Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for 2014
#Tulisan 3

Nama : Wazi Fatinnisa
NIM    : E1C014060
Prodi  : PBSID (Regular Pagi)

Ini adalah tugas komputer 6 episode terakhir. Kali ini bahasannya sesuai judul postingan. Harapan untuk Kampus. Yeeeaaa...

Ehm... 
Hai, kampus! Iya, kamu! Do you know? Kamu selalu diharapkan untuk berwajah lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Pikiran saya bermonolog ria dengan bangunan-bangunan tua berwajah usang itu. #gedungD. (kembali meracau).
Karena sekarang kita berada di penghujung tahun, jadi bolehlah jika harapan untuk kampus putih kita ini, saya sebut dengan resolusi 2015 untuk kampus putih.
#Tulisan 2

Nama : Wazi Fatinnisa
NIM   : E1C014060
Prodi  : PBSID (Regular Pagi)

Ini adalah tugas komputer 6 episode kedua. Nah, pada tulisan kali ini, khusus membahas tentang dosen yang mengesankan pada semester satu.

Setiap dosen itu mengesankan dan memiliki gaya khas yang tak mungkin sama ketika mengajar. Perlu diingat postingan ini bukan untuk menunjukkan dosen yang disenangi dan yang tidak disukai karena pada dasarnya setiap dosen itu menyenangkan. Hanya saja para dosen memiliki sisi menyenangkan yang berbeda-beda. Dan postingan kali ini akan saya ulas sedikit mengenai beberapa dosen yang mengesankan menurut saya.

Memukau Lewat Sehelai Daun
Dosen pertama yang membuat saya terkesan ketika awal-awal masuk kuliah adalah Bapak Murahim. Mata saya selalu awas dan telinga telah siaga mendengar penjelasan Pak Dosen (agak alay kayaknya?). Ketika itu Beliau sempat membahas tentang seperti apa sebenarnya seorang sastrawan itu. Dan kalau tidak salah, Beliau memberikan sebuah contoh seperti ini,
Terdapat sehelai daun yang gugur dari tangkainya. Seorang sastrawan, ketika menemukan kejadian (daun gugur) itu, ia tidak menganggap daun yang gugur itu adalah angin lalu, tetapi ia berpikir bahwa ada sesuatu dengan daun yang gugur itu. Mengapa daun itu jatuh tepat dihadapannya? Mengapa tak dihadapan orang lain? Apa maksud dari gugurnya daun itu?
Hal semacam itulah yang dipikirkan oleh seorang sastrawan. Sastrawan akan memikirkan setiap apa yang terjadi di sekitarnya. Menjadi sastrawan itu harus peka dan kritis. Itu yang saya tangkap dari penjelasan beliau ketika itu. Sejak saat itu saya lebih sering mencatat mata kuliah teori sastra. Dan ternyata sangat menyenangkan mempelajarinya. Apalagi ketika materi yang dirasa terlalu berat untuk dimengerti, Beliau dengan gamblangnya menjelaskan secara sederhana inti dari materi itu. Cool…
Biasanya, Pak Murahim akan memberikan keterangan di akhir presentasi kelompok. Beliau sering menjawab pertanyaan yang tersisa di akhir presentasi, menambah wawasan kami tentang sastra yang masih sangat kurang hingga memperjelas presentasi yang terkadang keluar dari ranah sastra.
Mata kuliah sastra adalah yang paling saya tunggu. Karena saya lebih tertarik kepada sastra ketimbang linguistik meskipun ketika linguistik pun tetap menyenangkan dengan dosen yang kece pula. Tapi tetap saja porsi kesukaan saya pada kuliah sastra akan berbeda dengan linguistik.

Belajar Filsafat = Belajar Bijak
Sokrates pernah berkata,
Mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
Jadi dosen kedua yang mengagumkan menurut saya, adalah Pak Rusdiawan. Beliau adalah dosen mata kuliah pengantar filsafat. Ketika tahu bahwa pada semester satu ini saya medapatkan mata kuliah yang keren ini, saya sangat menunggu kuliah ini. Tetapi saya belum memiliki gambaran akan seperti apa kuliah filsafat.
Ketika kegiatan perkuliahan, saya merasa senang dan selalu ingin tahu dengan materi-materi pengantar filsafat yang disampaikan Pak Rusdiawan. Meskipun menurut beberapa orang beliau adalah seseorang yang sangat tegas dan ketat peraturannya. Tapi hingga akhir semester satu ini saya lebih suka mengatakan bahwa Beliau adalah orang yang bijak. Hehehe… Karena itu, terpikir oleh saya bahwa mempelajari filsafat dapat membuka jalan menjadi orang yang bijak.
Saya sempat berfikir bahwa hidup Pak Rusdiawan itu penuh dengan ketenangan akibat dari pelajaran tentang kebijakan itu (filsafat). Hehehe, saya masih dangkal untuk menyelami filosofis dari kebijakan itu sendiri. Dan mungkin Pak Rusdiawan bisa menjadi salah satu kategori dosen yang cukup bijak yang pernah saya temui. Kok bisa? Karena pertama, beliau mengajar pengantar filsafat (?). Kedua, pembawaan Beliau yang super tenang dan malah tak pernah marah kalau diperhatikan. Ketiga, selalu makan permen dan tidak pelit untuk berbagi. Hehehe saya suka alasan ketiga.
Menurut saya, mata kuliah filsafat itu bukan sekedar kuliah, tapi tempat merefleksikan diri kita. Disini kita belajar bagaimana seharusnya kita bertindak hingga mempelajari hakikat kebenaran yang sejati dari para tokoh filsafat. Di kuliah ini, Pak Rusdiawan sering sekali memberikan materi-materi kuliah yang saya rasa lebih tepatnya mengarah kepada ‘wejangan’. Ketika beliau memulai perkuliahan dengan kisah-kisah dari para filsuf, saya seperti membayangkan wajah sokrates dan lainnya. Bagaimana kehidupannya ketika itu, bagaimana diskusinya dengan orang-orang yang ditemuinya (ceeh… prok prok prok).
Pada pertemuan pertama kuliah, ketika itu Beliau membuat kesepakatan bahwa tidak apa jika terlambat yang penting tak mengganggu. Karena itu, saya dan mungkin kami semua sangat menyenangi Pak Rusdiawan. Hehehe… angkat bangku sendiri tapi kalau kehabisan.
Sebenarnya masih banyak lagi dosen-dosen yang mengagumkan. Tapi rasanya dua dosen saja sudah cukup. Sip! Tulisan kedua selesai

Okelah… Keep calm and lanjut ke #tulisan 3!



#Tulisan 1

Nama  : Wazi Fatinnisa
NIM     : E1C014060
Prodi    : PBSID (Regular Pagi)

Tulisan ini merupakan tugas komputer 6 episode pertama yang deadlinenya akhir tahun ini. Terimakasih atas tugasnya, Pak! Dengan senang hati dikerjakan. Sip! Mari kita mulai.

Ehmm… tess…
Selama kurang lebih satu semester menjejaki tanah FKIP Unram, sebuah kebanggaan bagi saya dapat bertemu dengan teman-teman yang super kece, dosen-dosen yang memukau dan tentu saja bisa masuk ke dalam sebuah keluarga yang kita sebut ‘BASTRINDO’ memiliki kebanggaan tersendiri dalam diri saya. Meskipun saat ini saya hanya bisa mengandalkan seragam PDH sebagai identitas keluarga (seragam PDH saya kebesaran!) Ciaat ciat…
Mungkin bagi banyak orang, hal yang saya sebutkan di atas adalah hal sederhana yang memang pasti dialami mahasiswa pada umumnya. Tapi menurut saya menjadi bagian dari sebuah keluarga adalah sebuah kebanggaan, apalagi ini HMPS sendiri, sodara-sodara. Maklumlah, usia-usia begini biasanya menjunjung tinggi nama baik kelompok. Ehem, ehemm… (Iye gati!)

Teman-Teman yang Super Kece
Setiap teman itu punya ke-kece-an masing-masing. Dan perempuan-perempuan imut ini adalah warga kelas yang biasanya jadi teman seperjalanan,sepelarian, sefotokopian, dan se-an yang lainnya. Halah… ngemeng apaan lagi… (#modus_250_kata) 



Maaf, tak punya banyak stok foto anak alay.
Tapi yang ini sepertinya cukup mewakili.

Dan tentu saja setiap kelas, menurut saya punya tetua masing-masing. Di kelas, tentu saja tetua kita adalah Pak Ketua Tingkat, Ismail Khalik yang terlampau kece untuk diceritakan dalam postingan ini. Kapan-kapan mari kita kisahkan ke-kece-an ketua tingkat kita. Hahaha…

Dosen-dosen yang memukau
Ini ada postingan khususnya #tulisan 2. Lanjutin baca yang bawah aja, oke?

BASTRINDO
Saya jadi teringat kisah seorang teman yang begitu menyedihkan. Sesorang bertanya padanya, “Apa itu Bastrindo?”. Wahhh… ngajakin berantem tuh orang, kayaknya? Hati mana, hati mana, dimana? Dimana? Yang pasti bukan di Jonggol, ya! Sakitnya tuh disini (nunjuk jidat). Sabar-sabar… Tapi pada akhirnya orang itu pasti tahu kepanjangan Bastrindo dan berdoalah agar dia selalu mengingatnya. Hahahaa…. HMPS Bastrindo adalah sebuah himpunan mahasiswa/i yang tergabung dalam program studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSID) khusus regular pagi. Yang pasti Bastrindo selalu kece.
Cukup sampai disini aja, ya postingannya. Karena saya harus melanjutkan postingan yang kedua dan ketiga. Entah kenapa ini tugas tidak disatukan saja menjadi satu postingan. (Yup!!!) Mungkin biar kita rajin ngeblog ya? iya bukan? Hehehehe… satu tulisan udah jadi!


Okelah… keep calm and lanjut ke #tulisan 2!

Kabar itu datang dari dia yang berkata tentang cinta ketika itu. Saya bertemu tanpa sengaja di lantai bawah gedung D. Ketika itu Saya baru keluar dari kelas filsafat sedangkan Ia akan masuk kelas. Kami berpelukan layaknya teletabies cukup lama untuk memeras rindu. Kemudian terlebih dahulu Saya menyalami tangannya atau dia ya? Saya lupa.
Wajahnya mengatakan ada yang ingin Saya sampaikan padamu, batin Saya. Di wajah teduh itu Saya temukan guratan kekhawatiran sekaligus sebuah kegembiraan yang akan dibaginya kepada Saya. Tapi entah apa, Saya belum tahu. Hingga seorang temannya mengutarakan "hal itu" karena ia merasa belum saatnya membicarakannya. Ternyata, Dia, yang ketika itu Saya ceritakan berbicara tentang cinta, berencana hijrah ke luar pulau.
Ketika itu Saya langsung kaget dan entah akan berkata apa kepadanya. Yang muncul adalah rasa senang, sedih..? dan semua rasa sepertinya berkecamuk menjadi satu. Tapi satu rasa yang Saya tunjukkan, ikut berbahagia atas kabar itu.

"Hijrah".
Itu yang Saya tangkap. Bagaimana sebuah hijrah mampu membuat sesuatu yang baik menjadi lebih baik. Entah karena alasan apa keinginannya untuk berencana hijrah tahun depan itu. Saya belum sempat berbicang banyak tentang hal ini. Tapi, yang Saya yakini dari dulu hingga saat ini bahwa Ia berjalan atas dasar kehendaknya. Bukan atas siapa-siapa. Ia adalah apa yang ia yakini. Dari hal itu pun Saya sudah dapat mengambil gambaran bagaimana kemauannya yang kuat untuk menjangkau kebenaran dari keyakinannya itu.
Hal itu pula yang membuat Saya merasa hingga saat ini entah apa yang Saya cari. Orang-orang di sekitar Saya, Saya rasa telah mendahului Saya untuk menjangkau kebaikan itu. Sedangkan Saya? sedikitpun tak ada yang berubah dari diri Saya. Entahlah… Rasanya Saya selalu konsisten dengan ketidakkonsistenan itu. Begitulah yang Saya baca.
Ketika akan menuju UPT Perpustakaan ketika itu, Saya mengingat kembali tentang rencana kepindahannya. Banyak hal yang berkecamuk dalam diri dan sepertinya hingga saat ini. Salah satunya adalah mempertanyakan kembali keputusan-keputusan yang telah Saya ambil.
Apakah dalam memilih jurusan ini, Saya memang benar-benar memilihnya sebagai keputusan final? Ataukah ini hanya sekadar keputusan pelarian/sampingan semata?
Apa keluar dari zona yang kita geluti saat ini akan membuat hati kita menikmati bagaimana perjalanan hidup ini?
Apa menjadi apa yang kita inginkan itu berbeda dengan apa yang kita senangi?
Jika pun sebuah hijrah akan memunculkan kebaikan yang lebih besar dari sebelumnya, maka seorang yang berhijrah harus siap menanggung konsekuensi dari "hijrah" itu sendiri.  Karena itu, sesorang yang berhijrah adalah mereka yang berjiwa kuat, tabah dan pemberani.

Dari keputusan yang diambilnya, Saya kemudian menemukan bahwa berhijrah baginya bukan sebagai bentuk pelarian diri dari rutinitas kampus hari ini, tapi lebih kepada orientasinya ke depan. Itu yang Saya lihat. Apalagi jika keputusan hijrah ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa senang dengan hal itu, Saya pun turut senang dan mendukung keputusan ini.
Jika mengingat keputusannya itu Saya merasa agak sedih. Karena seperti kehilangan seseorang yang akan pergi sangat jauh. Huh! Mungkin rasa sedih Saya belum bisa dianggap kesedihan jika dibanding dengan perasaan orang tuanya. Apalagi seorang anak perempuan yang pergi menununtut ilmu di tempat yang jauh.
Saya jadi ingat kalimat Imam Syafi'I rahimahullah, yang dijadikan pembuka dalam novel Negeri 5 Menara.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diamnya yang tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ia akan keruh dan menggenang
Singa jika tak meninggalkan sarangnya tak akan mendapat mangsa
Anak panah jika tidak dilepaskan dari busurnya tak akan kena sasarannya
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus ia diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya
Biji emas bagaikan tanah biasa tak berguna sebelum digali dari tambangnya
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika ia masih dalam hutan tak diolah


#turut andil pula Ost dari film IP Man ‘lost’ (nangis-nangis dah ente, Jik!). hehehe…
Ini nemu di sini Radityadika. Lucu aja, euy!


I'm Back!
Bismillahirrahmanirrahim…
Pernah menjadi salah satu bagian kepanitiaan acara? Atau malah sering? Well… ahad kemarin is the best or the worst day? I don’t know… Mungkin kata yang pantas diucapkan untuk saat ini adalah “jadikan pelajaran”! karena setiap hal yang kita lakukan akan menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Baik buruknya tergantung bagaimana kita mampu belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. (bijak banget ente, Jik! haha..)
Postingan kali ini saya khususkan untuk melengkapi uneg-uneg yang hanya mampu saya simpan dihati. Cie.. cie… stop! Ini bukan masalah cie.. cie… Ini serius! Wiiieesshh...
Kata maaf atas ketidakbergunaan “kami” rasa-rasanya belum sanggup melenyapkan amarah kalian terhadap sikap kami yang mungkin bisa dikatakan tak bertangungjawab atas tugas masing-masing. Kami hanya mampu menunduk, menyesali setiap sikap ketidakprofesionalan kami. Mungkin kami belum memiliki pengetahuan banyak tentang sebuah acara dibandingin kalian. Ini menjadi pelajaran bagi kami. Terimakasih sekali...
Tapi tolonglah… kalimat pembuka di saat evaluasi acara itu menurut saya lebih berisi hujan kritik kepada “kami”. Dan apa kalian sadar? Hal itu membuat redup semangat-semangat kami yang semula terbakar karena merasa acara selesai dengan sukses meski kami sadar kami tak memiliki kontribusi sedikitpun dalam banyak hal. Dan sungguh, kami merasa sangat bangga dengan kerja keras kalian yang meski tanpa tenaga kami mampu menghandle acara ini dengan sangat baik.
Jujur, hampir saja rasanya air mata ini ingin menumpahkan cairannya ketika kita duduk pada lingkaran yang kita buat. Tapi rasanya akan sangat “cengeng” sekali jika itu terjadi. Haha…
Walau kalimat pelipur lara itu muncul dengan sendirinya tapi tetap saja, kalimat-kalimat pedas itu terlanjur tertumpah dan tak lagi dapat kalian tarik. Meski kami tahu itu efek dari peluh-peluh kalian yang begitu hebat yang mampu melaksanakan acara ini dengan sangat baik meski tanpa sentuhan tangan kami sedikit pun.
Entah bagaimana percakapan batin setiap teman-teman yang tergabung dalam kaum mayoritas tapi seperti menjadi minoritas karena merasa “terbuang”. Jujur saja, kami ingin meringankan beban teman-teman yang tampak sibuk setiap waktu. Tapi rasanya setiap lini sudah ada yang mengisi. Dan kami takut campur tangan kami salah-salah akan menambah beban kalian yang sudah berat. Maaf, jadi ketika kami bergerombol dalam keminoritasan kami, kebingungan itu melanda, kawan. Kami bingung akan melakukan apa, bagaimana dan hal lainnya yang berbau istilah “kerja” seperti yang digalakkan presiden kita. Entahlah… mungkin kami terlihat seperti sarjana yang sedang berkeliaran mencari lowongan kerja. Menjadi cleaning service pun sudah syukur… hehe
Dan mulai saat ini, entah semangat kami masih bergelora atau tidak kami pun masih menghitungnya.
Sudahlah… berpanjang kalam hanya akan tidak menuntaskan tulisan bodoh ini. So, buat kalian yang merasa terbuang ketika ada acara yang walaupun disebut sebagai “acara kita bersama”, saya sekarang tahu apa yang kalian rasakan! Sippplah!
Okeh… Terimakasih telah memberikan pelajaran berharga tentang betapa sulitnya menyukseskan sebuah acara. 
Terimakasih telah memberikan pelajaran bahwa tidak cukup memandang sesuatu dari satu sudut pandang saja.
Terimakasih atas pelajaran hidup yang dapat beguna bagi kami kedepannya khususnya saya.
Terimakasih. Semoga kami pun suatu saat nanti mampu membuat acara sehebat kalian, kawan…!

#hanya_uneg-uneg_bodoh
Senin, 1 Desember 2014





Che Guevara
Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama Che Guevara. Pertama kali saya mendengar nama itu ketika Saya mengikuti pelatihan jurnalistik dasar yang diadakan salah satu UKM kampus. Ketika itu salah satu narasumber membahasa sedikit tentang Che Guevara. Dan saya ingat kata-kata Che yang dikatakan oleh Narasumber waktu itu,
Jika hatimu Bergetar melihat ketidakadilan dan penindasan, maka kau adalah kawanku.
#Che Guevara
Ketika saya mencoba browsing di internet ternyata wajah dengan pencarian “Che Guevara” itu lebih familiar ketimbang namanya. Okeh... Disini Saya hanya sekedar ingin berbagi sedikit saja tentang sosok Che Guevara.
Che Guevara memiliki nama asli Ernesto Guevara Lynch de La Serna atau Ernesto Lynch. Lahir di Rosario, Argentina pada 14 Juni 1928. Merupakan seorang revolusioner, dokter, intelektual, pemimpin gerilya, diplomat, sekaligus ahli militer.
Sejak kecil Che Guevara menderita asma sehingga Ia dan keluarganya harus pindah ke daerah kering di Kordoba. Dan di usia mudanya, Ia telah rajin membaca buku dan literatur-literatur Karl Marx dan lainnya. Ketika SMP Ia menjadi yang terbaik pada bidang sastra dan olahraga.


Foto Che Guevara yang satu ini adalah foto yang paling sering kita jumpai di poster-poster, kaos ataupun stiker, bukan? Ternyata foto Che dengan brewok lebat, rambut tak terurus dan baret hitam khasnya ini diambil oleh seorang asisten fotografer berkebangsaan Kuba bernama Alberto Korda. Awalnya Korda hanya seorang penjual ensiklopedia yang kemudian berubah profesi menjadi asisten fotografer.
Bagi masyarakat Kuba, Che, panggilan kecilnya adalah seorang pahlawan. Dia salah satu tokoh yang berjuang mengeluarkan Kuba dari kekuasaan diktator Batista bersama Fidel Caestro. Sejarah revolusi Kuba sudah membuat sosok Che melekat di hati rakyat Kuba.
Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di daerah Bolivia, karena Ia salah memperkirakan potensi Negara itu yangmengakibatkan konsekuensi buruk bagi dirinnya sendiri. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya. Hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu. Che Guevara meninggal di Bolivia, 9 Oktober 1867 pada umur 39 tahun.
Che melegenda. Dikenang dan menjadi idola bahkan bagi kaum muda generasi tahun 1960-1970 karena tindakan revolusionernya yang tak kenal takut.
Pada sebuah situs www.marxists.org, ditampilkan surat yang ditulis oleh Che Guevara kepada Fidel Castro. Surat itu   dibacakan langsung oleh Fidel tanggal 3 oktober 1965 pada rapat terbuka yang mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba yang baru terbentuk. Pada rapat itu hadir pula istri Guevara dan anak-anaknya, Castro menyatakan:
"Saya hendak bacakan sebuah surat, yang ditulis tangan dan kemudian diketik, dari kawan Ernesto Guevara, yakni penjelasan diri… Tertulis demikian: 'havana' --tanpa tanggal, surat yang musti dibacakan pada kesempatan yang amat baik, namun sesungguhnya dibuat pada tanggal 1 April tahun ini."
Pembacaan, surat ini merupakan penjelasan terbuka pertama kali sejak guevara tidak pernah nampak lagi di Kuba.
Havana,
Tahun Pertanian

Fidel:
Pada saat ini aku teringat banyak hal --ketika aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Maria Antonia, ketika kau mengusulkan aku untuk ikut serta, seluruh ketegangan terlibat dalam persiapan itu.(peperangan/gerilya melawan Batista, pent)
Suatu ketika ketegangan-ketegangan itu akan menghampiri kita lagi dan menagih nyawa kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu memukul kita semua. Di kemudian hari tahulah kita bahwa itu benar, bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi). Banyak kawan yang berjatuhan sepanjang jalan menuju kemenangan.
Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita lebih matang. Namun kejadian-kejadian kembali terulang. Aku merasa bahwa aku telah memenuhi kewajibanku yang mengikatkan aku pada revolusi Kuba, secara teritorial, dan kuucapkan selamat berpisah padamu, pada rakyatmu, yang sekarang rakyatku juga.
Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukan dalam kepemimpinan nasional partai, kedudukan, sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku. Tak ada yang legal yang mengikatku dengan Kuba. Satu-satunya ikatan adalah hal lain --ikatan yang tak bisa diputuskan seperti pemberhentian seseorang dari sebuah jabatan.
Merenungkan kehidupan masa laluku, aku yakin aku telah bekerja dengan cukup jujur dan pengabdian untuk mengkonsolidasikan kejayaan revolusioner. Satu-satunya kesalahanku yang serius adalah tidak punya kepercayaan yang besar padamu saat pertama di Sierra Maestra dulu, dan tidak segera yakin akan kualitasmu sebagai seorang pemimpin dan seorang revolusioner. 
Hari-hari kehidupanku kulewati dengan indah di sini, dan di sisimu aku merasa bangga memiliki rakyat yang demikian tangguh menghadapi saat-saat penuh penderitaan dalam krisis Karibia.
Jarang sekali ada negarawan yang lebih ulung darimu menghadapi saat-saat seperti itu. Akupun bangga mengikutimu tanpa keraguan, mengidentifikasikan dengan jalan pikiran, pandangan, perhitungan menghadapi bahaya, dan prinsip-prinsipmu. Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpa mengikutsertakanmu karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pimpinan kuba, dan tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah.
Ketahuilah, bahwa aku melakukan tugas ini dengan campuran perasaan bahagia dan sedih. Kutinggalkan di sini harapan-harapanku yang paling murni sebagai seorang pembangun dan seluruh ketulusanku yang paling dalam. Kutinggalkan orang-orang yang telah menganggapku anak. Itu semua sesungguhnya menimbulkan luka yang dalam bagiku. Akan kubawa ke medan juang baru segala hal yang kau ajarkan padaku, semangat revolusioner rakyat kita, perasaan untuk memenuhi kewajiban yang amat suci: berjuang menentang imperialisme dimanapun ia adanya. Ini yang akan mengobati dan  mengeringkan luka di jiwaku.
Kunyatakan sekali lagi bahwa aku melepaskan Kuba dari tanggung jawab apapun juga, kecuali teladan-teladan yang diberikannya. Kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga konsekuensiku yang paling akhir dari tindakanku.
Aku selalu mengidentifikasikan diri dengan kebijaksanaan luar negeri dari revolusi kita, dan akan meneruskannya. Dimanapun aku berada, aku akan merasa bertanggung jawab terhadap revolusi Kuba, dan aku kan menjaganya. Aku tak merasa malu bahwa aku tak meninggalkan kekayaan materi untuk anak-anak dan istriku; aku bahagia dengan cara seperti itu. Aku tak memintakan apapun untuk mereka, karena negara akan mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk mereka.
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu dan pada rakyat kita, namun aku merasa hal itu tak perlu. Kata-kata tak akan mampu mengekspresikan apa yang ingin ku ungkapkan itu, dan kupikir tak ada manfaatnya untuk membuat coretan lebih banyak lagi di sini.
Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)
Patria o muerte! (Tanah air atau mati)
Kupeluk kau dengan sepenuh semangat revolusionerku.
Che
sumber
Ribuan malaikat
menjejakkan sayap pada tiap jengkal do'a-do'a kudus yang terpanjat

Ketika ikrar terucap, saat itu pula
pundak tegap itu mendapati tak hanya dirinya disana
tapi telah hadir pundak lain yang 'kan bersandar

Ribuan malaikat turun
menyaksikan patrian janji seorang lelaki
mencatat dan mengamini
setiap isyarat do'a kepada Ia, yang berjanji dan Ia, yang dijanjikan

Ribuan malaikat turun saat ini
Sayapnya masih mengawang di angkasa cinta

Ketika itu,
Sang lelaki
Menyaksikan dirinya memeluk teguh

Janji yang 'kan ia labuhkan dalam perahu rumah tangga bersama sang wanita...
Janji yang diretaskan sang ayah padanya

Hari ini,
Ribuan malaikat menyerbu naik
kembali
pada peraduannya.

Kami tiba disana. Kulihat Ia dalam balutan serba putih. Itulah mengapa Ia meminta aku dan Jeng Pie menggunakan atasan putih. Wajahku semula ingin kusetel dengan sedemikian hingga agar nuansa kebahagiaan itu mengalir perlahan hingga akhir. Tapi memang begitulah adanya wajah ini. Datar tanpa ekspresi.
Kami lalu melihat beberapa temannya yang lebih dulu hadir. Lanjut! Yang ditunggu-tunggu tiba. Prosesi akad nikah.

Segala ingatan tentang kata “akad” bermunculan dari kepala ini. Slide-slide peristiwa ketika Pak Wahyudi menjelaskan dengan syahdu bahwa, 
ketika prosesi akad nikah, maka di tempat itu malaikat berduyun-duyun turun untuk mendoakan sang pasangan pengantin. Di tempat itu, di waktu itu, sebuah acara sakral yang syahdu terjadi. Sebuah prosesi perpindahan tanggung jawab dari seorang ayah kepada lelaki pilihan yang siap memeluk teguh itu.

Ketika bapak menjabat tangan lelaki itu, ingin rasanya kutumpahkan semua air mata yang ada. Entah bagaimana suasana hati bapak saat itu, aku tak tahu, tak ada yang tahu, yang mengira-ngira isi hati mungkin banyak.
Memang takdir tak tertebak. Rencana Allah adalah kesempurnaan. Hanya saja manusia yang tak paham dibalik rencanaNya.  Yeah, akhirnya lu dapat pendamping juga ya Ma! Barakallahulakuma!
Gimana perasaan ente, Jik? 
Whaaa... I can explain it. But… rasanya belom kerasa aja. Dan apa yah.... aneh saja meninggalkan saudara sendiri di tempat orang lain. Hehehe...
"Now, I understand what do you feel, Yen!"
  
Lalu saya berfikir dan mungkin lebih tepatnya mengingati puisi terakhir dari Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS sesaat sebelum wafat)

Dari kata-kata Rendra itu, Saya mencoba mengingatkan diri saya yang begitu sombong…

Kita terlampau sering menangisi apa yang telah hilang dari tangan kita. Padahal apa yang kita genggam sesaat lalu adalah hanya titipanNya semata. Jiwa ini pun sekedar tempat kita bernaung. Hanya masalah waktu yang menjadi jawaban kapan masanya titipan itu kan pergi, menjauh dan kembali kepada pemiliknya.

Barakallahulakuma wa Baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fil khair
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu & keberkahan atas pernikahan kamu, & mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (5)
      • Harapan untuk Kampus
      • Dosen-Dosen Memukau
      • Kebanggaan Satu Semester Itu...
      • HIJRAH
      • Maaf dan Terimakasih
    • ►  November (3)
      • Pria Brewok Itu, Che Guevara!
      • It's Time to Let Her Go!
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes