.
Pada tulisan itu saya menulis bahwa ia membebaskan kepalanya dari helaian kain bernama hijab. Alasannya tersebab humanisme seingat saya ketika itu. Dan hal terakhir yang saya ingat darinya adalah keputusannya itu tidak permanen alias besar kemungkinan akan berubah.
Akhirnya, beberapa waktu di bulan puasa lalu, seorang kawan penghuni tetap sekret berpapasan dengannya, tapi mereka tak saling lihat ketika itu. Kata kawan itu, Ia kini kembali berhijab. Saya yang mendengar informasi itu, pasang muka excited gittuhh… Ya iyalah… gimana kagak, coba… Memang, rahasia masa depan mah siapa yang tahu coba? Dan ternyata informasi itu berlanjut dengan ditemukannya bukti otentik di beranda facebook saya. Alhamdulillah, bukan hoax.. Ia berhijab lagi. ^_^
Mungkin bagi beberapa kalangan, menanggalkan hijab, jilbab dkk lalu memasangnya kembali pada kepala yang sama adalah perkara lumrah. “Yang begituan mah, biasa! Udahlah, toh banyak pula perempuan yang bongkar-pasang hijab dan tanpa malu melakukannya di tengah masyarakat, kayak seleb-seleb ramadaniyyun gitulah… gak ngaruh buat orang,"
Masalahnya bukan itu. Saya tahu pula itu. Perihal sosok yang satu ini, Ia adalah perempuan yang saya kenal dan cukup saya kenal. Jelas dan saya tahu Ia bukan tipe manusia yang berani berbuat tidak berani bertanggungjawab. Baiklah, penilaian saya mungkin salah, tapi untuk perempuan yang satu ini, saya tak bisa pungkiri bukan hal biasa ia melakukan hal (menanggalkan hijab) yang bagi saya cukup mustahil untuk dilakukannya.
Terlepas dari tanda tanya (yang diperlihatkan Aan Mansyur, halaah) yang sejak lama sempat mengganggu itu, saya benar-benar berbahagia. Bahagia karena saudara seiman, sebangsa dan setanah air itu dapat kembali mengenakan hijabnya. Bukan pula saya memilih pertemanan dengan alasan hijabnya, bukan. Ini hanya seperti nilai plus dalam pertemananlah, kira-kira. Yang punya kesamaan tersendiri dengan teman dalam satu geng biasanya lebih dekat, kan? Yah, semacam itulah, meski saya bisa dikatakan bukanlah termasuk mayoritas orang terdekat perempuan ketjeh ini. Jelas ada kebahagiaan tersendiri, ketika sesama saudara—apalagi seiman, dapat taat pada perintahNya dengan segala taat. Allahu akbar! Laa haula walaa quwwata illa billah…
Dengan sepenuh hati saya memohon kepada Allah agar Ia, saya dan muslimah lain dilimpahkan karunia berupa keistiqomahan dalam berjilbab, Aamiin. Sehingga kelak, jilbab yang hari ini kita kenakan dengan bangga karena alasan tunduk dan taat karena Allah, akan bersaksi di hadapanNya dengan bangga pula. Dibela sama jilbab sendiri. Kurang luar biasa apalagi coba? Hehe…
Jadi, sudahlah…
Ketaatan kepada Allah tidak ada ruginya, malah dapat bonus. Jujur, hati saya benar-benar bahagia, sebahagia foto Mbak berjilbab merah yang ingin saya peluk itu. Saya hanya ingin melihat hari ini, ketika sosoknya kembali membuat kami ingin memeluknya, rindu dengan kalimatnya yang selalu on fire, rindu sama semuanya. Hihihi, kagak pernah ketemu yang lamaaa sama Mbak yang satu ini…
Jadi, sudahlah…
Benarlah, bahwa penumpang tetaplah seorang penumpang. Ia tak bisa meminta seenak hati kepada si yang punya kendaraan. Namanya aja penumpang, ya berarti cuman numpang. Gak punya hak buat ngatur-ngatur yang empunya. Lah, mending penumpangnya bayar, lah ini kagak. Mintanya pake nyolot lagi! Hahaha… Pun sebenarnya kita semua adalah penumpang sejatinya. Allah yang punya bumi, Allah yang punya langit, lah kita? Sok-sokan pengen mengubah seorang hamba Allah menjadi lebih baik. Ngaca aja dulu! Diri sendiri udah baik belum, Jik? Makanya jangan make up muka aja yang diliatin! Make up hati, perlu juga, kali! hehehe… Manggut-manggut ajeh…
Apapun alasan seseorang yang tengah berbuat kebaikan hari ini, tetaplah ingat bahwa perihal kebaikan, kita harus menilai seseorang dari kavernya. Please, jangan mencoba untuk mengungkit keburukan atau kesalahan masa lalu seseorang dengan tujuan menjatuhkan. Cukuplah keburukan maupun kesalahan itu menjadi pelajaran untuk kita agar terus berbenah diri dan mengharap istiqomah di jalan Allah. Kita aje banyak aib, mau main buka aib orang… Penumpang, penumpang!!
Sejatinya, kita semua sedang hijrah. Hijrah dari satu keburukan kepada satu kebaikan. Jadi, biar kita kagak bangkrut, ya janganlah selangkah kebaikan yang kita lakukan, kita balas dengan dengan selangkah keburukan di depannya. Itu mah amblas namanya. Bangkrut, euy!
Banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya. Mengenai minggu-minggu tersulit di semester ini dan beberapa kejutan luar biasa di sela-selanya. Tapi, ya sudahlah… ini pun bersyukur dapat angen nulis dan selesai. Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum…


Mengenai humanis. Saya jadi teringat dengan seorang senior di kampus. Ia sosok yang saya kagumi, dulu. Kini, masih sama meski ada tagar-tagar mengenai dirinya yang tak seharusnya tercerabut dari ruang di kepala.

Saya suka sikapnya, caranya mengajak kami yang ketika itu masih unyu-unyu untuk mulai membuka suara ketika berpendapat, saya suka caranya mengikutsertakan kami pada setiap kegiatan apa pun dengan cara yang membuat kami tak lagi canggung. Saya suka dakwah menulisnya pada kami yang terasa simpel. Wanita berjilbab itu, saya menyukainya pada banyak hal.

Suatu hari, saya terkaget-kaget melihatnya tak mengenakan jilbab. Mata saya yang seharusnya terbelalak tak menunjukkan ekspresi kekagetan, ekspresi yang seharusnya muncul saat itu. Saya diam. Pikiran saya kelana mencari-cari ruang dengan namanya di pikiran. Keheningan di tempat itu sempurna menyeruakkan kecanggungan tak biasa. Mungkin ia tahu pada diamnya saya berarti ribuan pertanyaan tersumpal di benak.

Kebekuan di hari itu berlalu. Berhari-hari saya menyimpan suara untuk tak mau berkomentar apa-apa dan bercerita pada siapa-siapa. Saya ingin menutup rapat-rapat hal itu. Berharap ada yang keliru pada hari kemarin ketika saya berjumpa dengannya. Pikiran saya terus saja berputar-putar tak tentu sampai pada suatu ketika saya merasa tak bisa lagi menahan pikiran itu menggelayuti otak saya. Akhirnya saya bertanya pada salah satu teman yang memang lebih intens berjumpa dengannya karena berada dalam satu komunitas. Percakapan kami berakhir tanpa benar-benar berakhir.

Suatu ketika saya dan teman-teman berkumpul di ruang itu, kembali. Satu persatu teman yang hadir menampakkan kebekuan yang mungkin hampir sama dengan yang saya lakukan beberapa waktu lalu.Tepat hari itu, ketika kami semua berkumpul di ruangan itu, salah satu dari kami sekonyong-konyong menyatakan kegundahannya pada suasana beku yang telah beberapa hari ini bertengger karena perubahan darinya. Ia mengatakan hal itu untuk menyelesaikan berkeliarnya tanya-tanya yang ada pada kami. Apa itu terlihat jelas di wajah kami? Entahlah…

Akhirnya ia bersuara. Jawabannya cukup mengejutkan ternyata. Versi ingatan saya, ia mengatakan tengah belajar. Belajar tentang humanis. Pikiran saya mencoba menjejaki kosakata humanis meski saya tak begitu paham sesungguhnya humanis itu seperti apa. Tak banyak yang muncul dari hasil pencarian cepat saya. Beberapa diantaranya berwujud wajah-wajah bahagia, uluman senyum, tangan yang memberi, hati yang dipenuhi kebaikan dan beberapa sosok manusia-manusia luar biasa. Sepertinya masih ada yang tersisa tapi yah, sepantaran itulah yang saya ingat.

Saya mafhum ia memang penulis sejati. Puisinya telah banyak beredar di harian-harian nasional pun buku puisinya telah banyak yang terbit. Komunitas menulis yang ia geluti pun memang sedikit banyak saya ketahui memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk menuangkan pikiran. Saya kira sastra pada ranah kebanyakan memang sering seperti itu. Akan tetapi tetap saja, nak sebebas-bebasnya burung terbang, hingga kini ia masih terbang di lingkaran pagar bernama bumi.

Ia juga mengatakan kalau ia ingin melihat sosok humanis dari orang-orang yang dikenalnya. Apakah dengan penampilannya yang sangat berbeda akan membuat orang-orang di sekelilingnya menatapnya dengan berbeda. Apalagi dengan keadaan seperti sekarang ini ketika ia menggugurkan satu kewajiban yang fundamental dari agama.

Dikatakannya juga bahwa ia risih dengan perilaku para akhwat sekarang yang kebanyakan hanya menjadikan jilbab bukan sebagai syariat tapi fashion yang tak cermat. Itulah yang dikatakannya waktu itu.

Belum Rela
Kutanyakan padanya bahwa apa ia sadar dan tahu dengan keputusan yang diambilnya? Jawabannya sangat jelas. Ia tahu. Bahkan surat dalam Al-Qur'an yang menerangkan mengenai kewajiban menutup aurat (An-Nur ayat 31 yang sering saya lupa ayat berapa) itu pun telah ia hapal benar bahkan sepertinya ia lebih paham dari kami-kami yang berada di sana ketika itu. Lalu? Saya terdiam. Pada tahap ini saya merasa sangat bodoh. Mempertahankan seorang teman seiman untuk memenuhi kewajibannya itu sungguh tak mudah jika bukan dari dirinya. Ia pun seingat saya menutup penjelasannya bahwa keadaannya seperti ini tak menutup kemungkinan dirinya akan beralih kembali untuk memenuhi kewajiban itu, jika ia.

Lalu sekarang?

Seperti kataku tadi, hanya mereka yang benar-benar sadar yang akan menyadari betapa kewajiban adalah sebuah keharusan untuk kemudian menindaklanjuti pemberian hak dari sang pencipta. Tapi, aku tak tahu akan berkata apa, teman.

Setelah hari itu, aku dan teman-teman ternyata masih menjadikannya tagar teratas perbincangan di antara kami.

Berhari-hari setelah itu, tetap saja saya belum rela dengan keputusan senior tercinta saya itu untuk menanggalkan jilbabnya hanya gara-gara ideologi barat perayu dunia bernama humanis.

Mengenai alasannya karena lelah melihat fenomena fashion hijab yang menggarang, ingin saya katakan, Hai, Mbak… biarkan saja. Mungkin itu salah satu cara mereka untuk memulai mendekatkan diri kepada pencipta. Suatu hari mereka akan sadar, tapi jalan mana yang akan dipilih, tergantung pengemudi bukan pemilik mobil.

Pikiran saya kemudian bercakap panjang, 

Lalu mengapa kita tak mencoba untuk menjadi salah satu pemeran utama protagonis dalam lingkaran terdekat kita?. Biarkan mereka melihat sendiri jilbab seperti apa yang sesungguhnya benar-benar disyariatkan bukan malah kita yang keluar dari lingkaran jilbab itu sendiri. Terang saja dengan keputusan itu tak mengubah apa pun untuk perempuan penggelut hijab fashion. Belajar humanis? Hai, Mbakku yang kucintai… humanis macam apa yang ingin kau lihat dari manusia. Sosok kemanusiaan seperti apa yang kau harap datang dari onggokan daging berlapis-lapis bernama manusia. Lalu setelah kau temukan jawabannya, apa keadaanmu kini mampu mengubah sikap humanis mereka menjadi lebih baik? Saya sangat yakin jawabannya tidak.

Pada akhirnya saya hanya menyadari status saya sebagai penumpang. Penumpang tetaplah penumpang, ia tak dapat berbuat banyak dalam perkara jalan yang akan dilalui kendaraan yang ditumpanginya. Pengemudi menjadi satu-satunya pemegang kendali. Akan lain ceritanya jika pemilik mobil yang datang dan berbincang dengannya.

Salam ilalang



4 Maret 2017

Mengendap di laptop cukup lama. Sengaja diunggah, siapa tahu bermanfaat. Siapa yang tahu?
Maaf jika kurang berkenan.


cdn.quotesgram.com

Rayanya perayaan hari kemenangan telah ditabuh sejak beberapa hari lalu. Hari ini H-2 lebarang. Bagi mereka yang tengah menyiapkan bentuk kemenangannya, mungkin hal yang mainstream ketika keberadaan euforia hari kemenangan berkumpul di pusat perbelanjaan atau tengah sibuk di rumah, membuat kue lebaran.
Pernahkah dalam riuhnya suasana hari raya itu, kau sempat terpikir tak semua orang merasakan riuhnya perayaannya pada detik menjelangnya? Mungkin tak sempat terpikirkan karena kau sedang sibuk berjejalan memilih baju baru, sibuk mengemas pakaian mudik atau sibuk dengan ulenan kue yang tak kunjung bagus? Tak salah memang, tapi akan lebih baik riuh rendah jelang hari raya juga jadi kesempatan menambah ladang kesyukuran.
Tak semua orang dapat merasakan riuhnya tabuhan hari raya tersebab banyak hal. Seperti datangnya paket kehilangan di suasana menjelang hari raya.
Rumah kami bukanlah yang setiap 17 Agustus selalu memasang bendera Indonesia untuk dikibarkan. Namun Kamis lalu, pertama kalinya rumah kami memasang bendera, tapi bukan merah putih. Bendera itu dikenal orang sebagai lambang kemurungan, lambang duka. Ya, bendera putih. Bagi banyak orang termasuk saya, rumah yang mengibarkan bendera putih itu tak perlu kau tanya alasannya, mereka tengah menerima kado duka dari Pemilik dunia.
Kami tak pernah memesan kado kemurungan di sisa akhir Ramadhan ini. Namun jelas Pemberi nikmat terlampau tahu garis macam apa yang tengah dibuatNya untuk si hamba. Adakah yang meronta? Meminta Pemilik hidup untuk mengembalikannya kepada dunia? Untungnya tak ada hal yang seperti itu. Kami bersyukur dan masih sadar bahwa Pemilih hiduplah yang telah mengaturnya.
Agaknya Allah begitu tahu bahwa masa setelah dunia lebih baik untuknya dan lebih baik untuk yang ditinggalkannya. Tak ada kata seandainya. Kami hanya tahu, takdir Allah begitu rapi dan begitu sulit ditebak.
Allah tahu, ada tempat yang lebih baik bagi sang putri dan tempat itu bukanlah dunia. Mungkin kini Ia tengah terlelap di sebuah ayunan yang diteduhi pohonan rindang? Allah Maha tahu.
Sampai jumpa, Sayang.. belum sempat kami ucapkan selamat datang, perpisahan lebih dahulu menegaskan keberadaannya.
Assalamualaikum…
Untuk nama yang belum sempat dieja: Haula


images7.alphacoders.com

Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan…

Surat ini adalah surat yang aku dan kau tulis di masa lalu di malam Ramadhan yang hampir berakhir. Di kejauhan, terdengar sayup ayat Al-Qur’an dilantunkan. Adakah kau menyapa lembaran-lembarannya hari ini di tengah riuhnya duniamu? Kuharap lisanmu tetap basah olehnya hingga surat ini kau baca.

Ah, ya... Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Bapak dan Ibu? Kuharap semuanya tetap dalam lindungan Allah. Jangan lupa untuk bersyukur!

Kepada diri di masa depan,
Ingin kukatakan padamu bahwa sungguh, di hari ketika kita menulis surat ini, dunia terasa semakin licin saja untuk berjalan. Adakah ia sempat membuatmu tergelincir di masa ini? atau kau kini sudah terlalu sulit untuk menemukan tanah-tanahnya yang tak licin? Kuharap kau tetap dibantuNya berjalan di atas bumiNya yang penuh berkah.

Kepada diri di masa depan,
Ketakutanku saat ini adalah melihatmu tengah memeluk dunia. Pekerjaanmu kini tentulah menjadi seorang pengepul. Iya, bukan? Kau mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya, kan? Bukankah pekerjaan semacam itu dinamakan pengepul? Pengepul harta, bukan? Adakah harta yang kau tumpuk-tumpuk itu membuatmu menjadi manusia paling mulia semulia logam mulia yang kau kenakan? Kurasa tidak.

Ingatlah, diri… Pada akhirnya kau dan aku akan masuk ke perut bumi. Bergunung logam mulia yang kita kumpulkan tak akan lebih mulia dari bacaan Al-Quran yang mungkin telah jarang kita lantunkan. Adakah kini, kita hanya menjadikan kitab mulia itu sebagai pajangan pemanis ruangan? Kuharap aku tidak melihatmu mengangguk dengan pertanyaan itu. Semoga Allah menjagamu dari pekerjaan sia-sia itu.


Kepada diri di masa depan,
Pesanku hanya sedikit. Aku tak tahu seberapa sulitnya hidup di masamu. Tapi sesulit apa pun, hidup bersandar pada dunia adalah kesia-siaan. Cukuplah bersandar kepada pemilik dunia. Cukuplah dunia hanya menjadi perlintasan sesaat kita. Jangan lupa, travel agent kita saat ini akan membawa kita pulang ke rumah asli kita, surga. Jangan kau lupa bahwa itu adalah rumah sejatimu. Karena adam dan hawa sesungguhnya berasal dari surga dan kita pun begitu. Oleh karena itu berusahalah di masamu kini, untuk tidak hanya menjadi pengepul harta dunia tetapi juga harta akhirat. Berusahalah untuk menambah bekal kita yang terbaik di masamu agar kunci rumah kita tak tertukar di akhirat kelak. Semoga Allah meridhoi usaha kita. Aamiin

Ah, iya… Apa kau sudah menikah? ^_^

Tema hari keenam ini cukup baper. Saya curiga, jangan-jangan tema ini bener-bener dikeluarin momon KF dari hati yang terdalam. Haha...
Anggap saja, tantangan hari keenam ini sebagai prosesi berbenah diri.

#Day6 
"3 alasan mengapa kamu pantas mendapatkan pasangan hidup yang baik"

albugisy-24.blogspot.co.id

Alasan pertama, karena saya, Insyaallah masuk dalam daftar manusia baik yang masih tinggal di bumi. Hehe.. Kategori ini tak perlu mendapat penjelasan lebih lanjut.

Alasan kedua, karena hingga hari ini saya sedang mengumpulkan tabungan kebaikan. Sebagian pundi-pundi tabungan itu pada waktunya akan terkonversi dengan calon imam masa depan saya (insyaallah sholeh, aamiin). Doa, doa!

Alasan ketiga, karena saya mahasiswa FKIP Halah… Eits, benerr! Mahasiswa FKIP itu, adalah pasangan hidup paling idaman, Insyaallah. Gak percaya? Tanya aja Ibu kalian? Sekolah pertama bagi seorang anak adalah dari Ibu. Oleh karena itu, pendidikan pertama akan berasal dari rumah dan kontribusi seorang Ibu sangat dibutuhkan. Urusan didik-mendidik, percayakan saja ke anak FKIP. hehehe...

Itu saja cukup sepertinya.
Perihal pasangan hidup, sebenarnya si calon imam kita kelak tak akan jauh-jauh dari bagaimana kita saat ini. Jadi, mari kita terus berbenah diri dan berdoa! Semoga dengan cara itu, kita mendapat pendamping hidup yang shalih/shalihah. Aamiin..


#Day6
#7DaysKF


griyaquran.org

Dalam waktu dekat ini, terus terang saja saya tidak ingin menemui siapa-siapa. Hari-hari Ramadhan penuh berkah ini sudah lebih dari cukup untuk didatangi oleh tugas-tugas kampus yang datang tanpa permisi. Saya merasa malu kepada pemilik Ramadhan. Seringkali tugas-tugas kampus itu saya jadikan amalan harian di bulan rahmat ini. Optimisme Ramadhan di awal-awal serta merta terasa digerus oleh aktivitas-aktivitas keduniaan saya. Meski memang, saya jelas tak berdosa karena mengerjakan tugas-tugas itu. Tapi tetap saja, ada semarak yang kian redup yang saya rasakan di hari-hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.
Namun selama hari-hari ramadhan belum usai, jelas ghirah kita untuk berlomba menulis kebaikan tidak bisa surut begitu saja. Jadi, bolehlah kalau saya dalam waktu dekat sangat ingin bertemu dengan Lailatul Qadar. Ia bukan hanya satu dari sekian banyak hari di bulan Ramadhan. Ia telah menjelma sebagai seorang tamu agung. Ia akan bertamu kepada manusia-manusia terpilih. Yakni mereka yang benar-benar menantikan kedatangannya. Mereka yang tiada putus mengingat Rabbnya dan istiqomah berjuang menulis kebaikan-kebaikan di bulan ini. Saya pun ingin menjadi satu dari sekian banyak yang terpilih didatangi oleh tamu agung ini. Dapatkah kita berjumpa?
#Day5
#7DaysKF
www.dw.com


Pernahkah kalian melakukan hal bodoh di depan orang-orang penting? Semisal Wakil Dekan, misalnya? Ehm, saya ternyata sempat melakukannya dengan 'tanpa sengaja' tentunya.
Hari itu saya pergi bersama seorang teman satu UKM untuk meliput sebuah acara di kampus (saya mengikuti organisasi pers mahasiswa di kampus). Narasumber kami saat itu adalah Pak Dut (bukan nama asli) dan itu selesai tanpa hambatan. Awalnya kami ingin mencukupkan hasil wawancara Pak Dut tersebut dan menggenapi berita yang akan kami tulis nanti dengan narasumber dari mahasiswa. Tetapi, Pak Dut menyarankan kami untuk mewawancarai Pak Samsul (bukan nama asli).
Kami akhirnya pergi menemui Pak Samsul yang ketika itu berdiri di depan ruangannya seperti mencari-cari seseorang. Saya lalu mengatakan padanya bahwa kami ingin melakukan wawancara mengenai kegiatan tersebut. Dengan logat khas daerahnya—yang bagi kebanyakan orang terkesan bernada keras— ia mengatakan baru ada waktu besok. Ia lalu masuk ke dalam ruangannya namun kami tetap membuntutinya sambil meminta kembali untuk meluangkan waktunya mendengarkan pertanyaan kami. Ia duduk menghadap kertas-kertas di atas mejanya sambil mencoret sana-sini. Yang jelas sih, kertas-kertas di atas meja itu terlihat lebih penting dari wajah dua mahasiswi yang saat itu ada berdiri di hadapan beliau.
Tak diduga akhirnya Pak Samsul menerima kami meskipun dengan jawaban ketus dan menanyakan kepada kami apa yang ingin ditanyakan. Saya langsung mengambil handphone yang tadi saya pinjam dari teman untuk merekam suara indah Pak Samsul. Di sinilah awal mulanya. Sebut saja namanya Bu Uri (bukan nama asli). Bu Uri tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu dan langsung berbincang dengan Pak Samsul. Kami diberi kacang ketika itu. Eh, maksudnya dikacangin.. 
Ketika mengajukan pertanyaan di awal, sambil masih menghadap kertas-kertas yang bertumpuk di mejanya, Pak Samsul menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Akan tetapi saya tak terlalu serius memerhatikan jawabannya ketika itu. Hal itu karena saya ingin merekam suara indah Pak Samsul dengan handphone pinjaman itu. Tapi, itulah awal mula kisah memalukan ini. Saya lupa kode akses handphone yang saya genggam itu apa. Akhirnya saya lebih serius memerhatikan itu handphone daripada si Bapak. Maaf, Pak. 
Belum selesai dengan main coba-coba kode di handphone itu, eh, Pak Samsul udah selesai ngomong. Teman saya yang ada tepat berada di samping saya tidak menunjukkan gerak gerik untuk menanggapi jawaban dari si Bapak. Meski saya tidak tahu akan bertanya apa. Akhirnya mulut saya berbicara sendiri mengeluarkan sebuah pertanyaan kepada Pak Samsul. Aduh mama sayange, tiba-tiba saja Bu Uri berwajah aneh sambil memandang saya. Saya bermuka polos saja. Emang ada yang salah dengan pertanyaan saya? (saya lupa pertanyaan saya apa ketika itu).
"Kan tadi sudah dijawab, eehh.. eehh.. Gimana sih! Kamu ngerti gak sih sama apa yang kamu tanyakan itu?" Jleb… Aduh... emang tadi nanya apaan?
"Ya, bu! Maksud saya...," entah saya menjawab apa saat itu. Sembari berpikir, eh, iya,ya! Saya langsung konek kalau pertanyaan yang saya ajukan itu sudah terjawab di kalimat Pak Samsul tadi. Aduh.. Malunya pakai banget!!! Bukan apa-apa. Masalahnya, Bu Uri itu, orangnya seingat saya sering cerita-cerita ke banyak orang. Halaaah…
Ada saat dimana kita merasa begitu bodohnya di hadapan seseorang. Dan hari itu saya melakukannya. Tapi bukan di hadapan seseorang, Dua orang + teman saya jadinya tiga orang. Nasib, nasib! Sabar, Nak! Lain kali kalau mau liputan, pecahkan saja handphonenya, biar ramai! Sabaaar, sabar! Di saat seperti itu, saya merasa ingin lari ke hutan. Tapi saya lupa ternyata tidak ada hutan terdekat di kampus ini.
Entah pada detik keberapa saya akhirnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Sepanjang jalan, saya merutuki diri karena lebih memilih mengurusi alat elektronik yang pada akhirnya tidak banyak membantu saya. Sejak hari itu, saya SANGAT berharap tidak dipertemukan dengan kedua orang penting tersebut dalam waktu dekat.
Hal pertama yang ingin saya lakukan saat itu adalah pakai masker. Halah... Hari itu saya benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh sekampus. Pikiran saya berkelana ke hari-hari selanjutnya. Setiap hari saya harus melewati dua ruangan orang penting itu ketika akan kuliah. Luar biasa!
Tapi, untungnya itu sudah berlalu. Lumayanlah kejadian itu membuat saya belajar. Hehe… Biar di kemudian hari ketika bertemu dengan orang-orang penting lainnya saya tak seperti itu lagi. Jika bertemu dengan Bu Uri, saya masih saja mengingat kembali kejadian memalukan itu. Sudah, itu saja!
Terima kasih sudah mau membaca.
#Day4
#7DayKF
image.freepik.com

Agaknya saya tidak termasuk manusia yang memiliki kemampuan mengingat super lama. Tidak banyak hal-hal yang saya ingat di masa lalu. Ini benar, saudara! Seringkali kemampuan mengingat saya ini terasa menyedihkan ketika seharusnya ia dibutuhkan untuk keluar dari otak. Oleh sebab itulah, tantangan ini membuat saya cukup berpikir keras untuk mengingat rasa kehilangan apa yang telah saya alami hingga saat ini.
Ini mengenai teman terdekat saya. Saya berjumpa pertama kali dengannya kalau tak salah pada hari terakhir Ujian Nasional di Madrasah Aliyah (MA) dulu. Ketika itu Bapak menemani saya berkeliling ke deretan toko-toko di sekitar jalan Sriwijaya, Mataram. Singkat cerita, akhirnya setelah pertemuan singkat di toko itu kami mengajaknya pulang untuk tinggal di rumah. Ia hanya diam dan menurut saja diajak ke rumah.
Sejak hari itu saya menjadi sahabat setianya. Hampir setiap hari saya bersamanya ke kampus. Kami sering mengerjakan tugas bersama. Terhitung jalinan persahabatan kami sudah dua tahun lebih.
Ia adalah sosok teman yang luar biasa. Tiada satu pun teman yang sebaik dirinya. Terkadang ketika tugas kampus dan tugas lainnya mulai menumpuk untuk dikerjakan, Ia dengan senang hati membantu untuk menyelesaikannya. Saya mencintainya seperti saudara saya sendiri. Bentuk cinta saya adalah memanfaatkan kemampuannya untuk membantu saya mengerjakan berbagai tugas. Tolong jangan hakimi saya bahwa saya memanfaatkan pertemanan kami. Jangan hakimi saya bahwa saya adalah teman yang tak tahu diri. Please! Jangan hakimi saya hingga kalian membaca tulisan ini hingga selesai.
Hari itu entah hari apa. Saya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Saya di kampus ketika itu dan hari telah sore. Saya belum menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan hari itu. Entah bagaimana kejadian detilnya, tapi ketika itu saya berjalan bersamanya dan tak sengaja tangan saya melepaskannya. Ia pun jatuh begitu saja di antara rerumputan basah belakang gedung B kampus. Tak ada tangisan yang keluar darinya sedikitpun.
Saat itu, ada jeda di antara helaan nafas dan ketakpercayaan saya atas apa yang terjadi. Semacam efek slow motion gitu! Detik-detik berlalu dan pada detik keberapa, saya disadarkan oleh beberapa teman yang ada di TKP. Nama saya diteriakinya. Raut wajah saya entah seperti apa saat itu.
Sesegera mungkin saya memeluknya. Lama sekali saya memeluknya hingga saya memberanikan diri untuk mengecek apakah ia terluka atau tidak. Saya takut. Jantung saya berdegup terlalu kencang. Pikiran saya berkeliar tak di sana. Bagaimana keadaannya? Bagaimana jika ia terluka? Lalu, bagaimana jika Bapak tahu? Bagaimana jika ia marah? dan banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lain.
Hari itu ternyata saya lewati tanpa pikiran-pikiran buruk itu. Bapak tidak marah tapi ada bekas luka pada wajah sisi kanannya. Beberapa bagian tubuhnya lecet dan itu sangat menyesakkan. Bapak memang tidak marah tetapi ia sempat bertanya untuk membawanya berobat. Pengobatan untuknya pun akhirnya tak pernah jadi saya lakukan karena ia tak pernah menangis sejak awal ia tinggal di sini. Pun hingga insiden itu terjadi ia tetap tak mengeluarkan tangis. Saya memang tak heran atas itu. Akhirnya keadaannya tetap seperti itu hingga beberapa bulan selanjutnya.
Perjumpaan pasti berakhir dengan perpisahan dan itu yang terjadi pada persahabatan kami. Saya mengikhlaskannya untuk dibawa pergi. Ini demi kebaikannya dan kebaikan saya juga. Di tempat barunya ia akan diperbaiki dan menjalani hidup bersama teman barunya. Pun juga saya, mendapat penggantinya dan menjalani hidup dengannya seperti bagaimana ia dahulu. Meski jelas, teman baru ini tidak sespesial dirinya.
Ah iya, dari tadi saya belum memperkenalkan namanya pada kalian. Tentu kalian tahu siapa yang saya ceritakan ini. Namanya Asus. Kini ia telah pergi dengan teman barunya. Selamat tinggal, Asus! Semoga kau tetap menyebar kebaikan di tempat barumu.

Tuntas!
#7DaysKF
#Day3

Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi topik hari kedua ini. Saya bukanlah manusia yang cukup naturalis, tapi manusia pada dasarnya punya naluri mencintai dengan sesama makhluk sekalipun itu binatang. Baiklah saya mulai dengan binatang yang cukup terkenal ini.

1.      Gajah
situstulus.com

Binatang ini cukup terkenal meski di Indonesia sendiri, kebun binatang tidak selalu hadir pada setiap daerah sebagai salah satu tempat untuk mengetahui rupa gajah seperti apa. Hingga saat ini, saya adalah salah satu warga negara Indonesia yang belum ke kebun binatang dan tentu saja belum pernah melihat gajah dengan mata telanjang. Meskipun begitu, saya tentu tahu rupa gajah seperti apa. Berkat para pedagang poster-poster murah yang dijual di emperan toko dekat pasar, saya tahu hal itu. Biasanya Bapak membelikannya untuk kami, anak-anaknya di rumah. Itu dulu, sekarang teknologi telah menjawab lebih dari sekadar rupa gajah seperti apa.
Mengapa binatang ini ingin dipelihara? Hal itu tersebab novel yang ditulis Agatha Christie, Elephants Can Remember. Saya tidak begitu mengingat novel itu berkisah seperti apa, yang saya ingat adalah novel itu memberitahu saya bahwa gajah adalah binatang dengan kekuatan memori yang sangat baik. Ia akan mengingat wajah manusia yang pernah menolongya pun juga ia akan mengingat sesiapa yang pernah menyakitinya. Itulah kenapa saya ingin memelihara gajah. Tersebab saya ingin sepertinya, memiliki kekuatan mengingat yang luar biasa. Hingga saat ini saya setia menggunakan nama Gajah sebagai nama disk di laptop saya. Hehe

2.      Lebah
animalli.com

Agaknya semua orang tahu bahwa kenikmatan madu yang kita rasakan di saat ini jelas berasal dari binatang ini. Salahsatu binatang yang disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah lebah. Mengapa? Dek gugel sepertinya punya jawaban pastinya. Filosofi lebah adalah yang termasuk menarik untuk kita renungkan. Lebah hanya memakan hal-hal yang baik untuk kebutuhannya. Lihat saja bagaimana ia mencari bunga-bunga yang tengah bermekaran, disanalah ia akan singgah dan menyeruput nektar bunga. Dari lebah kita tentu bisa bercermin bahwa ikhtiar dengan cara yang baik, hasilnya akan baik pula. Madu jelas enak, Nak! Jadi bersyukurlah! Selalu ingat bahwa madu yang kita makan adalah bentuk ikhtiar lebah. Cie cie yang peternak lebah! Hahaha…

3.      Kuda
static.wixstatic.com


Bagi saya, kuda termasuk kategori binatang yang cukup elegan. Aseeekk! Iya, beneran! Kayaknya keren gitu kalau lihat atlet-atlet  penunggang kuda di teve. Mungkin olehraga yang disunnahkan Rasulullah ini bisa mengangkat derajat ketinggibadanan saya. Paling tidak di antara teman-teman kampus yang sepertinya bernasib sama dengan saya, kurang tinggi (bukan pendek, ya!). Ada yang minat pelihara kuda?

4.      Kupu-kupu
https://suharni101.files.wordpress.com/

Kebayang gak sih kalau kita punya peliharaan binatang yang satu ini. Pasti tiap hari ngerasa jadi orang paling bahagia. Meski kupu-kupu seingat saya punya usia yang relatif singkat tetapi memelihara kupu-kupu adalah hal yang menarik. Bayangkan saja, ketika bangun tidur dan membuka jendela kamar hal yang pertama kita lihat adalah kupu-kupu beraneka macam yang terbang berkeliaran di taman impian. Ciee.. Hidup kita udah kayak putri-putri Disneyland, kali? Adegan selanjutnya kupu-kupu itu hinggap di tangan kita dan mengajak kita menghabiskan hari untuk menari. Lalu sang pangeran datang dan mengajak kita kembali menari. Moga aja pinggangnya kagak encok!

5.      Burung Hantu
images.pottermore.com

Binatang ini terpilih sebagai bentuk kekaguman saya atas binatang ini. Harry Potter banyak menghegemoni saya untuk binatang ini. Haha… Saya membayangkan burung hantu saya berwarna putih, persis seperti Hedwig, burung hantu milik Harry. Tapi karena nama Hedwig sangat kebarat-baratan, jadi saya ingin menamakannya Samsul. Biar gampang diingat dan jadi terkenal. Tak perlu ribet kirim lewat pos, tinggal panggil Samsul dan kirim ke alamat yang dituju. Asik kan? Ih.. katro' banget ngirim surat pake burung! Weeesss… yang kayak beginian sekarang yang sulit dicari. Klasik itu lebih berkelas, Nak! Jadi, jadilah manusia klasik. Hahaha…

Saya gak bisa ngebayangin bagaimana seandainya kelima binatang ini benar-benar saya pelihara. Sepertinya di masa depan saya akan membangun kebun binatang dengan konsep yang luar biasa. Haha..
Tuntas!
#7DaysKF
#Day2
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ▼  2017 (16)
    • ▼  Desember (1)
      • Kembali Pulang; Catatan Akhir Mahasiswa PPL
    • ►  Juli (2)
      • Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Penumpang (Jilid...
      • Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Penumpang (Jilid I)
    • ►  Juni (8)
      • Kepada Haula; Untuk Sebuah Nama yang Belum Sempat ...
      • Kepada Diri di Masa Depan
      • Seberapa Pantas
      • Dapatkah Kita Berjumpa?
      • Malu di Masa Lalu
      • Perpisahan: Perjumpaan Kita yang Telah Usai
      • Kisah 5 Binatang
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes