Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Juni 2017
cdn.quotesgram.com

Rayanya perayaan hari kemenangan telah ditabuh sejak beberapa hari lalu. Hari ini H-2 lebarang. Bagi mereka yang tengah menyiapkan bentuk kemenangannya, mungkin hal yang mainstream ketika keberadaan euforia hari kemenangan berkumpul di pusat perbelanjaan atau tengah sibuk di rumah, membuat kue lebaran.
Pernahkah dalam riuhnya suasana hari raya itu, kau sempat terpikir tak semua orang merasakan riuhnya perayaannya pada detik menjelangnya? Mungkin tak sempat terpikirkan karena kau sedang sibuk berjejalan memilih baju baru, sibuk mengemas pakaian mudik atau sibuk dengan ulenan kue yang tak kunjung bagus? Tak salah memang, tapi akan lebih baik riuh rendah jelang hari raya juga jadi kesempatan menambah ladang kesyukuran.
Tak semua orang dapat merasakan riuhnya tabuhan hari raya tersebab banyak hal. Seperti datangnya paket kehilangan di suasana menjelang hari raya.
Rumah kami bukanlah yang setiap 17 Agustus selalu memasang bendera Indonesia untuk dikibarkan. Namun Kamis lalu, pertama kalinya rumah kami memasang bendera, tapi bukan merah putih. Bendera itu dikenal orang sebagai lambang kemurungan, lambang duka. Ya, bendera putih. Bagi banyak orang termasuk saya, rumah yang mengibarkan bendera putih itu tak perlu kau tanya alasannya, mereka tengah menerima kado duka dari Pemilik dunia.
Kami tak pernah memesan kado kemurungan di sisa akhir Ramadhan ini. Namun jelas Pemberi nikmat terlampau tahu garis macam apa yang tengah dibuatNya untuk si hamba. Adakah yang meronta? Meminta Pemilik hidup untuk mengembalikannya kepada dunia? Untungnya tak ada hal yang seperti itu. Kami bersyukur dan masih sadar bahwa Pemilih hiduplah yang telah mengaturnya.
Agaknya Allah begitu tahu bahwa masa setelah dunia lebih baik untuknya dan lebih baik untuk yang ditinggalkannya. Tak ada kata seandainya. Kami hanya tahu, takdir Allah begitu rapi dan begitu sulit ditebak.
Allah tahu, ada tempat yang lebih baik bagi sang putri dan tempat itu bukanlah dunia. Mungkin kini Ia tengah terlelap di sebuah ayunan yang diteduhi pohonan rindang? Allah Maha tahu.
Sampai jumpa, Sayang.. belum sempat kami ucapkan selamat datang, perpisahan lebih dahulu menegaskan keberadaannya.
Assalamualaikum…
Untuk nama yang belum sempat dieja: Haula


images7.alphacoders.com

Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan…

Surat ini adalah surat yang aku dan kau tulis di masa lalu di malam Ramadhan yang hampir berakhir. Di kejauhan, terdengar sayup ayat Al-Qur’an dilantunkan. Adakah kau menyapa lembaran-lembarannya hari ini di tengah riuhnya duniamu? Kuharap lisanmu tetap basah olehnya hingga surat ini kau baca.

Ah, ya... Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Bapak dan Ibu? Kuharap semuanya tetap dalam lindungan Allah. Jangan lupa untuk bersyukur!

Kepada diri di masa depan,
Ingin kukatakan padamu bahwa sungguh, di hari ketika kita menulis surat ini, dunia terasa semakin licin saja untuk berjalan. Adakah ia sempat membuatmu tergelincir di masa ini? atau kau kini sudah terlalu sulit untuk menemukan tanah-tanahnya yang tak licin? Kuharap kau tetap dibantuNya berjalan di atas bumiNya yang penuh berkah.

Kepada diri di masa depan,
Ketakutanku saat ini adalah melihatmu tengah memeluk dunia. Pekerjaanmu kini tentulah menjadi seorang pengepul. Iya, bukan? Kau mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya, kan? Bukankah pekerjaan semacam itu dinamakan pengepul? Pengepul harta, bukan? Adakah harta yang kau tumpuk-tumpuk itu membuatmu menjadi manusia paling mulia semulia logam mulia yang kau kenakan? Kurasa tidak.

Ingatlah, diri… Pada akhirnya kau dan aku akan masuk ke perut bumi. Bergunung logam mulia yang kita kumpulkan tak akan lebih mulia dari bacaan Al-Quran yang mungkin telah jarang kita lantunkan. Adakah kini, kita hanya menjadikan kitab mulia itu sebagai pajangan pemanis ruangan? Kuharap aku tidak melihatmu mengangguk dengan pertanyaan itu. Semoga Allah menjagamu dari pekerjaan sia-sia itu.


Kepada diri di masa depan,
Pesanku hanya sedikit. Aku tak tahu seberapa sulitnya hidup di masamu. Tapi sesulit apa pun, hidup bersandar pada dunia adalah kesia-siaan. Cukuplah bersandar kepada pemilik dunia. Cukuplah dunia hanya menjadi perlintasan sesaat kita. Jangan lupa, travel agent kita saat ini akan membawa kita pulang ke rumah asli kita, surga. Jangan kau lupa bahwa itu adalah rumah sejatimu. Karena adam dan hawa sesungguhnya berasal dari surga dan kita pun begitu. Oleh karena itu berusahalah di masamu kini, untuk tidak hanya menjadi pengepul harta dunia tetapi juga harta akhirat. Berusahalah untuk menambah bekal kita yang terbaik di masamu agar kunci rumah kita tak tertukar di akhirat kelak. Semoga Allah meridhoi usaha kita. Aamiin

Ah, iya… Apa kau sudah menikah? ^_^

Tema hari keenam ini cukup baper. Saya curiga, jangan-jangan tema ini bener-bener dikeluarin momon KF dari hati yang terdalam. Haha...
Anggap saja, tantangan hari keenam ini sebagai prosesi berbenah diri.

#Day6 
"3 alasan mengapa kamu pantas mendapatkan pasangan hidup yang baik"

albugisy-24.blogspot.co.id

Alasan pertama, karena saya, Insyaallah masuk dalam daftar manusia baik yang masih tinggal di bumi. Hehe.. Kategori ini tak perlu mendapat penjelasan lebih lanjut.

Alasan kedua, karena hingga hari ini saya sedang mengumpulkan tabungan kebaikan. Sebagian pundi-pundi tabungan itu pada waktunya akan terkonversi dengan calon imam masa depan saya (insyaallah sholeh, aamiin). Doa, doa!

Alasan ketiga, karena saya mahasiswa FKIP Halah… Eits, benerr! Mahasiswa FKIP itu, adalah pasangan hidup paling idaman, Insyaallah. Gak percaya? Tanya aja Ibu kalian? Sekolah pertama bagi seorang anak adalah dari Ibu. Oleh karena itu, pendidikan pertama akan berasal dari rumah dan kontribusi seorang Ibu sangat dibutuhkan. Urusan didik-mendidik, percayakan saja ke anak FKIP. hehehe...

Itu saja cukup sepertinya.
Perihal pasangan hidup, sebenarnya si calon imam kita kelak tak akan jauh-jauh dari bagaimana kita saat ini. Jadi, mari kita terus berbenah diri dan berdoa! Semoga dengan cara itu, kita mendapat pendamping hidup yang shalih/shalihah. Aamiin..


#Day6
#7DaysKF


griyaquran.org

Dalam waktu dekat ini, terus terang saja saya tidak ingin menemui siapa-siapa. Hari-hari Ramadhan penuh berkah ini sudah lebih dari cukup untuk didatangi oleh tugas-tugas kampus yang datang tanpa permisi. Saya merasa malu kepada pemilik Ramadhan. Seringkali tugas-tugas kampus itu saya jadikan amalan harian di bulan rahmat ini. Optimisme Ramadhan di awal-awal serta merta terasa digerus oleh aktivitas-aktivitas keduniaan saya. Meski memang, saya jelas tak berdosa karena mengerjakan tugas-tugas itu. Tapi tetap saja, ada semarak yang kian redup yang saya rasakan di hari-hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.
Namun selama hari-hari ramadhan belum usai, jelas ghirah kita untuk berlomba menulis kebaikan tidak bisa surut begitu saja. Jadi, bolehlah kalau saya dalam waktu dekat sangat ingin bertemu dengan Lailatul Qadar. Ia bukan hanya satu dari sekian banyak hari di bulan Ramadhan. Ia telah menjelma sebagai seorang tamu agung. Ia akan bertamu kepada manusia-manusia terpilih. Yakni mereka yang benar-benar menantikan kedatangannya. Mereka yang tiada putus mengingat Rabbnya dan istiqomah berjuang menulis kebaikan-kebaikan di bulan ini. Saya pun ingin menjadi satu dari sekian banyak yang terpilih didatangi oleh tamu agung ini. Dapatkah kita berjumpa?
#Day5
#7DaysKF
www.dw.com


Pernahkah kalian melakukan hal bodoh di depan orang-orang penting? Semisal Wakil Dekan, misalnya? Ehm, saya ternyata sempat melakukannya dengan 'tanpa sengaja' tentunya.
Hari itu saya pergi bersama seorang teman satu UKM untuk meliput sebuah acara di kampus (saya mengikuti organisasi pers mahasiswa di kampus). Narasumber kami saat itu adalah Pak Dut (bukan nama asli) dan itu selesai tanpa hambatan. Awalnya kami ingin mencukupkan hasil wawancara Pak Dut tersebut dan menggenapi berita yang akan kami tulis nanti dengan narasumber dari mahasiswa. Tetapi, Pak Dut menyarankan kami untuk mewawancarai Pak Samsul (bukan nama asli).
Kami akhirnya pergi menemui Pak Samsul yang ketika itu berdiri di depan ruangannya seperti mencari-cari seseorang. Saya lalu mengatakan padanya bahwa kami ingin melakukan wawancara mengenai kegiatan tersebut. Dengan logat khas daerahnya—yang bagi kebanyakan orang terkesan bernada keras— ia mengatakan baru ada waktu besok. Ia lalu masuk ke dalam ruangannya namun kami tetap membuntutinya sambil meminta kembali untuk meluangkan waktunya mendengarkan pertanyaan kami. Ia duduk menghadap kertas-kertas di atas mejanya sambil mencoret sana-sini. Yang jelas sih, kertas-kertas di atas meja itu terlihat lebih penting dari wajah dua mahasiswi yang saat itu ada berdiri di hadapan beliau.
Tak diduga akhirnya Pak Samsul menerima kami meskipun dengan jawaban ketus dan menanyakan kepada kami apa yang ingin ditanyakan. Saya langsung mengambil handphone yang tadi saya pinjam dari teman untuk merekam suara indah Pak Samsul. Di sinilah awal mulanya. Sebut saja namanya Bu Uri (bukan nama asli). Bu Uri tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu dan langsung berbincang dengan Pak Samsul. Kami diberi kacang ketika itu. Eh, maksudnya dikacangin.. 
Ketika mengajukan pertanyaan di awal, sambil masih menghadap kertas-kertas yang bertumpuk di mejanya, Pak Samsul menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Akan tetapi saya tak terlalu serius memerhatikan jawabannya ketika itu. Hal itu karena saya ingin merekam suara indah Pak Samsul dengan handphone pinjaman itu. Tapi, itulah awal mula kisah memalukan ini. Saya lupa kode akses handphone yang saya genggam itu apa. Akhirnya saya lebih serius memerhatikan itu handphone daripada si Bapak. Maaf, Pak. 
Belum selesai dengan main coba-coba kode di handphone itu, eh, Pak Samsul udah selesai ngomong. Teman saya yang ada tepat berada di samping saya tidak menunjukkan gerak gerik untuk menanggapi jawaban dari si Bapak. Meski saya tidak tahu akan bertanya apa. Akhirnya mulut saya berbicara sendiri mengeluarkan sebuah pertanyaan kepada Pak Samsul. Aduh mama sayange, tiba-tiba saja Bu Uri berwajah aneh sambil memandang saya. Saya bermuka polos saja. Emang ada yang salah dengan pertanyaan saya? (saya lupa pertanyaan saya apa ketika itu).
"Kan tadi sudah dijawab, eehh.. eehh.. Gimana sih! Kamu ngerti gak sih sama apa yang kamu tanyakan itu?" Jleb… Aduh... emang tadi nanya apaan?
"Ya, bu! Maksud saya...," entah saya menjawab apa saat itu. Sembari berpikir, eh, iya,ya! Saya langsung konek kalau pertanyaan yang saya ajukan itu sudah terjawab di kalimat Pak Samsul tadi. Aduh.. Malunya pakai banget!!! Bukan apa-apa. Masalahnya, Bu Uri itu, orangnya seingat saya sering cerita-cerita ke banyak orang. Halaaah…
Ada saat dimana kita merasa begitu bodohnya di hadapan seseorang. Dan hari itu saya melakukannya. Tapi bukan di hadapan seseorang, Dua orang + teman saya jadinya tiga orang. Nasib, nasib! Sabar, Nak! Lain kali kalau mau liputan, pecahkan saja handphonenya, biar ramai! Sabaaar, sabar! Di saat seperti itu, saya merasa ingin lari ke hutan. Tapi saya lupa ternyata tidak ada hutan terdekat di kampus ini.
Entah pada detik keberapa saya akhirnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Sepanjang jalan, saya merutuki diri karena lebih memilih mengurusi alat elektronik yang pada akhirnya tidak banyak membantu saya. Sejak hari itu, saya SANGAT berharap tidak dipertemukan dengan kedua orang penting tersebut dalam waktu dekat.
Hal pertama yang ingin saya lakukan saat itu adalah pakai masker. Halah... Hari itu saya benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh sekampus. Pikiran saya berkelana ke hari-hari selanjutnya. Setiap hari saya harus melewati dua ruangan orang penting itu ketika akan kuliah. Luar biasa!
Tapi, untungnya itu sudah berlalu. Lumayanlah kejadian itu membuat saya belajar. Hehe… Biar di kemudian hari ketika bertemu dengan orang-orang penting lainnya saya tak seperti itu lagi. Jika bertemu dengan Bu Uri, saya masih saja mengingat kembali kejadian memalukan itu. Sudah, itu saja!
Terima kasih sudah mau membaca.
#Day4
#7DayKF
image.freepik.com

Agaknya saya tidak termasuk manusia yang memiliki kemampuan mengingat super lama. Tidak banyak hal-hal yang saya ingat di masa lalu. Ini benar, saudara! Seringkali kemampuan mengingat saya ini terasa menyedihkan ketika seharusnya ia dibutuhkan untuk keluar dari otak. Oleh sebab itulah, tantangan ini membuat saya cukup berpikir keras untuk mengingat rasa kehilangan apa yang telah saya alami hingga saat ini.
Ini mengenai teman terdekat saya. Saya berjumpa pertama kali dengannya kalau tak salah pada hari terakhir Ujian Nasional di Madrasah Aliyah (MA) dulu. Ketika itu Bapak menemani saya berkeliling ke deretan toko-toko di sekitar jalan Sriwijaya, Mataram. Singkat cerita, akhirnya setelah pertemuan singkat di toko itu kami mengajaknya pulang untuk tinggal di rumah. Ia hanya diam dan menurut saja diajak ke rumah.
Sejak hari itu saya menjadi sahabat setianya. Hampir setiap hari saya bersamanya ke kampus. Kami sering mengerjakan tugas bersama. Terhitung jalinan persahabatan kami sudah dua tahun lebih.
Ia adalah sosok teman yang luar biasa. Tiada satu pun teman yang sebaik dirinya. Terkadang ketika tugas kampus dan tugas lainnya mulai menumpuk untuk dikerjakan, Ia dengan senang hati membantu untuk menyelesaikannya. Saya mencintainya seperti saudara saya sendiri. Bentuk cinta saya adalah memanfaatkan kemampuannya untuk membantu saya mengerjakan berbagai tugas. Tolong jangan hakimi saya bahwa saya memanfaatkan pertemanan kami. Jangan hakimi saya bahwa saya adalah teman yang tak tahu diri. Please! Jangan hakimi saya hingga kalian membaca tulisan ini hingga selesai.
Hari itu entah hari apa. Saya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Saya di kampus ketika itu dan hari telah sore. Saya belum menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan hari itu. Entah bagaimana kejadian detilnya, tapi ketika itu saya berjalan bersamanya dan tak sengaja tangan saya melepaskannya. Ia pun jatuh begitu saja di antara rerumputan basah belakang gedung B kampus. Tak ada tangisan yang keluar darinya sedikitpun.
Saat itu, ada jeda di antara helaan nafas dan ketakpercayaan saya atas apa yang terjadi. Semacam efek slow motion gitu! Detik-detik berlalu dan pada detik keberapa, saya disadarkan oleh beberapa teman yang ada di TKP. Nama saya diteriakinya. Raut wajah saya entah seperti apa saat itu.
Sesegera mungkin saya memeluknya. Lama sekali saya memeluknya hingga saya memberanikan diri untuk mengecek apakah ia terluka atau tidak. Saya takut. Jantung saya berdegup terlalu kencang. Pikiran saya berkeliar tak di sana. Bagaimana keadaannya? Bagaimana jika ia terluka? Lalu, bagaimana jika Bapak tahu? Bagaimana jika ia marah? dan banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lain.
Hari itu ternyata saya lewati tanpa pikiran-pikiran buruk itu. Bapak tidak marah tapi ada bekas luka pada wajah sisi kanannya. Beberapa bagian tubuhnya lecet dan itu sangat menyesakkan. Bapak memang tidak marah tetapi ia sempat bertanya untuk membawanya berobat. Pengobatan untuknya pun akhirnya tak pernah jadi saya lakukan karena ia tak pernah menangis sejak awal ia tinggal di sini. Pun hingga insiden itu terjadi ia tetap tak mengeluarkan tangis. Saya memang tak heran atas itu. Akhirnya keadaannya tetap seperti itu hingga beberapa bulan selanjutnya.
Perjumpaan pasti berakhir dengan perpisahan dan itu yang terjadi pada persahabatan kami. Saya mengikhlaskannya untuk dibawa pergi. Ini demi kebaikannya dan kebaikan saya juga. Di tempat barunya ia akan diperbaiki dan menjalani hidup bersama teman barunya. Pun juga saya, mendapat penggantinya dan menjalani hidup dengannya seperti bagaimana ia dahulu. Meski jelas, teman baru ini tidak sespesial dirinya.
Ah iya, dari tadi saya belum memperkenalkan namanya pada kalian. Tentu kalian tahu siapa yang saya ceritakan ini. Namanya Asus. Kini ia telah pergi dengan teman barunya. Selamat tinggal, Asus! Semoga kau tetap menyebar kebaikan di tempat barumu.

Tuntas!
#7DaysKF
#Day3

Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi topik hari kedua ini. Saya bukanlah manusia yang cukup naturalis, tapi manusia pada dasarnya punya naluri mencintai dengan sesama makhluk sekalipun itu binatang. Baiklah saya mulai dengan binatang yang cukup terkenal ini.

1.      Gajah
situstulus.com

Binatang ini cukup terkenal meski di Indonesia sendiri, kebun binatang tidak selalu hadir pada setiap daerah sebagai salah satu tempat untuk mengetahui rupa gajah seperti apa. Hingga saat ini, saya adalah salah satu warga negara Indonesia yang belum ke kebun binatang dan tentu saja belum pernah melihat gajah dengan mata telanjang. Meskipun begitu, saya tentu tahu rupa gajah seperti apa. Berkat para pedagang poster-poster murah yang dijual di emperan toko dekat pasar, saya tahu hal itu. Biasanya Bapak membelikannya untuk kami, anak-anaknya di rumah. Itu dulu, sekarang teknologi telah menjawab lebih dari sekadar rupa gajah seperti apa.
Mengapa binatang ini ingin dipelihara? Hal itu tersebab novel yang ditulis Agatha Christie, Elephants Can Remember. Saya tidak begitu mengingat novel itu berkisah seperti apa, yang saya ingat adalah novel itu memberitahu saya bahwa gajah adalah binatang dengan kekuatan memori yang sangat baik. Ia akan mengingat wajah manusia yang pernah menolongya pun juga ia akan mengingat sesiapa yang pernah menyakitinya. Itulah kenapa saya ingin memelihara gajah. Tersebab saya ingin sepertinya, memiliki kekuatan mengingat yang luar biasa. Hingga saat ini saya setia menggunakan nama Gajah sebagai nama disk di laptop saya. Hehe

2.      Lebah
animalli.com

Agaknya semua orang tahu bahwa kenikmatan madu yang kita rasakan di saat ini jelas berasal dari binatang ini. Salahsatu binatang yang disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah lebah. Mengapa? Dek gugel sepertinya punya jawaban pastinya. Filosofi lebah adalah yang termasuk menarik untuk kita renungkan. Lebah hanya memakan hal-hal yang baik untuk kebutuhannya. Lihat saja bagaimana ia mencari bunga-bunga yang tengah bermekaran, disanalah ia akan singgah dan menyeruput nektar bunga. Dari lebah kita tentu bisa bercermin bahwa ikhtiar dengan cara yang baik, hasilnya akan baik pula. Madu jelas enak, Nak! Jadi bersyukurlah! Selalu ingat bahwa madu yang kita makan adalah bentuk ikhtiar lebah. Cie cie yang peternak lebah! Hahaha…

3.      Kuda
static.wixstatic.com


Bagi saya, kuda termasuk kategori binatang yang cukup elegan. Aseeekk! Iya, beneran! Kayaknya keren gitu kalau lihat atlet-atlet  penunggang kuda di teve. Mungkin olehraga yang disunnahkan Rasulullah ini bisa mengangkat derajat ketinggibadanan saya. Paling tidak di antara teman-teman kampus yang sepertinya bernasib sama dengan saya, kurang tinggi (bukan pendek, ya!). Ada yang minat pelihara kuda?

4.      Kupu-kupu
https://suharni101.files.wordpress.com/

Kebayang gak sih kalau kita punya peliharaan binatang yang satu ini. Pasti tiap hari ngerasa jadi orang paling bahagia. Meski kupu-kupu seingat saya punya usia yang relatif singkat tetapi memelihara kupu-kupu adalah hal yang menarik. Bayangkan saja, ketika bangun tidur dan membuka jendela kamar hal yang pertama kita lihat adalah kupu-kupu beraneka macam yang terbang berkeliaran di taman impian. Ciee.. Hidup kita udah kayak putri-putri Disneyland, kali? Adegan selanjutnya kupu-kupu itu hinggap di tangan kita dan mengajak kita menghabiskan hari untuk menari. Lalu sang pangeran datang dan mengajak kita kembali menari. Moga aja pinggangnya kagak encok!

5.      Burung Hantu
images.pottermore.com

Binatang ini terpilih sebagai bentuk kekaguman saya atas binatang ini. Harry Potter banyak menghegemoni saya untuk binatang ini. Haha… Saya membayangkan burung hantu saya berwarna putih, persis seperti Hedwig, burung hantu milik Harry. Tapi karena nama Hedwig sangat kebarat-baratan, jadi saya ingin menamakannya Samsul. Biar gampang diingat dan jadi terkenal. Tak perlu ribet kirim lewat pos, tinggal panggil Samsul dan kirim ke alamat yang dituju. Asik kan? Ih.. katro' banget ngirim surat pake burung! Weeesss… yang kayak beginian sekarang yang sulit dicari. Klasik itu lebih berkelas, Nak! Jadi, jadilah manusia klasik. Hahaha…

Saya gak bisa ngebayangin bagaimana seandainya kelima binatang ini benar-benar saya pelihara. Sepertinya di masa depan saya akan membangun kebun binatang dengan konsep yang luar biasa. Haha..
Tuntas!
#7DaysKF
#Day2

Saya adalah perempuan tulen kelahiran Juli. Nama saya Wazi Fatinnisa. Beberapa orang memanggil saya saya Ajik, selainnya Wazi. Seorang mahasiswi pendidikan yang belum selesai menulis kisah S1-nya. Seringkali harus diingatkan bahwa beban SKS selama ini tak sebanding dengan beban menyandang gelar S.Pd. yang akan diraihnya kelak (Aamiin). Seringkali menikmati waktu santai tanpa tugas dengan berlebihan (yang ini cukup parah) dan sekali lagi, harus sering-sering diingatkan. Kini tengah (pura-pura) bergulat dengan berbagai tugas kampus yang menanti tanggal eksekusi. Bukan mahasiswi vokal di kelas. Bukan pula mahasiswi berprestasi yang sibuk tiap hari. Hanya mahasiswi biasa.



#Tantangan KF Hari ke-1
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ▼  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ▼  Juni (8)
      • Kepada Haula; Untuk Sebuah Nama yang Belum Sempat ...
      • Kepada Diri di Masa Depan
      • Seberapa Pantas
      • Dapatkah Kita Berjumpa?
      • Malu di Masa Lalu
      • Perpisahan: Perjumpaan Kita yang Telah Usai
      • Kisah 5 Binatang
      • Sebuah Perkenalan
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes