Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Desember 2014
#Tulisan 3

Nama : Wazi Fatinnisa
NIM    : E1C014060
Prodi  : PBSID (Regular Pagi)

Ini adalah tugas komputer 6 episode terakhir. Kali ini bahasannya sesuai judul postingan. Harapan untuk Kampus. Yeeeaaa...

Ehm... 
Hai, kampus! Iya, kamu! Do you know? Kamu selalu diharapkan untuk berwajah lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Pikiran saya bermonolog ria dengan bangunan-bangunan tua berwajah usang itu. #gedungD. (kembali meracau).
Karena sekarang kita berada di penghujung tahun, jadi bolehlah jika harapan untuk kampus putih kita ini, saya sebut dengan resolusi 2015 untuk kampus putih.
#Tulisan 2

Nama : Wazi Fatinnisa
NIM   : E1C014060
Prodi  : PBSID (Regular Pagi)

Ini adalah tugas komputer 6 episode kedua. Nah, pada tulisan kali ini, khusus membahas tentang dosen yang mengesankan pada semester satu.

Setiap dosen itu mengesankan dan memiliki gaya khas yang tak mungkin sama ketika mengajar. Perlu diingat postingan ini bukan untuk menunjukkan dosen yang disenangi dan yang tidak disukai karena pada dasarnya setiap dosen itu menyenangkan. Hanya saja para dosen memiliki sisi menyenangkan yang berbeda-beda. Dan postingan kali ini akan saya ulas sedikit mengenai beberapa dosen yang mengesankan menurut saya.

Memukau Lewat Sehelai Daun
Dosen pertama yang membuat saya terkesan ketika awal-awal masuk kuliah adalah Bapak Murahim. Mata saya selalu awas dan telinga telah siaga mendengar penjelasan Pak Dosen (agak alay kayaknya?). Ketika itu Beliau sempat membahas tentang seperti apa sebenarnya seorang sastrawan itu. Dan kalau tidak salah, Beliau memberikan sebuah contoh seperti ini,
Terdapat sehelai daun yang gugur dari tangkainya. Seorang sastrawan, ketika menemukan kejadian (daun gugur) itu, ia tidak menganggap daun yang gugur itu adalah angin lalu, tetapi ia berpikir bahwa ada sesuatu dengan daun yang gugur itu. Mengapa daun itu jatuh tepat dihadapannya? Mengapa tak dihadapan orang lain? Apa maksud dari gugurnya daun itu?
Hal semacam itulah yang dipikirkan oleh seorang sastrawan. Sastrawan akan memikirkan setiap apa yang terjadi di sekitarnya. Menjadi sastrawan itu harus peka dan kritis. Itu yang saya tangkap dari penjelasan beliau ketika itu. Sejak saat itu saya lebih sering mencatat mata kuliah teori sastra. Dan ternyata sangat menyenangkan mempelajarinya. Apalagi ketika materi yang dirasa terlalu berat untuk dimengerti, Beliau dengan gamblangnya menjelaskan secara sederhana inti dari materi itu. Cool…
Biasanya, Pak Murahim akan memberikan keterangan di akhir presentasi kelompok. Beliau sering menjawab pertanyaan yang tersisa di akhir presentasi, menambah wawasan kami tentang sastra yang masih sangat kurang hingga memperjelas presentasi yang terkadang keluar dari ranah sastra.
Mata kuliah sastra adalah yang paling saya tunggu. Karena saya lebih tertarik kepada sastra ketimbang linguistik meskipun ketika linguistik pun tetap menyenangkan dengan dosen yang kece pula. Tapi tetap saja porsi kesukaan saya pada kuliah sastra akan berbeda dengan linguistik.

Belajar Filsafat = Belajar Bijak
Sokrates pernah berkata,
Mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
Jadi dosen kedua yang mengagumkan menurut saya, adalah Pak Rusdiawan. Beliau adalah dosen mata kuliah pengantar filsafat. Ketika tahu bahwa pada semester satu ini saya medapatkan mata kuliah yang keren ini, saya sangat menunggu kuliah ini. Tetapi saya belum memiliki gambaran akan seperti apa kuliah filsafat.
Ketika kegiatan perkuliahan, saya merasa senang dan selalu ingin tahu dengan materi-materi pengantar filsafat yang disampaikan Pak Rusdiawan. Meskipun menurut beberapa orang beliau adalah seseorang yang sangat tegas dan ketat peraturannya. Tapi hingga akhir semester satu ini saya lebih suka mengatakan bahwa Beliau adalah orang yang bijak. Hehehe… Karena itu, terpikir oleh saya bahwa mempelajari filsafat dapat membuka jalan menjadi orang yang bijak.
Saya sempat berfikir bahwa hidup Pak Rusdiawan itu penuh dengan ketenangan akibat dari pelajaran tentang kebijakan itu (filsafat). Hehehe, saya masih dangkal untuk menyelami filosofis dari kebijakan itu sendiri. Dan mungkin Pak Rusdiawan bisa menjadi salah satu kategori dosen yang cukup bijak yang pernah saya temui. Kok bisa? Karena pertama, beliau mengajar pengantar filsafat (?). Kedua, pembawaan Beliau yang super tenang dan malah tak pernah marah kalau diperhatikan. Ketiga, selalu makan permen dan tidak pelit untuk berbagi. Hehehe saya suka alasan ketiga.
Menurut saya, mata kuliah filsafat itu bukan sekedar kuliah, tapi tempat merefleksikan diri kita. Disini kita belajar bagaimana seharusnya kita bertindak hingga mempelajari hakikat kebenaran yang sejati dari para tokoh filsafat. Di kuliah ini, Pak Rusdiawan sering sekali memberikan materi-materi kuliah yang saya rasa lebih tepatnya mengarah kepada ‘wejangan’. Ketika beliau memulai perkuliahan dengan kisah-kisah dari para filsuf, saya seperti membayangkan wajah sokrates dan lainnya. Bagaimana kehidupannya ketika itu, bagaimana diskusinya dengan orang-orang yang ditemuinya (ceeh… prok prok prok).
Pada pertemuan pertama kuliah, ketika itu Beliau membuat kesepakatan bahwa tidak apa jika terlambat yang penting tak mengganggu. Karena itu, saya dan mungkin kami semua sangat menyenangi Pak Rusdiawan. Hehehe… angkat bangku sendiri tapi kalau kehabisan.
Sebenarnya masih banyak lagi dosen-dosen yang mengagumkan. Tapi rasanya dua dosen saja sudah cukup. Sip! Tulisan kedua selesai

Okelah… Keep calm and lanjut ke #tulisan 3!



#Tulisan 1

Nama  : Wazi Fatinnisa
NIM     : E1C014060
Prodi    : PBSID (Regular Pagi)

Tulisan ini merupakan tugas komputer 6 episode pertama yang deadlinenya akhir tahun ini. Terimakasih atas tugasnya, Pak! Dengan senang hati dikerjakan. Sip! Mari kita mulai.

Ehmm… tess…
Selama kurang lebih satu semester menjejaki tanah FKIP Unram, sebuah kebanggaan bagi saya dapat bertemu dengan teman-teman yang super kece, dosen-dosen yang memukau dan tentu saja bisa masuk ke dalam sebuah keluarga yang kita sebut ‘BASTRINDO’ memiliki kebanggaan tersendiri dalam diri saya. Meskipun saat ini saya hanya bisa mengandalkan seragam PDH sebagai identitas keluarga (seragam PDH saya kebesaran!) Ciaat ciat…
Mungkin bagi banyak orang, hal yang saya sebutkan di atas adalah hal sederhana yang memang pasti dialami mahasiswa pada umumnya. Tapi menurut saya menjadi bagian dari sebuah keluarga adalah sebuah kebanggaan, apalagi ini HMPS sendiri, sodara-sodara. Maklumlah, usia-usia begini biasanya menjunjung tinggi nama baik kelompok. Ehem, ehemm… (Iye gati!)

Teman-Teman yang Super Kece
Setiap teman itu punya ke-kece-an masing-masing. Dan perempuan-perempuan imut ini adalah warga kelas yang biasanya jadi teman seperjalanan,sepelarian, sefotokopian, dan se-an yang lainnya. Halah… ngemeng apaan lagi… (#modus_250_kata) 



Maaf, tak punya banyak stok foto anak alay.
Tapi yang ini sepertinya cukup mewakili.

Dan tentu saja setiap kelas, menurut saya punya tetua masing-masing. Di kelas, tentu saja tetua kita adalah Pak Ketua Tingkat, Ismail Khalik yang terlampau kece untuk diceritakan dalam postingan ini. Kapan-kapan mari kita kisahkan ke-kece-an ketua tingkat kita. Hahaha…

Dosen-dosen yang memukau
Ini ada postingan khususnya #tulisan 2. Lanjutin baca yang bawah aja, oke?

BASTRINDO
Saya jadi teringat kisah seorang teman yang begitu menyedihkan. Sesorang bertanya padanya, “Apa itu Bastrindo?”. Wahhh… ngajakin berantem tuh orang, kayaknya? Hati mana, hati mana, dimana? Dimana? Yang pasti bukan di Jonggol, ya! Sakitnya tuh disini (nunjuk jidat). Sabar-sabar… Tapi pada akhirnya orang itu pasti tahu kepanjangan Bastrindo dan berdoalah agar dia selalu mengingatnya. Hahahaa…. HMPS Bastrindo adalah sebuah himpunan mahasiswa/i yang tergabung dalam program studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSID) khusus regular pagi. Yang pasti Bastrindo selalu kece.
Cukup sampai disini aja, ya postingannya. Karena saya harus melanjutkan postingan yang kedua dan ketiga. Entah kenapa ini tugas tidak disatukan saja menjadi satu postingan. (Yup!!!) Mungkin biar kita rajin ngeblog ya? iya bukan? Hehehehe… satu tulisan udah jadi!


Okelah… keep calm and lanjut ke #tulisan 2!

Kabar itu datang dari dia yang berkata tentang cinta ketika itu. Saya bertemu tanpa sengaja di lantai bawah gedung D. Ketika itu Saya baru keluar dari kelas filsafat sedangkan Ia akan masuk kelas. Kami berpelukan layaknya teletabies cukup lama untuk memeras rindu. Kemudian terlebih dahulu Saya menyalami tangannya atau dia ya? Saya lupa.
Wajahnya mengatakan ada yang ingin Saya sampaikan padamu, batin Saya. Di wajah teduh itu Saya temukan guratan kekhawatiran sekaligus sebuah kegembiraan yang akan dibaginya kepada Saya. Tapi entah apa, Saya belum tahu. Hingga seorang temannya mengutarakan "hal itu" karena ia merasa belum saatnya membicarakannya. Ternyata, Dia, yang ketika itu Saya ceritakan berbicara tentang cinta, berencana hijrah ke luar pulau.
Ketika itu Saya langsung kaget dan entah akan berkata apa kepadanya. Yang muncul adalah rasa senang, sedih..? dan semua rasa sepertinya berkecamuk menjadi satu. Tapi satu rasa yang Saya tunjukkan, ikut berbahagia atas kabar itu.

"Hijrah".
Itu yang Saya tangkap. Bagaimana sebuah hijrah mampu membuat sesuatu yang baik menjadi lebih baik. Entah karena alasan apa keinginannya untuk berencana hijrah tahun depan itu. Saya belum sempat berbicang banyak tentang hal ini. Tapi, yang Saya yakini dari dulu hingga saat ini bahwa Ia berjalan atas dasar kehendaknya. Bukan atas siapa-siapa. Ia adalah apa yang ia yakini. Dari hal itu pun Saya sudah dapat mengambil gambaran bagaimana kemauannya yang kuat untuk menjangkau kebenaran dari keyakinannya itu.
Hal itu pula yang membuat Saya merasa hingga saat ini entah apa yang Saya cari. Orang-orang di sekitar Saya, Saya rasa telah mendahului Saya untuk menjangkau kebaikan itu. Sedangkan Saya? sedikitpun tak ada yang berubah dari diri Saya. Entahlah… Rasanya Saya selalu konsisten dengan ketidakkonsistenan itu. Begitulah yang Saya baca.
Ketika akan menuju UPT Perpustakaan ketika itu, Saya mengingat kembali tentang rencana kepindahannya. Banyak hal yang berkecamuk dalam diri dan sepertinya hingga saat ini. Salah satunya adalah mempertanyakan kembali keputusan-keputusan yang telah Saya ambil.
Apakah dalam memilih jurusan ini, Saya memang benar-benar memilihnya sebagai keputusan final? Ataukah ini hanya sekadar keputusan pelarian/sampingan semata?
Apa keluar dari zona yang kita geluti saat ini akan membuat hati kita menikmati bagaimana perjalanan hidup ini?
Apa menjadi apa yang kita inginkan itu berbeda dengan apa yang kita senangi?
Jika pun sebuah hijrah akan memunculkan kebaikan yang lebih besar dari sebelumnya, maka seorang yang berhijrah harus siap menanggung konsekuensi dari "hijrah" itu sendiri.  Karena itu, sesorang yang berhijrah adalah mereka yang berjiwa kuat, tabah dan pemberani.

Dari keputusan yang diambilnya, Saya kemudian menemukan bahwa berhijrah baginya bukan sebagai bentuk pelarian diri dari rutinitas kampus hari ini, tapi lebih kepada orientasinya ke depan. Itu yang Saya lihat. Apalagi jika keputusan hijrah ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa senang dengan hal itu, Saya pun turut senang dan mendukung keputusan ini.
Jika mengingat keputusannya itu Saya merasa agak sedih. Karena seperti kehilangan seseorang yang akan pergi sangat jauh. Huh! Mungkin rasa sedih Saya belum bisa dianggap kesedihan jika dibanding dengan perasaan orang tuanya. Apalagi seorang anak perempuan yang pergi menununtut ilmu di tempat yang jauh.
Saya jadi ingat kalimat Imam Syafi'I rahimahullah, yang dijadikan pembuka dalam novel Negeri 5 Menara.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diamnya yang tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ia akan keruh dan menggenang
Singa jika tak meninggalkan sarangnya tak akan mendapat mangsa
Anak panah jika tidak dilepaskan dari busurnya tak akan kena sasarannya
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus ia diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya
Biji emas bagaikan tanah biasa tak berguna sebelum digali dari tambangnya
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika ia masih dalam hutan tak diolah


#turut andil pula Ost dari film IP Man ‘lost’ (nangis-nangis dah ente, Jik!). hehehe…
Ini nemu di sini Radityadika. Lucu aja, euy!


I'm Back!
Bismillahirrahmanirrahim…
Pernah menjadi salah satu bagian kepanitiaan acara? Atau malah sering? Well… ahad kemarin is the best or the worst day? I don’t know… Mungkin kata yang pantas diucapkan untuk saat ini adalah “jadikan pelajaran”! karena setiap hal yang kita lakukan akan menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Baik buruknya tergantung bagaimana kita mampu belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. (bijak banget ente, Jik! haha..)
Postingan kali ini saya khususkan untuk melengkapi uneg-uneg yang hanya mampu saya simpan dihati. Cie.. cie… stop! Ini bukan masalah cie.. cie… Ini serius! Wiiieesshh...
Kata maaf atas ketidakbergunaan “kami” rasa-rasanya belum sanggup melenyapkan amarah kalian terhadap sikap kami yang mungkin bisa dikatakan tak bertangungjawab atas tugas masing-masing. Kami hanya mampu menunduk, menyesali setiap sikap ketidakprofesionalan kami. Mungkin kami belum memiliki pengetahuan banyak tentang sebuah acara dibandingin kalian. Ini menjadi pelajaran bagi kami. Terimakasih sekali...
Tapi tolonglah… kalimat pembuka di saat evaluasi acara itu menurut saya lebih berisi hujan kritik kepada “kami”. Dan apa kalian sadar? Hal itu membuat redup semangat-semangat kami yang semula terbakar karena merasa acara selesai dengan sukses meski kami sadar kami tak memiliki kontribusi sedikitpun dalam banyak hal. Dan sungguh, kami merasa sangat bangga dengan kerja keras kalian yang meski tanpa tenaga kami mampu menghandle acara ini dengan sangat baik.
Jujur, hampir saja rasanya air mata ini ingin menumpahkan cairannya ketika kita duduk pada lingkaran yang kita buat. Tapi rasanya akan sangat “cengeng” sekali jika itu terjadi. Haha…
Walau kalimat pelipur lara itu muncul dengan sendirinya tapi tetap saja, kalimat-kalimat pedas itu terlanjur tertumpah dan tak lagi dapat kalian tarik. Meski kami tahu itu efek dari peluh-peluh kalian yang begitu hebat yang mampu melaksanakan acara ini dengan sangat baik meski tanpa sentuhan tangan kami sedikit pun.
Entah bagaimana percakapan batin setiap teman-teman yang tergabung dalam kaum mayoritas tapi seperti menjadi minoritas karena merasa “terbuang”. Jujur saja, kami ingin meringankan beban teman-teman yang tampak sibuk setiap waktu. Tapi rasanya setiap lini sudah ada yang mengisi. Dan kami takut campur tangan kami salah-salah akan menambah beban kalian yang sudah berat. Maaf, jadi ketika kami bergerombol dalam keminoritasan kami, kebingungan itu melanda, kawan. Kami bingung akan melakukan apa, bagaimana dan hal lainnya yang berbau istilah “kerja” seperti yang digalakkan presiden kita. Entahlah… mungkin kami terlihat seperti sarjana yang sedang berkeliaran mencari lowongan kerja. Menjadi cleaning service pun sudah syukur… hehe
Dan mulai saat ini, entah semangat kami masih bergelora atau tidak kami pun masih menghitungnya.
Sudahlah… berpanjang kalam hanya akan tidak menuntaskan tulisan bodoh ini. So, buat kalian yang merasa terbuang ketika ada acara yang walaupun disebut sebagai “acara kita bersama”, saya sekarang tahu apa yang kalian rasakan! Sippplah!
Okeh… Terimakasih telah memberikan pelajaran berharga tentang betapa sulitnya menyukseskan sebuah acara. 
Terimakasih telah memberikan pelajaran bahwa tidak cukup memandang sesuatu dari satu sudut pandang saja.
Terimakasih atas pelajaran hidup yang dapat beguna bagi kami kedepannya khususnya saya.
Terimakasih. Semoga kami pun suatu saat nanti mampu membuat acara sehebat kalian, kawan…!

#hanya_uneg-uneg_bodoh
Senin, 1 Desember 2014





Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Kepada Diri di Masa Depan
    images7.alphacoders.com Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan… Surat ini adalah surat yang aku dan...
  • Kisah 5 Binatang
    Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi to...
  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Sunnatullah Air & Minyak
    https://id.pinterest.com/ Saya belum cerita kalau kami satu kelas, ennnggggg tepatnya satu angkatan pada semester ini merasa sea...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (5)
      • Harapan untuk Kampus
      • Dosen-Dosen Memukau
      • Kebanggaan Satu Semester Itu...
      • HIJRAH
      • Maaf dan Terimakasih
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes