Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus


Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan

Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibunyikan
Disana berbaris, jejak hati-hati kami yang nanar
Mengurai sepi yang sedari tadi tak kunjung henti

Petang kemarin, waktu menyisipkan ingatannya kepada kami
perihal gadis kecil yang begitu kami kenali
Kini kami menyaksikannya mendewasa bersama waktu
Ia dan keberanian telah bersepakat untuk menjatuhkan pilihan membangun keluarga kecil bersama seorang lelaki shalih pilihannya.

Petang kemarin pula, lelaki dengan janggut dan rambut yang telah banyak memutih itu menatap jauh ke lepas langit
Seperti ditatapnya serdadu-serdadu malaikat yang turun kala itu menyaksikan perpindahan sebuah tanggungjawab
Dari pundak lelahnya, ke pundak seorang lelaki yang telah dipilih gadis kecilnya itu. (Aamiin)

###

Senja di ladang jagung usai acara | Jumat Mubarok | Gerung, 06/09/19

Itu kali kedua, saya harus rela dan ikhlas melepas kepergian seorang saudari untuk menjalani kehidupan barunya. Menjadi adik terkecil, ternyata begitu menyesakkan, Saudara! Kau menjadi makhluk kecil terakhir yang berkali-kali merasakan kehilangan dalam jalinan saudara perempuan to'.

Hal yang Saya sadari ketika petang kemarin dan waktu setelahnya adalah, Saya berada di situasi mental yang lebih tenang dari pengalaman pertama ditinggal saudari pertama Saya. Saya menulis ini dengan perasaan yang tak keruan ternyata.

Ada banyak hal yang selanjutnya saya tak tahu harus disikapi dengan cara bagaimana. Kini, Bapak, Ibu, pasti akan merasa cukup hening berada di rumah sendiri (meski Ubay setiap minggu bermain ke sini). Sebab anak-anaknya telah pergi ke kehidupan yang baru. Memang akan ada saatnya, semua menjadi tua dan akan mengalami masa-masa sepi. Ditinggal anak untuk menjalani kehidupan mereka yang baru. Sunnatullah...

Bukankah Bapak dan Ibu telah menyelesaikan tugasnya? Bukankah telah rampung tugas orangtua sampai Ia mengantarkan anaknya kepada anak tangga pernikahan? Benar sekali. Hingga kini pun Bapak dan Ibu masih punya satu tanggungjawab lagi. Iya, putri kecilnya yang terakhir belum tiba di tahap itu. Ia masih bersemedi untuk belajar mendewasakan diri.

###

Saya seringkali terbawa suasana ketika seseorang telah sampai pada titik seperti ini, kepala saya berkeliar menjelajahi lini-lini kehidupan dengan triliunan nikmat Allah SWT. yang melingkupi mereka yang sedang berbahagia. Saya, dipastikan lebih banyak menangis dan menjadi seorang pemurung, tampaknya.

Kepada Bapak dan Ibu,
Saya ingin mengingati waktu-waktu yang lalu ketika kami masih bisa dipangku dan dibuai. Ada perasaan haru yang terlalu ketika waktunya tiba untuk saling berpisah.
Seperti saat ini. Saya tak tahu sesepi apa rumah kami esok setelah Saya kembali ke pondok dan Ubay pulang bersama Najma, Abi dan Uminya. Saya bahkan tak berani bertanya kepada Bapak dan Ibu mengenai kesepian macam apa yang mereka rasakan saat ini dan mungkin waktu-waktu ke depan. Mereka pun tampaknya tak tahu akan menjajal kata-kata apa untuk mendeskripsikan kesepian mereka kepada saya.

Kepada Kami, yang Bersuka Sekaligus Berduka...
Mungkin perlu waktu bagi kami untuk perlahan menata hati, mengikhlaskan tiap-tiap takdir Allah yang terjadi. Dukacita sekaligus sukacita di satu waktu itu, bukan hanya karena meninggalnya tetangga kami (Pak Seneng) yang dimandikan oleh Bapak kemarin pagi (Beliau orang yang begitu baik. Semoga beliau dilapangkan kuburnya oleh Allah SWT.), tetapi juga karena kepergian seorang gadis kecil yang dahulu selalu bersama kami dan kini mulai mengarungi kehidupan dunia yang fana ini bersama imamnya, Insyaallah hingga akhir hayatnya nanti. Aamiin.

Tidak ada yang lebih tabah daripada waktu.
Dituangkannya air mata pada seberkas sendu
Diluangkannya tawa pada secangkir madu
Tak ada yang lebih tabah daripada waktu
Disimpannya keping-keping kenangan untuk kemudian dibuka di ruang-ruang rindu

Teriring salam dan doa bagi Via dan Kak Ardi atas pernikahannya. Mulai saat ini, lepaslah satu temali tanggungjawab yang dibebankan di pundak Bapak. Semoga berkah mengiringi kalian berdua.



Pasca Ujian

Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lalu (17/01). Hari itu hari yang melelahkan bagi saya karena kembali ke rumah di sore hari ketika kantuk siang telah lewat dan saya belum menyelesaikan ppt untuk ujian skripsi besok (19/01). Cukup mengesalkan sebenarnya mengapa jadwal debat perdana ini dilaksanakan pada Kamis malam ketika keesokan harinya saya harus bertempur bersama skripsi dengan empat sks yang terasa melebihi bebannya itu. Mau kecewa tapi rasanya sudah lelah. Ya sudah!
Saya tak bisa menghindari kilatan mata dan dengungan telinga yang menyeret-nyeret langkah ke depan tivi. Terang saja, ruangan tivi berada dekat dengan tempat saya bersemedi membangun persiapan tempur. Suara tengik pendukung grasa-grusu itu mau tidak mau seperti setan bermata merah yang pelan tapi pasti menggoda saya untuk tergiur dengan peristiwa yang sudah barang tentu jadi TTI di pertwitteran. Karena membahas tema Terorisme, saya merasa tak perlu belajar dan hanya perlu duduk saja di depan tivi untuk menonton debat karena pertanyaan yang akan muncul di sidang skripsi besok tak akan jauh-jauh dari pembahasan debat ini, khayal saya! Helleh...
Sebenarnya, saya malas mengikuti acara debat tersebut namun telinga saya menjadi yang pertama membangkang keinginan itu disusul mata dan akhirnya kaki yang mengharuskan seluruh anggota badan melesat ke depan tivi. Mondar-mandir tivi dan laptop, saya pun akhirnya tak menyelesaikan debat yang penuh kekecewaan itu juga tak menyelesaikan slide-slide ppt untuk sidang. Saya tertidur usai Kyai Ma’ruf membahas terorisme dan terbangun pada dini hari sekitar pukul satu seperempat lalu menyadari bahwa saya belum menuntaskan slide-slide ppt untuk sidang skripsi.
Jumat (18/01), saya menghadapi satu tahap krusial dalam perjalanan pendidikan strata satu. Yoai, sidang skripsi! Itu adalah hari pendek usai penundaan jadwal sidang yang mengambil waktu yang cukup panjang, satu minggu ke belakang. Parahnya, batas jadwal sidang skripsi terakhir adalah hari Sabtu (19/01) lalu. Mau bagaimana lagi, saya sudah bolak-balik menanyakan jadwal ke tiga dosen ketjeh. Walhasil, semuanya sepakat mengiyakan untuk menguji di hari barokah itu. Walhasil pula, Pak Burhan tidak saya dapati di hari penting itu, pun pada hari-hari setelahnya hingga hari ini, Senin (21/01). Beliau tak membalas chat maupun sms saya. Huhu.. Jarang sekali beliau tak membalas chat mahasiswa yang tak pernah bosan sekadar bertanya bapak ke kampus kah? Atau seperti saya yang mengingatkan jadwal sidang skripsi.
Berbeda dengan saat ujian proposal skripsi kemarin, kali ini saya tak menunggu lama kehadiran para dosen ketjeh. Pak Imam menjadi yang pertama hadir, beliau memang selalu on time meski dengan kondisi kesehatan yang seringkali membuat mahasiswa merasa kalah semangat dengan beliau. Maasyaallah… barakallahu fii umrik. Saya menunggu di luar dan meninggalkan Pak Imam duduk sendiri di dalam sembari menunggu dosen lainnya datang. Tak sampai lima menit saya kira, Pak Sir berjalan masuk ke ruangan hampa udara itu sampil mengapit bundelan skripsi saya yang tidak setebal make-up kamu, iya kamu!
Sejurus kemudian, Pak Sir sudah akan masuk ke ruang 4 (ruang tempat saya sidang skripsi) sambil melihat ke arah saya. Saya katakan bahwa Pak Burhan belum datang. Beliau pun membawa kabar mengenai Pak Burhan yang tidak dapat hadir karena harus pulang ke Sumbawa lalu memberi kode untuk meminta saya segera masuk ruangan dan memulai sidang. Baiklah, dua anak cukup. Eh, dua dosen cukup maksudnya! Heleeh…
Saya pun akhirnya kembali berada di ruangan yang sama ketika ujian proposal beberapa waktu lalu. Sengaja saya pilih karena satu-satunya yang memiliki jendela dan terasa cukup lapang dibanding kan ruangan lain. Beruntungnya, tak ada jadwal ujian di pagi itu. Jadi, suasana beranda ruang ujian cukup tenang. Saya memerhatikan wajah orang-orang di luar ruang 4 yang perlahan menghilang seiring dengan gerakan tangan saya yang menutup pintu ruangan. Pukul sembilan lewat beberapa menit.
Saya duduk dengan komat-kamit bermacam-macam rupa yang bermakna satu, meminta Allah SWT memberikan ketenangan kepada saya untuk mengatasi problematika yang sedang dan akan saya hadapi kala itu. Pak Imam yang berada di seberang meja-tepat di hadapan saya, akhirnya menyilakan saya memaparkan hasil penelitian skripsi saya setelah sebelumnya sempat memberikan prolog yang mengaitkan skripsi saya dengan debat tadi malam. Huhu.. Saya tak selesai menonton, Pak!
Sekitar sepuluh sampai lima belas menit sepertinya saya cuap-cuap di hadapan dua dosen tertjinta. Sampai hari ini, saya belum bisa move on dari penelitian skripsi saya yang membahas mengenai isu terorisme. Kebetulan tema debat capres dan cawapres pertama kemarin membahas mengenai terorisme, saya kira elektabilitas skripsi saya ketika diujikan H+beberapa jam usai debat itu cukup tinggi karena tidak termakan usia alias relevan dengan perkembangan saat ini. Terlalu yakin, Anda, buk! 😅
Singkat cerita, akhirnya saya keluar ruangan dan menemukan beberapa wajah mujahidah yang saya kenal disana. Sekitar dua sampai tiga menit para dosen berdiskusi di dalam, saya duduk dengan perasaan khawatir bukan karena tegang yang terbawa dari dalam, namun karena usai sidang itu, saya harus jor-joran mengejar kelengkapan berkas-berkas yudisium yang sudah mepet. Belum lagi nilai ujian yang hingga Kamis (25/01) ini yangvternyata belum keluar karena alasan yang complicated. Heuh… saya harus memikirkan pula jadwal ujian di Pak Burhan yang belum dilaksanakan, dan segelumit keruwetan lainnya demi mendaftar yudisium. Situasi ini sebenarnya cukup menyebalkan bagi saya. Bukan apa-apa, beberapa kebijakan terkadang terasa terlalu menguras ongkos untuk ukuran seorang mahasiswa (padahal sejatinya bisa dihemat) hehe... Tanya saja keruwetannya pada mujahid/mujahidah yang lalu-lalang dan tampak (lebih sering) berjalan cepat di barisan mujahidah peralihan pascaskripsi.
Sekarang, disinilah saya akhirnya berada. Fase di saat mujahidah skripsi naik satu kelas ke tahap mujahidah peralihan pascaskripsi. Heleh… Ini dia, fase yang dinamakan fase krebi petty-keribetan bersama lembaran, ttd, dan stempel yang tiada henti, fase urus-mengurus yang mesti diurus.
Sudahlah, mari berdoa saja semoga Allah yang maha pemberi kemudahan, memudahkan urusan saya dan Anda sekalian, pembaca...

Pena Blog: Newsletter LPM Pena Kampus Edisi 103
Selamat Membaca! Jangan lupa untuk memberikan komentar terkait terbitan ini, ya! Pembaca yang baik adalah yang meninggalkan komentar atas ...
Sambung Ayat Masyita Dan Syekh M Taha Al Junaid



Masyaallah...
Betapa Al-Qur'an adalah gerbang segala pinta. Adakah yang kecewa ketika seseorang membaca kumpulan ayat kudus itu? Sungguh Allah telah menjamin hal itu. Tidak ada yang akan kecewa karenanya. Sebab Al-Qur'an bukanlah teks, ia adalah kalam, perkataan Allah. Betapa agung untaian kalam yang kita baca di tiap selesai maghrib kita?

Maka, Adakah keinginan kita yang masih belum terwujud, kawan?? Tentunya banyak.
Mungkin keinginan itu keliru kita alamatkan,
Mungkin keinginan itu belum kita masukkan ke dalam ruang kudus bernama doa,
Mungkin pula doa yang kita panjatkan masih dipenuhi niat-niat selain-Nya,
Mungkin pula dosa-dosa kita yang menjadi sebab doa kita belum dijawab Allah,
Namun Allah adalah sebaik-baik pendengar. Betapa kuasa Ia mengabulkan segala pinta.
Rabbi... Maafkan kami...

Seberapa besar sih permintaan hamba yang lemah seperti kita ini di hadapan Allah SWT.?
Rabbi mudahkan setiap urusan kami...
Laa haula walaa quwwata illa billah...
#Allahummarhamna bil Qur'an...
https://pexels.com

Saya akhirnya tiba, pada masa-masa krusial seorang mahasiswa. Ketika bersua dan bercakap santai bersama teman di kampus menjadi hal yang sangat jarang bahkan mungkin sudah tidak bisa terulang lagi, Ketika melangkahkah kaki seorang diri di sudut-sudut kampus sebagaimana biasa malah terasa begitu canggung. Bahkan satu per satu teman mulai menghilang dari peradaban, entah kemana.

Saya mungkin terkena culture shock atas apa yang saya hadapi pada tingkat ini. Akan tetapi, rasa-rasanya tidak. Sejak berada pada semester genap ini, entah mengapa saya seringkali menghindari pergi ke kampus jika tidak ada urusan yang benar-benar perlu, seperti kegiatan di organisasi atau mengurusi ‘hal yang satu ini’ (skripsweet).

Perasaan-perasaan itu menguatkan dugaan bahwa saya terkena sindrom lazieae (saya menamakannya begitu). Sindrom ini adalah gejala akut yang diderita mahasiswa tingkat akhir sehingga merasa nyaman pada posisi atau aktivitas yang tidak menguras energinya seperti makan, minum, menonton televisi, berdiam diri, dan aktivitas keseharian yang sudah biasa dilakukan.

Taken by me
(View Belakang Auditorium seusai dari UPT Perpustakaan Menuju Kampus)

Pada awal-awal semester lalu, saya rasanya ingin sekali menikmati masa-masa akhir kehidupan kampus dengan tidak memedulikan selebaran oral berupa intervensi sosial dadakan dari masyarakat kampus. Setiap hari bahkan setiap waktu mahasiswa yang menyemat identitas sebagai ‘mahasiswa akhir’ berada pada deretan stasiun tersibuk itu (depan ruang dosen).

Pada minggu awal kepulangan KKN, saya masih bisa menyapa banyak teman yang sibuk mengurusi kelengkapan laporan KKN seperti yang saya lakukan, tapi beberapa sudah terprediksi sibuk mengurusi ‘hal yang satu itu’. Berselang pada minggu-minggu selanjutnya, saya akhirnya memilih pergi, menjauh dari keriuhan yang terasa menyibukkan itu. Jujur saja, bukan hanya bosan mendengar selebaran-selebaran oral yang tiada henti dari jiwa peralihan mahasiswa KKN ke mahasiswa skripsiyyun, tetapi keputusan untuk menjauh itu lebih kepada bentuk memurnikan hati agar niat skripsi tidak terkontaminasi oleh alasan akselerasi masa kuliah.

Sungguh, saya bukan tak bahagia dengan teman-teman yang telah melangkah jauh dibandingkan dengan saya. Saya hanya ingin melintasi alam perkuliahan ini lewat jalur lambat bypass yang berada di sisi kiri. Jalur yang memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin menikmati perjalanan untuk sampai ke tujuan dengan tidak terburu waktu. Sesederhana itu alasannya.

http://mpggw.com

Sebenarnya tidak jadi soal memilih jalur cepat atau jalur lambat. Esensi berkendara bukan di tahap cepat atau lambat. Jika seseorang memegang prinsip Moto GP, maka ia mutlak akan melintasi lintasan secepat mungkin. Mengapa? Karena dalam pertandingan Moto GP, mereka yang tercepat menyelesaikan lintasanlah yang memenangkan pertandingan, dan sisanya adalah Runner up.

Lalu, apakah mereka yang beralibi ingin menikmati suasana kampus di tahun-tahun terakhir adalah seorang Runner up? Jelas iya jika kita meminta pendapat Marquez atau Pedrosa. Akan lain jawabannya jika kita memandang proses meraih remah-remah ilmu dalam bangku kuliah sebagai sebuah perjalanan yang harus dinikmati. Lantas, apakah mereka yang memilih jalur cepat tidak menikmati perjalanannya? Kita tidak bisa mengatakan hal itu sepenuhnya benar. Sebab tidak semua orang yang memilih jalur cepat tidak menikmati perjalanan mereka, bukan?

Setiap orang adalah pemenang untuk pertandingan yang mereka buat sendiri. Jika kita memetaforakan dimensi perkuliahan sebagai lintasan balapan maka kita telah meniatkan diri untuk menjadi seorang pembalap. Bukankah orientasi seorang pembalap adalah menjadi pemenang? Untuk menjadi pemenang balapan bukan perkara mudah, ketangguhan untuk melewati setiap pembalap lain (meski mungkin mereka tak merasa ikut balapan, sebenarnya) dan mencapai finish dengan cepat.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah Benarkah dunia kampus menyediakan lintasan balapan itu? Saya belum pernah menemukannya secara kasatmata, namun secara mental seringkali iya. Akan selalu saja ada beberapa dosen atau mahasiswa yang menyetel mode ‘balapan’ dalam dunia kampus yang getir ini. Sebaliknya, akan selalu ada mahasiswa atau pun dosen yang sungguh-sungguh tak mengenal mode ‘balapan’. Hidup ini selalu indah, kawan. Ada penikmat minuman manis macam teh tapi ada pula yang lebih memilih menyeruput minuman pahit semacam kopi. Sesederhana itu.

Lantas, jika ada pertanyaan apakah memilih jalur cepat dalam menyelesaikan prosesi akademik seorang mahasiswa adalah sebuah pilihan yang tepat? Maka jawabannya hanya bisa dijawab oleh diri sendiri. Cepat atau lambat itu nisbi. Sebagaimana kita bertanya, apakah lebih baik saya segera menghabiskan minuman ini atau menikmati setiap tegukannya dengan perlahan? Jawabannya sungguh nisbi. Tergantung pada situasi dan kondisi seperti apa yang mengharuskan kita untuk menyegerakan atau menikmatinya dengan perlahan.

Akan selalu ada dua jawaban, ya atau tidak. Dua jawaban yang kemudian tidak lantas diasumsikan sebagai jawaban benar dan salah. Tidak ada jawaban yang salah dalam pertanyaan essay, yang ada hanya jawaban yang keliru dan kurang tepat. Itu pun sangat bergantung kepada siapa yang menilainya.

Pada akhirnya, tak ada pernyataan ‘cepat lulus’ atau ‘lambat lulus’, semua itu adalah kenisbian semata. Sungguh, saya pun tak berniat untuk memilih jalur cepat atau lambat, sebab cepat dan lambat itu perihal hasil. Saya ingin menikmati setiap derap kaki di sisa-sisa pra-sarjana saya. Itu bisa jadi alibi mujahid skripsi yang terkena syndrome lazieae. Jangan terlalu terperdaya dengan macam rupa intervensi, apalagi intervensi berupa tulisan ecek macam begini. Haha…

Buat kamu yang masih berkutat di antara jalur cepat atau lambat, ada pilihan yang lebih berfaedah,
Kerjakan saja skripsimu! Biar ramai! Biar mengaduh sampai gaduh!

Selamat menempuh masa krusial, kawan! Let it flow!!
#Teguhlah! Jadi Mahasiswa Akhir itu Berat, Biar(in) Saja!

Mengendap terlalu lama dan baru bisa tertuang saat ini. ^_^

    
Jika anda adalah penyuka barang-barang handmade, hobi membuka pinterest untuk sekadar berselancar melihat barang-barang dengan kategori DIY, maka adalah hal wajib untuk berkunjung ke mall virtual yang satu ini, qlapa.com. Siapa tahu jodoh dengan yang ada di sana (eh, barang-barangnya, maksudnya).
Saya ingat betul, pertama kali mengetahui qlapa.com melalui talkshow terkemuka di salah satu stasiun televisi swasta. Acara yang tak pernah kekurangan stok manusia hebat dari segala penjuru Indonesia itu pada 2016 lalu mengundang seorang anak muda yang menjalankan bisnisnya lewat dunia maya. Belakangan saya tahu bahwa anak muda kreatif itu adalah Benny Fajarai, pendiri qlapa.com.

Filosofi Kelapa

Ada hal menarik ketika kita mencoba mengulik laman qlapa.com. Mall virtual yang satu ini memilih untuk berdiri, bergerak, dan melangkah dengan cara yang berbeda. Qlapa memasuki dunia e-commerce dengan meletakkan fondasi yang kuat sebagai peletak dasar berdirinya situs ini. Inilah yang kemudian menjadi kekuatan kunci geliat Qlapa hingga kini. Bukan sekadar meraup untung dari sebuah bisnis e-commerce, namun juga ada nilai kebaikan yang terselip di balik nama Qlapa. Nilai yang kemudian benar-benar mengakar dan melekat dengan namanya.
Sebagaimana sebuah kelapa yang dengan ikhlas memberikan manfaat mulai dari daun, buah, batang, hingga akarnya, Qlapa pun ingin menjadi seperti itu. Memberikan seluas-luasnya manfaat bagi banyak orang. Seperti air kelapa yang kita minum di siang hari yang terik, seperti itulah Qlapa hadir sebagai oasis bagi para pengrajin barang handmade dan para pemburunya.

Melawan Arus Bersama Pengrajin Lokal


Jika sejak lama bahkan hingga kini masih banyak pengrajin lokal yang sulit untuk memasarkan produknya, maka Qlapa adalah wadah itu. Jalan yang ditempuh Qlapa merupakan satu langkah baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong inovasi di bidang ekonomi kreatif. Hal semacam ini seringkali tak terpikirkan oleh banyak e-commerce yang kini bertebaran di dunia maya.
Di tengah gencarnya mall-mall virtual yang menyodorkan produk branded cap mancanegara, Qlapa malah membuat barisan bersama para pengrajin lokal untuk melawan arus itu. Mereka−para pengrajin lokal, diberikan akses berupa panggung catwalk tanpa batas untuk unjuk kebolehan produknya.
Dengan dasar itu, tak heran ketika Qlapa menjadi ‘Rumah Bagi Produk Handmade Indonesia’. Tagline itu agaknya pantas disematkan pada gerai daring ini. Sebab Qlapa menjadi kanal bagi para pengrajin lokal dalam memasarkan produknya. Melalui tagline tersebut, Qlapa juga ikut menyebarluaskan gerakan cinta produk dalam negeri.
Sebagaimana layaknya sebuah rumah, Qlapa dipenuhi dengan beragam barang kebutuhan mulai dari primer hingga tersier seperti, pakaian, alat tulis, tas, hiasan dinding, hiasan rumah, alat kosmetik bahkan makanan pun ada di Qlapa. Sebagaimana kebutuhan seseorang yang tinggal di sebuah rumah, segalanya ada di sini.
Sebagaimana layaknya sebuah rumah, Qlapa mampu membuat kita tertarik untuk menciumi aroma Indonesia lewat cara yang lain. Menjumpai barang-barang unik yang dibuat langsung oleh para pengrajin lokal, memesan produk sesuai keinginan adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan di Qlapa. Seperti ketika menengok rumah di kampung halaman, seperti itu pula rasanya kita menjelajahi setiap gerai di mall virtual ini. Asik. Bukan?

Menjaga Mutu = Menjaga Kepercayaan Konsumen
Dengan beragam kebutuhan yang tersedia mulai dari primer hingga tersier, Qlapa jelas bukanlah laman ecek-ecek yang lantas mengiklankan barang apapun tanpa melewati proses sortir. Situs ini melakukan seleksi secara teliti demi menjaga mutu produk. Sebab menjaga mutu adalah perihal mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan dari konsumen. Tentu saja hal itu menjadi poin penting dalam urusan bisnis semacam ini.
Pertimbangan tersebut juga sekaligus menjawab beragam stigma buruk terhadap kualitas produk lokal yang sampai hari ini masih menjangkiti benak sebagian masyarakat kita. Dengan akses pemasaran melalui Qlapa, tentu memacu banyak pengrajin lokal untuk meningkatkan kualitas produknya.
#CintaProdukLokal




Video ini merupakan salah satu output dari dari kegiatan KKN selain dari buku, artikel, juga laporan (tulen). Semua kelompok KKN, tidak terkecuali diharuskan membuat sebuah video dengan durasi maksimal 15 menit. Video berisi kegiatan-kegiatan selama di desa termasuk program kerja kelompok yang telah dilaksanakan. And this is us, Mahasiswa KKN Tematik Universitas Mataram Desa Mengkuru 2018.
Big thanks to Bang Fir dan teman-teman KKN Mengkuru Squad yang telah berlelah-lelah melakukan segala upaya untuk menyelesaikan keribetan kesudahan KKN ini. Semoga bermanfaat.

Enjoy the show!

#Mengkuru Squad, #Rindu Mengkuru (3)

Ada saat ketika kita merasa rindu, entah pada hal apa. Seperti pada suatu Ahad sore di dusun Rejeng Nyungkar, desa Mengkuru, Kecamatan Sakra Barat, tempat saya dan teman-teman singgah untuk hidup selama 45 hari. Sepoi angin meniup batang-batang bambu di samping rumah kami. Rumah yang kami tinggali selama masa kuliah empat SKS ini-KKN. Sinar Surya sore itu masuk di antara celah dedaunan bambu yang rontok. Di bawahnya akan selalu tersisa sampah dedaunannya yang ramai berserak.

Suasana itu, entah mengapa membuat saya merasa begitu rindu. Terasa ada ketenangan di sana. Menikmati tiap-tiap jengkal mahakarya Tuhan. Sungguh, ini yang disebut  quality time. Detik-detik yang kita lewati seperti itu, hanya ada sedikit di antara sore-sore yang ada. Saya sering curiga, keadaan yang kita temui semacam itu, sebenarnya merupaan bentuk rindu kepada Sang Pencipta yang tidak kita sadari. Akan tetapi, memang dasar manusia, tak pernah mengenal dirinya, apalagi Tuhannya. Ia anggap saja itu sebagai bentuk nikmat ketenangan semata, wujud pelarian kebosanan semata, padahal rindu itu butuh digenapkan dengan cara pemenuhan "rindu" itu sendiri. Semacam ketika kita sedang kangen masakan ibu lalu memutuskan pulang ke rumah sebagai penawarnya. Sejatinya pemenuhan rindu kepada Sang Pencipta pun adalah sebuah naluri alam bawah sadar yang mesti kita utamakan.

Saya sempat merasakan salah satu anugerah terindah itu pada minggu pertama KKN (kalau tak salah). Hari itu siang menjelang sore, dan cuaca terasa cukup panas. Desau angin dari batang-batang bambu yang saling bergerak menjadi salah satu musabab anugerah itu menjadi lengkap. Tak ketinggalan, sore itu, suasana posko KKN cukup sepi karena teman-teman banyak yang tertidur pulas. Hari itu adalah hari yang cukup terik untuk melakukan aktivitas meski angin memasok kesegaran yang cukup untuk tak membuatmu mandi keringat.



Ketika itu saya tengah bercengkerama bersama seorang teman di teras. Duduk mengobrol kesana kemari, menggibahi angin yang terus melakukan pekerjaannya tanpa rasa bosan. Menikmati kipas angin alami yang mengalahkan ac. Kemudian menyebut waktu tersebut sebagai "quality time". Ternyata, ia juga merasakan nikmat Allah itu. Alhamdulillah. Saya kira hanya saya yang menamai suasana seperti itu sebagai sebuah waktu yang, mmmm... Saya tak bisa menjelaskannya. Have you ever felt it??

Saya sepertinya harus memperjelas kembali remah-remah pikiran yang seringkali absurd ini. Ada satu waktu, biasanya di waktu pagi atau sore hari. Ketika kau melihat ke luar rumah, dedaunan, angin, air, langit terasa entah berbuat apa hingga membuatmu seperti dengan kerelaan hati untuk tersenyum dan melakukan kesyukuran yang tiada tara. Mengapa? Karena suasana tenang, syahdu yang tak pernah kau rasakan di waktu lain. Saya agak bingung sebenranya karena waktu ssemacam itu muncul begitu saja, namun biasanya alam dan kondisi dan suasana tempatmu berada adalah hal wajib yang membuatnya mendukung perasaan yang memunculkan kesyukuran itu. Kondisinya sungguh tenang dan syahdu.

Kita kadang menemukannya ketika waktu-waktu menuju ashar hingga ashar lewat beberapa menitlah... Jika itu pagi, biasanya kita merasakannya pada pukul 9-10, ketika dedaunan pohon berwarna hijau kekuningan ditimpa mandi matahari yang belum terik. Apa kalian memahami apa yang saya bicarakan?? Semoga iya. Karena bagi saya, menikmati waktu-waktu seperti itu adalah nikmat tiada tara yang diberikan Allah untuk kita, hamba-Nya.

Sungguh, melakukan bentuk kesyukuran di saat seperti itu betul-betul nikmat. Mengapa? Karena semesta tengah melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan. Semesta, termasukk kita, bersinergi mengkonstruksi suasana, keadaan, dan tempat terbaik untuk membuat kesyukuran itu terasa begitu nikmat. Bentuknya, ya saya kira semacam tafakkur alamlah... Hehe..

Agaknya setiap hari, kita perlu membangun quality time semacam itu agar kita memahami bahwa bersyukur kepada Allah itu begitu banyak bentuknya. Untuk hal yang seringkali kita anggap sederhana sekalipun, seperti menghirup oksigen tanpa tersendat maupun merasakan hembus angin yang menenangkan adalah bentuk kesyukuran. Tetaplah bersyukur untuk hal-hal yang terlihat kecil dan remeh. Kita tidak tahu, kebaikan yang mana yang akan membawa kita menuju surga-Nya (Aamiin). Bukankah Dia yang berhak mencabut dan meletakkan ketenangan ke dalam setiap hati kita?

Kita seringkali kufur pada nikmat-nikmat yang kita anggap kecil namun sesungguhnya akan kita syukuri ketika tiada. Akan kemana kita mencari oksigen ketika penyakit melanda dan kita menjadi manusia tak normal yang membeli nafas bertabung-tabung?

Sebersyukur apa sih kita, yang ketika diberi nikmat hidup di dunia sedikit saja, sudah melambung jauh hingga mencapai langit. Apalagi sebentuk napas yang setiap hari tak kita lewatkan?
Aida, manusia... Fabiayyiaalaai robbikuma tukadzibaan?



Tertulis pada minggu pertama di posko. #KKNTematik2018, #KKNUnram, #KKNMengkuru


Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ▼  2019 (2)
    • ▼  September (1)
      • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dul...
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes