Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Juli 2017

 Beberapa waktu lalu, saya sempat membuka facebook dan mendapati hal yang cukup membahagiakan untuk beberapa orang termasuk saya. Sebelumnya saya telah menulis mengenai Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Seorang Penumpang (Jilid I). Di tulisan itu saya menulis sedikit kekecewaan saya terhadap seorang senior yang sejak dulu saya kagumi dan karena satu hal membuat saya agak kecewa dengannya.
Pada tulisan itu saya menulis bahwa ia membebaskan kepalanya dari helaian kain bernama hijab. Alasannya tersebab humanisme seingat saya ketika itu. Dan hal terakhir yang saya ingat darinya adalah keputusannya itu tidak permanen alias besar kemungkinan akan berubah.
Akhirnya, beberapa waktu di bulan puasa lalu, seorang kawan penghuni tetap sekret berpapasan dengannya, tapi mereka tak saling lihat ketika itu. Kata kawan itu, Ia kini kembali berhijab. Saya yang mendengar informasi itu, pasang muka excited gittuhh… Ya iyalah… gimana kagak, coba… Memang, rahasia masa depan mah siapa yang tahu coba? Dan ternyata informasi itu berlanjut dengan ditemukannya bukti otentik di beranda facebook saya. Alhamdulillah, bukan hoax.. Ia berhijab lagi. ^_^
Mungkin bagi beberapa kalangan, menanggalkan hijab, jilbab dkk lalu memasangnya kembali pada kepala yang sama adalah perkara lumrah. “Yang begituan mah, biasa! Udahlah, toh banyak pula perempuan yang bongkar-pasang hijab dan tanpa malu melakukannya di tengah masyarakat, kayak seleb-seleb ramadaniyyun gitulah… gak ngaruh buat orang,"
Masalahnya bukan itu. Saya tahu pula itu. Perihal sosok yang satu ini, Ia adalah perempuan yang saya kenal dan cukup saya kenal. Jelas dan saya tahu Ia bukan tipe manusia yang berani berbuat tidak berani bertanggungjawab. Baiklah, penilaian saya mungkin salah, tapi untuk perempuan yang satu ini, saya tak bisa pungkiri bukan hal biasa ia melakukan hal (menanggalkan hijab) yang bagi saya cukup mustahil untuk dilakukannya.
Terlepas dari tanda tanya (yang diperlihatkan Aan Mansyur, halaah) yang sejak lama sempat mengganggu itu, saya benar-benar berbahagia. Bahagia karena saudara seiman, sebangsa dan setanah air itu dapat kembali mengenakan hijabnya. Bukan pula saya memilih pertemanan dengan alasan hijabnya, bukan. Ini hanya seperti nilai plus dalam pertemananlah, kira-kira. Yang punya kesamaan tersendiri dengan teman dalam satu geng biasanya lebih dekat, kan? Yah, semacam itulah, meski saya bisa dikatakan bukanlah termasuk mayoritas orang terdekat perempuan ketjeh ini. Jelas ada kebahagiaan tersendiri, ketika sesama saudara—apalagi seiman, dapat taat pada perintahNya dengan segala taat. Allahu akbar! Laa haula walaa quwwata illa billah…
Dengan sepenuh hati saya memohon kepada Allah agar Ia, saya dan muslimah lain dilimpahkan karunia berupa keistiqomahan dalam berjilbab, Aamiin. Sehingga kelak, jilbab yang hari ini kita kenakan dengan bangga karena alasan tunduk dan taat karena Allah, akan bersaksi di hadapanNya dengan bangga pula. Dibela sama jilbab sendiri. Kurang luar biasa apalagi coba? Hehe…
Jadi, sudahlah…
Ketaatan kepada Allah tidak ada ruginya, malah dapat bonus. Jujur, hati saya benar-benar bahagia, sebahagia foto Mbak berjilbab merah yang ingin saya peluk itu. Saya hanya ingin melihat hari ini, ketika sosoknya kembali membuat kami ingin memeluknya, rindu dengan kalimatnya yang selalu on fire, rindu sama semuanya. Hihihi, kagak pernah ketemu yang lamaaa sama Mbak yang satu ini…
Jadi, sudahlah…
Benarlah, bahwa penumpang tetaplah seorang penumpang. Ia tak bisa meminta seenak hati kepada si yang punya kendaraan. Namanya aja penumpang, ya berarti cuman numpang. Gak punya hak buat ngatur-ngatur yang empunya. Lah, mending penumpangnya bayar, lah ini kagak. Mintanya pake nyolot lagi! Hahaha… Pun sebenarnya kita semua adalah penumpang sejatinya. Allah yang punya bumi, Allah yang punya langit, lah kita? Sok-sokan pengen mengubah seorang hamba Allah menjadi lebih baik. Ngaca aja dulu! Diri sendiri udah baik belum, Jik? Makanya jangan make up muka aja yang diliatin! Make up hati, perlu juga, kali! hehehe… Manggut-manggut ajeh…
Apapun alasan seseorang yang tengah berbuat kebaikan hari ini, tetaplah ingat bahwa perihal kebaikan, kita harus menilai seseorang dari kavernya. Please, jangan mencoba untuk mengungkit keburukan atau kesalahan masa lalu seseorang dengan tujuan menjatuhkan. Cukuplah keburukan maupun kesalahan itu menjadi pelajaran untuk kita agar terus berbenah diri dan mengharap istiqomah di jalan Allah. Kita aje banyak aib, mau main buka aib orang… Penumpang, penumpang!!
Sejatinya, kita semua sedang hijrah. Hijrah dari satu keburukan kepada satu kebaikan. Jadi, biar kita kagak bangkrut, ya janganlah selangkah kebaikan yang kita lakukan, kita balas dengan dengan selangkah keburukan di depannya. Itu mah amblas namanya. Bangkrut, euy!
Banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya. Mengenai minggu-minggu tersulit di semester ini dan beberapa kejutan luar biasa di sela-selanya. Tapi, ya sudahlah… ini pun bersyukur dapat angen nulis dan selesai. Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum…


Mengenai humanis. Saya jadi teringat dengan seorang senior di kampus. Ia sosok yang saya kagumi, dulu. Kini, masih sama meski ada tagar-tagar mengenai dirinya yang tak seharusnya tercerabut dari ruang di kepala.

Saya suka sikapnya, caranya mengajak kami yang ketika itu masih unyu-unyu untuk mulai membuka suara ketika berpendapat, saya suka caranya mengikutsertakan kami pada setiap kegiatan apa pun dengan cara yang membuat kami tak lagi canggung. Saya suka dakwah menulisnya pada kami yang terasa simpel. Wanita berjilbab itu, saya menyukainya pada banyak hal.

Suatu hari, saya terkaget-kaget melihatnya tak mengenakan jilbab. Mata saya yang seharusnya terbelalak tak menunjukkan ekspresi kekagetan, ekspresi yang seharusnya muncul saat itu. Saya diam. Pikiran saya kelana mencari-cari ruang dengan namanya di pikiran. Keheningan di tempat itu sempurna menyeruakkan kecanggungan tak biasa. Mungkin ia tahu pada diamnya saya berarti ribuan pertanyaan tersumpal di benak.

Kebekuan di hari itu berlalu. Berhari-hari saya menyimpan suara untuk tak mau berkomentar apa-apa dan bercerita pada siapa-siapa. Saya ingin menutup rapat-rapat hal itu. Berharap ada yang keliru pada hari kemarin ketika saya berjumpa dengannya. Pikiran saya terus saja berputar-putar tak tentu sampai pada suatu ketika saya merasa tak bisa lagi menahan pikiran itu menggelayuti otak saya. Akhirnya saya bertanya pada salah satu teman yang memang lebih intens berjumpa dengannya karena berada dalam satu komunitas. Percakapan kami berakhir tanpa benar-benar berakhir.

Suatu ketika saya dan teman-teman berkumpul di ruang itu, kembali. Satu persatu teman yang hadir menampakkan kebekuan yang mungkin hampir sama dengan yang saya lakukan beberapa waktu lalu.Tepat hari itu, ketika kami semua berkumpul di ruangan itu, salah satu dari kami sekonyong-konyong menyatakan kegundahannya pada suasana beku yang telah beberapa hari ini bertengger karena perubahan darinya. Ia mengatakan hal itu untuk menyelesaikan berkeliarnya tanya-tanya yang ada pada kami. Apa itu terlihat jelas di wajah kami? Entahlah…

Akhirnya ia bersuara. Jawabannya cukup mengejutkan ternyata. Versi ingatan saya, ia mengatakan tengah belajar. Belajar tentang humanis. Pikiran saya mencoba menjejaki kosakata humanis meski saya tak begitu paham sesungguhnya humanis itu seperti apa. Tak banyak yang muncul dari hasil pencarian cepat saya. Beberapa diantaranya berwujud wajah-wajah bahagia, uluman senyum, tangan yang memberi, hati yang dipenuhi kebaikan dan beberapa sosok manusia-manusia luar biasa. Sepertinya masih ada yang tersisa tapi yah, sepantaran itulah yang saya ingat.

Saya mafhum ia memang penulis sejati. Puisinya telah banyak beredar di harian-harian nasional pun buku puisinya telah banyak yang terbit. Komunitas menulis yang ia geluti pun memang sedikit banyak saya ketahui memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk menuangkan pikiran. Saya kira sastra pada ranah kebanyakan memang sering seperti itu. Akan tetapi tetap saja, nak sebebas-bebasnya burung terbang, hingga kini ia masih terbang di lingkaran pagar bernama bumi.

Ia juga mengatakan kalau ia ingin melihat sosok humanis dari orang-orang yang dikenalnya. Apakah dengan penampilannya yang sangat berbeda akan membuat orang-orang di sekelilingnya menatapnya dengan berbeda. Apalagi dengan keadaan seperti sekarang ini ketika ia menggugurkan satu kewajiban yang fundamental dari agama.

Dikatakannya juga bahwa ia risih dengan perilaku para akhwat sekarang yang kebanyakan hanya menjadikan jilbab bukan sebagai syariat tapi fashion yang tak cermat. Itulah yang dikatakannya waktu itu.

Belum Rela
Kutanyakan padanya bahwa apa ia sadar dan tahu dengan keputusan yang diambilnya? Jawabannya sangat jelas. Ia tahu. Bahkan surat dalam Al-Qur'an yang menerangkan mengenai kewajiban menutup aurat (An-Nur ayat 31 yang sering saya lupa ayat berapa) itu pun telah ia hapal benar bahkan sepertinya ia lebih paham dari kami-kami yang berada di sana ketika itu. Lalu? Saya terdiam. Pada tahap ini saya merasa sangat bodoh. Mempertahankan seorang teman seiman untuk memenuhi kewajibannya itu sungguh tak mudah jika bukan dari dirinya. Ia pun seingat saya menutup penjelasannya bahwa keadaannya seperti ini tak menutup kemungkinan dirinya akan beralih kembali untuk memenuhi kewajiban itu, jika ia.

Lalu sekarang?

Seperti kataku tadi, hanya mereka yang benar-benar sadar yang akan menyadari betapa kewajiban adalah sebuah keharusan untuk kemudian menindaklanjuti pemberian hak dari sang pencipta. Tapi, aku tak tahu akan berkata apa, teman.

Setelah hari itu, aku dan teman-teman ternyata masih menjadikannya tagar teratas perbincangan di antara kami.

Berhari-hari setelah itu, tetap saja saya belum rela dengan keputusan senior tercinta saya itu untuk menanggalkan jilbabnya hanya gara-gara ideologi barat perayu dunia bernama humanis.

Mengenai alasannya karena lelah melihat fenomena fashion hijab yang menggarang, ingin saya katakan, Hai, Mbak… biarkan saja. Mungkin itu salah satu cara mereka untuk memulai mendekatkan diri kepada pencipta. Suatu hari mereka akan sadar, tapi jalan mana yang akan dipilih, tergantung pengemudi bukan pemilik mobil.

Pikiran saya kemudian bercakap panjang, 

Lalu mengapa kita tak mencoba untuk menjadi salah satu pemeran utama protagonis dalam lingkaran terdekat kita?. Biarkan mereka melihat sendiri jilbab seperti apa yang sesungguhnya benar-benar disyariatkan bukan malah kita yang keluar dari lingkaran jilbab itu sendiri. Terang saja dengan keputusan itu tak mengubah apa pun untuk perempuan penggelut hijab fashion. Belajar humanis? Hai, Mbakku yang kucintai… humanis macam apa yang ingin kau lihat dari manusia. Sosok kemanusiaan seperti apa yang kau harap datang dari onggokan daging berlapis-lapis bernama manusia. Lalu setelah kau temukan jawabannya, apa keadaanmu kini mampu mengubah sikap humanis mereka menjadi lebih baik? Saya sangat yakin jawabannya tidak.

Pada akhirnya saya hanya menyadari status saya sebagai penumpang. Penumpang tetaplah penumpang, ia tak dapat berbuat banyak dalam perkara jalan yang akan dilalui kendaraan yang ditumpanginya. Pengemudi menjadi satu-satunya pemegang kendali. Akan lain ceritanya jika pemilik mobil yang datang dan berbincang dengannya.

Salam ilalang



4 Maret 2017

Mengendap di laptop cukup lama. Sengaja diunggah, siapa tahu bermanfaat. Siapa yang tahu?
Maaf jika kurang berkenan.


Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ▼  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ▼  Juli (2)
      • Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Penumpang (Jilid...
      • Pada Akhirnya, Penumpang Tetaplah Penumpang (Jilid I)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes