Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Maret 2018

Ada saat ketika kita merasa rindu, entah pada hal apa. Seperti pada suatu Ahad sore di dusun Rejeng Nyungkar, desa Mengkuru, Kecamatan Sakra Barat, tempat saya dan teman-teman singgah untuk hidup selama 45 hari. Sepoi angin meniup batang-batang bambu di samping rumah kami. Rumah yang kami tinggali selama masa kuliah empat SKS ini-KKN. Sinar Surya sore itu masuk di antara celah dedaunan bambu yang rontok. Di bawahnya akan selalu tersisa sampah dedaunannya yang ramai berserak.

Suasana itu, entah mengapa membuat saya merasa begitu rindu. Terasa ada ketenangan di sana. Menikmati tiap-tiap jengkal mahakarya Tuhan. Sungguh, ini yang disebut  quality time. Detik-detik yang kita lewati seperti itu, hanya ada sedikit di antara sore-sore yang ada. Saya sering curiga, keadaan yang kita temui semacam itu, sebenarnya merupaan bentuk rindu kepada Sang Pencipta yang tidak kita sadari. Akan tetapi, memang dasar manusia, tak pernah mengenal dirinya, apalagi Tuhannya. Ia anggap saja itu sebagai bentuk nikmat ketenangan semata, wujud pelarian kebosanan semata, padahal rindu itu butuh digenapkan dengan cara pemenuhan "rindu" itu sendiri. Semacam ketika kita sedang kangen masakan ibu lalu memutuskan pulang ke rumah sebagai penawarnya. Sejatinya pemenuhan rindu kepada Sang Pencipta pun adalah sebuah naluri alam bawah sadar yang mesti kita utamakan.

Saya sempat merasakan salah satu anugerah terindah itu pada minggu pertama KKN (kalau tak salah). Hari itu siang menjelang sore, dan cuaca terasa cukup panas. Desau angin dari batang-batang bambu yang saling bergerak menjadi salah satu musabab anugerah itu menjadi lengkap. Tak ketinggalan, sore itu, suasana posko KKN cukup sepi karena teman-teman banyak yang tertidur pulas. Hari itu adalah hari yang cukup terik untuk melakukan aktivitas meski angin memasok kesegaran yang cukup untuk tak membuatmu mandi keringat.



Ketika itu saya tengah bercengkerama bersama seorang teman di teras. Duduk mengobrol kesana kemari, menggibahi angin yang terus melakukan pekerjaannya tanpa rasa bosan. Menikmati kipas angin alami yang mengalahkan ac. Kemudian menyebut waktu tersebut sebagai "quality time". Ternyata, ia juga merasakan nikmat Allah itu. Alhamdulillah. Saya kira hanya saya yang menamai suasana seperti itu sebagai sebuah waktu yang, mmmm... Saya tak bisa menjelaskannya. Have you ever felt it??

Saya sepertinya harus memperjelas kembali remah-remah pikiran yang seringkali absurd ini. Ada satu waktu, biasanya di waktu pagi atau sore hari. Ketika kau melihat ke luar rumah, dedaunan, angin, air, langit terasa entah berbuat apa hingga membuatmu seperti dengan kerelaan hati untuk tersenyum dan melakukan kesyukuran yang tiada tara. Mengapa? Karena suasana tenang, syahdu yang tak pernah kau rasakan di waktu lain. Saya agak bingung sebenranya karena waktu ssemacam itu muncul begitu saja, namun biasanya alam dan kondisi dan suasana tempatmu berada adalah hal wajib yang membuatnya mendukung perasaan yang memunculkan kesyukuran itu. Kondisinya sungguh tenang dan syahdu.

Kita kadang menemukannya ketika waktu-waktu menuju ashar hingga ashar lewat beberapa menitlah... Jika itu pagi, biasanya kita merasakannya pada pukul 9-10, ketika dedaunan pohon berwarna hijau kekuningan ditimpa mandi matahari yang belum terik. Apa kalian memahami apa yang saya bicarakan?? Semoga iya. Karena bagi saya, menikmati waktu-waktu seperti itu adalah nikmat tiada tara yang diberikan Allah untuk kita, hamba-Nya.

Sungguh, melakukan bentuk kesyukuran di saat seperti itu betul-betul nikmat. Mengapa? Karena semesta tengah melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan. Semesta, termasukk kita, bersinergi mengkonstruksi suasana, keadaan, dan tempat terbaik untuk membuat kesyukuran itu terasa begitu nikmat. Bentuknya, ya saya kira semacam tafakkur alamlah... Hehe..

Agaknya setiap hari, kita perlu membangun quality time semacam itu agar kita memahami bahwa bersyukur kepada Allah itu begitu banyak bentuknya. Untuk hal yang seringkali kita anggap sederhana sekalipun, seperti menghirup oksigen tanpa tersendat maupun merasakan hembus angin yang menenangkan adalah bentuk kesyukuran. Tetaplah bersyukur untuk hal-hal yang terlihat kecil dan remeh. Kita tidak tahu, kebaikan yang mana yang akan membawa kita menuju surga-Nya (Aamiin). Bukankah Dia yang berhak mencabut dan meletakkan ketenangan ke dalam setiap hati kita?

Kita seringkali kufur pada nikmat-nikmat yang kita anggap kecil namun sesungguhnya akan kita syukuri ketika tiada. Akan kemana kita mencari oksigen ketika penyakit melanda dan kita menjadi manusia tak normal yang membeli nafas bertabung-tabung?

Sebersyukur apa sih kita, yang ketika diberi nikmat hidup di dunia sedikit saja, sudah melambung jauh hingga mencapai langit. Apalagi sebentuk napas yang setiap hari tak kita lewatkan?
Aida, manusia... Fabiayyiaalaai robbikuma tukadzibaan?



Tertulis pada minggu pertama di posko. #KKNTematik2018, #KKNUnram, #KKNMengkuru


Check this out: https://issuu.com/katajiwa/docs/katajiwa_edisi2


Akan selalu ada jalan untuk pulang. Rumah adalah jawabannya, Nak!
Pulanglah...



Ceritanya lagi tafakkur judul dan menemukan banyak hal, salah satunya ini.
Check it out! Semoga bermanfaat. Saling berbagi, euy...
#Remotivi



Saturday, March 03, 2018
1:07 AM
Akhirnya, kita akan tiba pada satu hari yang biasa. Kembali melangkahi jejak rutinitas diri yang terasa kian sempit. Memusingkan diri dengan langkah-langkah (sok) gesit untuk mengejar topi sarjana. Lalu kembali memusingkan diri dengan tuntutan hidup yang tiada habisnya. Kurang dari dua hari sebelum saya benar-benar beranjak dari tempat ini.
Luapan emosi pada rapat terakhir tadi bukanlah klimaksnya. Sudah kami lalui episode itu. Saatnya menanti antiklimaks yang akan muncul di sisa dua esok lagi. Namun, kami telah terlebih dahulu bersepakat untuk saling melupakan segala keburukan (jika tak sempat membuat lingkaran semacam yang kami lakukan pada tiap-tiap malamnya). Telah kami tambal lubang-lubang pada hati dengan plester "memaafkan". Tak perlu tangis berkepanjangan untuk episode seperti tadi. Meski memang harus ada tumbal air mata yang menghangatkan suasana, dan itu sungguh perlu. Sebagai bahan evaluasi untuk pembelajaran hidup.
Sejatinya, mata kuliah empat SKS ini adalah bekal persiapan untuk kita hidup bermasyarakat. Belajar menghadapi orang banyak termasuk belajar menghadapi teman-teman sendiri. Entah sudah berapa orang yang kau temui sejak kau baru lahir hingga saat ini. Banyak hal yang telah kita pelajari. Belajar mendengarkan, belajar berbicara, belajar hidup dan menghidupkan, belajar makan dan tidak memakan milik orang, belajar bertahan dengan kondisi sempit dan lapang. Yang pasti, this is the first time in my life, saya hidup sendiri, jauh dari orang tua dan memikirkan bagaimana bertahan hidup untuk esok (selain perihal uang, ya!! ^_^)
KKN itu sebenarnya waktu untuk beristirahat, mengambil jeda untuk menghayati Kekuasaan-Nya, merapal sisi lain kehidupan dunia yang seringkali terlihat rumit dan mumet. Ini adalah mata kuliah yang menyejahterakan mahasiswanya. Hidup sejatinya adalah belajar, dan kuliah ini adalah belajar bagaimana menjalani hidup. So, ini adalah mata kuliah termantap sebelum menghadapi kemumetan skripsweet yang sudah mulai menggarang. ^_^
Pada akhirnya saya harus menyudahi masa mengenang yang terlalu singkat ini. Menjabarkan apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana tiap detik pada 45 hari bukanlah pekerjaan yang lucu. Saya harus menguras kepala saya yang cukup malas ini untuk memeras memorinya. Sungguh berbanding terbalik dengan kondisi saya yang tak pernah mengisi agenda harian selama KKN ini. Hahaha… 
Saya tiba pada ujung tulisan ini. Harus saya sudahi remah-remah kepala yang akan menjadi lagu nostalgia kelak. Kemudian harus saya akui juga, bahwa kuliah 4 SKS ini adalah kuliah terbaik yang pernah saya jalani. Ini jelas subjektif karena saya masih menjalani kuliah ini di sisa-sisa terakhirnya. Namun, yang jelas mereka yang telah menempuh kuliah ini saya kira punya pendapat yang tak jauh berbeda. Tahu kenapa?
Cobalah ikuti mata kuliah ini! Rasakan sensasinya… Tulis aroma, rasa, dan warnanya. Dapatkan hadiah menarik di akhir mata kuliah ini (yang ini bukan hoax karena kalian yang mengikuti mata kuliah ini adalah seberuntung-beruntungnya manusia).
Terima kasih Allah… sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa belajar menjadi warga masyarakat Mengkuru yang sarat ke-NW-annya. Saya jadi belajar sedikit banyak mengenai NW (yang ini kok agak politis, ya?) hehehe…

*Note: Foto diambil H-1 kepulangan. Itu tangannya Ade. Haha..

#KKNTematik2018, #KKNUnram, #KKNMengkuru
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Kepada Diri di Masa Depan
    images7.alphacoders.com Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan… Surat ini adalah surat yang aku dan...
  • Kisah 5 Binatang
    Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi to...
  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Sunnatullah Air & Minyak
    https://id.pinterest.com/ Saya belum cerita kalau kami satu kelas, ennnggggg tepatnya satu angkatan pada semester ini merasa sea...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ▼  Maret (4)
      • Mengkuru, Sebuah Rindu (2)
      • Buat Mereka yang Merindukan Rumah
      • Tafakkur Judul
      • Mengkuru, Sebuah Rindu (1)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes