Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for November 2014
Che Guevara
Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama Che Guevara. Pertama kali saya mendengar nama itu ketika Saya mengikuti pelatihan jurnalistik dasar yang diadakan salah satu UKM kampus. Ketika itu salah satu narasumber membahasa sedikit tentang Che Guevara. Dan saya ingat kata-kata Che yang dikatakan oleh Narasumber waktu itu,
Jika hatimu Bergetar melihat ketidakadilan dan penindasan, maka kau adalah kawanku.
#Che Guevara
Ketika saya mencoba browsing di internet ternyata wajah dengan pencarian “Che Guevara” itu lebih familiar ketimbang namanya. Okeh... Disini Saya hanya sekedar ingin berbagi sedikit saja tentang sosok Che Guevara.
Che Guevara memiliki nama asli Ernesto Guevara Lynch de La Serna atau Ernesto Lynch. Lahir di Rosario, Argentina pada 14 Juni 1928. Merupakan seorang revolusioner, dokter, intelektual, pemimpin gerilya, diplomat, sekaligus ahli militer.
Sejak kecil Che Guevara menderita asma sehingga Ia dan keluarganya harus pindah ke daerah kering di Kordoba. Dan di usia mudanya, Ia telah rajin membaca buku dan literatur-literatur Karl Marx dan lainnya. Ketika SMP Ia menjadi yang terbaik pada bidang sastra dan olahraga.


Foto Che Guevara yang satu ini adalah foto yang paling sering kita jumpai di poster-poster, kaos ataupun stiker, bukan? Ternyata foto Che dengan brewok lebat, rambut tak terurus dan baret hitam khasnya ini diambil oleh seorang asisten fotografer berkebangsaan Kuba bernama Alberto Korda. Awalnya Korda hanya seorang penjual ensiklopedia yang kemudian berubah profesi menjadi asisten fotografer.
Bagi masyarakat Kuba, Che, panggilan kecilnya adalah seorang pahlawan. Dia salah satu tokoh yang berjuang mengeluarkan Kuba dari kekuasaan diktator Batista bersama Fidel Caestro. Sejarah revolusi Kuba sudah membuat sosok Che melekat di hati rakyat Kuba.
Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di daerah Bolivia, karena Ia salah memperkirakan potensi Negara itu yangmengakibatkan konsekuensi buruk bagi dirinnya sendiri. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya. Hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu. Che Guevara meninggal di Bolivia, 9 Oktober 1867 pada umur 39 tahun.
Che melegenda. Dikenang dan menjadi idola bahkan bagi kaum muda generasi tahun 1960-1970 karena tindakan revolusionernya yang tak kenal takut.
Pada sebuah situs www.marxists.org, ditampilkan surat yang ditulis oleh Che Guevara kepada Fidel Castro. Surat itu   dibacakan langsung oleh Fidel tanggal 3 oktober 1965 pada rapat terbuka yang mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba yang baru terbentuk. Pada rapat itu hadir pula istri Guevara dan anak-anaknya, Castro menyatakan:
"Saya hendak bacakan sebuah surat, yang ditulis tangan dan kemudian diketik, dari kawan Ernesto Guevara, yakni penjelasan diri… Tertulis demikian: 'havana' --tanpa tanggal, surat yang musti dibacakan pada kesempatan yang amat baik, namun sesungguhnya dibuat pada tanggal 1 April tahun ini."
Pembacaan, surat ini merupakan penjelasan terbuka pertama kali sejak guevara tidak pernah nampak lagi di Kuba.
Havana,
Tahun Pertanian

Fidel:
Pada saat ini aku teringat banyak hal --ketika aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Maria Antonia, ketika kau mengusulkan aku untuk ikut serta, seluruh ketegangan terlibat dalam persiapan itu.(peperangan/gerilya melawan Batista, pent)
Suatu ketika ketegangan-ketegangan itu akan menghampiri kita lagi dan menagih nyawa kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu memukul kita semua. Di kemudian hari tahulah kita bahwa itu benar, bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi). Banyak kawan yang berjatuhan sepanjang jalan menuju kemenangan.
Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita lebih matang. Namun kejadian-kejadian kembali terulang. Aku merasa bahwa aku telah memenuhi kewajibanku yang mengikatkan aku pada revolusi Kuba, secara teritorial, dan kuucapkan selamat berpisah padamu, pada rakyatmu, yang sekarang rakyatku juga.
Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukan dalam kepemimpinan nasional partai, kedudukan, sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku. Tak ada yang legal yang mengikatku dengan Kuba. Satu-satunya ikatan adalah hal lain --ikatan yang tak bisa diputuskan seperti pemberhentian seseorang dari sebuah jabatan.
Merenungkan kehidupan masa laluku, aku yakin aku telah bekerja dengan cukup jujur dan pengabdian untuk mengkonsolidasikan kejayaan revolusioner. Satu-satunya kesalahanku yang serius adalah tidak punya kepercayaan yang besar padamu saat pertama di Sierra Maestra dulu, dan tidak segera yakin akan kualitasmu sebagai seorang pemimpin dan seorang revolusioner. 
Hari-hari kehidupanku kulewati dengan indah di sini, dan di sisimu aku merasa bangga memiliki rakyat yang demikian tangguh menghadapi saat-saat penuh penderitaan dalam krisis Karibia.
Jarang sekali ada negarawan yang lebih ulung darimu menghadapi saat-saat seperti itu. Akupun bangga mengikutimu tanpa keraguan, mengidentifikasikan dengan jalan pikiran, pandangan, perhitungan menghadapi bahaya, dan prinsip-prinsipmu. Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpa mengikutsertakanmu karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pimpinan kuba, dan tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah.
Ketahuilah, bahwa aku melakukan tugas ini dengan campuran perasaan bahagia dan sedih. Kutinggalkan di sini harapan-harapanku yang paling murni sebagai seorang pembangun dan seluruh ketulusanku yang paling dalam. Kutinggalkan orang-orang yang telah menganggapku anak. Itu semua sesungguhnya menimbulkan luka yang dalam bagiku. Akan kubawa ke medan juang baru segala hal yang kau ajarkan padaku, semangat revolusioner rakyat kita, perasaan untuk memenuhi kewajiban yang amat suci: berjuang menentang imperialisme dimanapun ia adanya. Ini yang akan mengobati dan  mengeringkan luka di jiwaku.
Kunyatakan sekali lagi bahwa aku melepaskan Kuba dari tanggung jawab apapun juga, kecuali teladan-teladan yang diberikannya. Kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga konsekuensiku yang paling akhir dari tindakanku.
Aku selalu mengidentifikasikan diri dengan kebijaksanaan luar negeri dari revolusi kita, dan akan meneruskannya. Dimanapun aku berada, aku akan merasa bertanggung jawab terhadap revolusi Kuba, dan aku kan menjaganya. Aku tak merasa malu bahwa aku tak meninggalkan kekayaan materi untuk anak-anak dan istriku; aku bahagia dengan cara seperti itu. Aku tak memintakan apapun untuk mereka, karena negara akan mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk mereka.
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu dan pada rakyat kita, namun aku merasa hal itu tak perlu. Kata-kata tak akan mampu mengekspresikan apa yang ingin ku ungkapkan itu, dan kupikir tak ada manfaatnya untuk membuat coretan lebih banyak lagi di sini.
Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)
Patria o muerte! (Tanah air atau mati)
Kupeluk kau dengan sepenuh semangat revolusionerku.
Che
sumber
Ribuan malaikat
menjejakkan sayap pada tiap jengkal do'a-do'a kudus yang terpanjat

Ketika ikrar terucap, saat itu pula
pundak tegap itu mendapati tak hanya dirinya disana
tapi telah hadir pundak lain yang 'kan bersandar

Ribuan malaikat turun
menyaksikan patrian janji seorang lelaki
mencatat dan mengamini
setiap isyarat do'a kepada Ia, yang berjanji dan Ia, yang dijanjikan

Ribuan malaikat turun saat ini
Sayapnya masih mengawang di angkasa cinta

Ketika itu,
Sang lelaki
Menyaksikan dirinya memeluk teguh

Janji yang 'kan ia labuhkan dalam perahu rumah tangga bersama sang wanita...
Janji yang diretaskan sang ayah padanya

Hari ini,
Ribuan malaikat menyerbu naik
kembali
pada peraduannya.

Kami tiba disana. Kulihat Ia dalam balutan serba putih. Itulah mengapa Ia meminta aku dan Jeng Pie menggunakan atasan putih. Wajahku semula ingin kusetel dengan sedemikian hingga agar nuansa kebahagiaan itu mengalir perlahan hingga akhir. Tapi memang begitulah adanya wajah ini. Datar tanpa ekspresi.
Kami lalu melihat beberapa temannya yang lebih dulu hadir. Lanjut! Yang ditunggu-tunggu tiba. Prosesi akad nikah.

Segala ingatan tentang kata “akad” bermunculan dari kepala ini. Slide-slide peristiwa ketika Pak Wahyudi menjelaskan dengan syahdu bahwa, 
ketika prosesi akad nikah, maka di tempat itu malaikat berduyun-duyun turun untuk mendoakan sang pasangan pengantin. Di tempat itu, di waktu itu, sebuah acara sakral yang syahdu terjadi. Sebuah prosesi perpindahan tanggung jawab dari seorang ayah kepada lelaki pilihan yang siap memeluk teguh itu.

Ketika bapak menjabat tangan lelaki itu, ingin rasanya kutumpahkan semua air mata yang ada. Entah bagaimana suasana hati bapak saat itu, aku tak tahu, tak ada yang tahu, yang mengira-ngira isi hati mungkin banyak.
Memang takdir tak tertebak. Rencana Allah adalah kesempurnaan. Hanya saja manusia yang tak paham dibalik rencanaNya.  Yeah, akhirnya lu dapat pendamping juga ya Ma! Barakallahulakuma!
Gimana perasaan ente, Jik? 
Whaaa... I can explain it. But… rasanya belom kerasa aja. Dan apa yah.... aneh saja meninggalkan saudara sendiri di tempat orang lain. Hehehe...
"Now, I understand what do you feel, Yen!"
  
Lalu saya berfikir dan mungkin lebih tepatnya mengingati puisi terakhir dari Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS sesaat sebelum wafat)

Dari kata-kata Rendra itu, Saya mencoba mengingatkan diri saya yang begitu sombong…

Kita terlampau sering menangisi apa yang telah hilang dari tangan kita. Padahal apa yang kita genggam sesaat lalu adalah hanya titipanNya semata. Jiwa ini pun sekedar tempat kita bernaung. Hanya masalah waktu yang menjadi jawaban kapan masanya titipan itu kan pergi, menjauh dan kembali kepada pemiliknya.

Barakallahulakuma wa Baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fil khair
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu & keberkahan atas pernikahan kamu, & mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
Hari ini pengen nulis, eh tepatnya cerita. Beneran… kangennya minta diterusin! Hhyaaa….
Minggu kemarin Pak Cedin kasih tugas buat makalah untuk UTS menyimak. Asikk… awalnya! Soalnya UTSnya jadi kagak jadi dan bisa dibawa pulang… itu awalnya. Lah... hari-hari berlalu dan Saya belum menulis apapun di lembaran double folio yang dibagiin hari itu. Sampai H-1 Saya belum juga menulis makalah itu dan malah menulis makalah di laptop. *Oon! Ngapain nulis di laptop??? (*biar gampang nulisnya, cantik!). rencananya sih nulis di laptop itu biar kalau udah jadi tinggal di salin ke lembaran itu aja! Tapi hasilnya? Beeeuhh! Parahnya lagi besok adalah hari dimana kelompok teori sastra Saya yang dapat giliran maju presentasi. Parah! Siap-siap aja nulis ampe gempor lu, Jik!
Malamnya sebelum hari H. Mati lampu! Plek… Saya tambah malas buat sentuh itu lembaran. Entah kenapa! Padahal Saya jelas-jelas tahu ada dua tugas yang belum Saya lakukan.
1.      Belajar buat presentasi besok
2.      Selesaikan makalah menyimak
Sampai jam 10 Saya masih nulis makalah menyimak itu di laptop bukan di lembaran, alasannya masih sama biar kalau udah jadi langsung ditulis di lembaran folio itu. Ngantuk menyerang, Saya pasang 3 alarm. Jaga-jaga kalau tetap terjaga. Yang pertama jam 2.29 terus jam 3.09 dan jam 4.46. hehehe…
Saya bangun… kucek mata, cari hape, hape mana? Entah mana…. Manaaaa… kok suara orang ngaji di masjid? Hwaaaa…. Rasa-rasanya udah jam empat-an gitu ya! Tugas! Tugas! Tugas!......
Ternyata hape itu pakai acara mati. Bikin kesel! Langsung di cas dan buka itu laptop dan…..???? Lagi cari materi yang belum lengkap… dan ???? Suara azan! ….. masih ngerjain… terus sholat subuh. Pas jam 6 lebih-lebih baru pergi mandi terurs berangkat sama Bapak.
Tugas ente, Jik?? Ehm, belom kelar, cantik!!!
Iyah, sambil ngerjain tugas tadi malam, terus mandi, terus sarapan dan hingga menuju kampus, otak Saya berfikir bagaimana cara menyelesaikan tugas sesuai deadline! Ok! “Just relax, take it easy” kalau katanya Yusuf Islam. Karena hari ini Saya masuk pagi dan ada 2 kelas, maka ada sekitar 2 jam rehat antara kuliah sastra dan menyimak. Horee!!!
Pikiran Saya bilang *Bisalah!! Tinggal nyari dikit, dan abis itu tulis! Yakin dah!
 Jadilah pas nyampe kelas langsung duduk di barisan paling depan yang emang sengaja dikosongkan untuk kelompok yang maju presentasi hari itu. Langsung buka laptop dan masih mencari materi yang belum lengkap. Kertas double folio itu pun hanya mencetak beberapa baris dari latar belakang saja. Lanjut!
Jam menunjukkan bahwa bapak dosen tidak hadir dan ternyata  benar. Beliau mengantar anaknya yang sedang sakit. Moga lekas sembuh anaknya ya, Pak! Amin. Padahal ada rasa senang juga di situ tuh! *Nunjuk hati. Tapi presentasi tetap jalan dan berjalan dengan sebagaimana mestinya. Okeh! Cerita presentasi kagak usah dah, menurut Saya kurang interest!
Jangan buang kesempatan! Langsung gawe itu makalah! Tapi!!! Ternyata giliran kampus yang mati lampu, cantik! Dan laptop ini sekarat. Saya langsung pinjam fd di teman yang baik hatinya tingkat tinggi itu. Makasih husnul! Dan laptop itu pun memilih untuk mati ketimbang bekerja bersama Saya. Eh, bukan… bukan… ente yang kagak ngisi full baterainya, Ajik!! Tabok jidat!
Akhirnya Saya langsung kabur ke musholla bersama sahabat yang imut2 tingkat dewa. Tapi setelah turun tangga ketemu teman lama, eh salah teman seperjuangan yang jarang sekali terlihat dalam waktudekat ini padahal satu fakultas. Yah, namanya juga udah sibuk masing-masing kan? Paling ketemunya sama teman sekelas aja! Iya kagak? Hyah gitu dah!
Di musholla. Saya dimarahin sama Tisa gara-gara dia liat lembaran folio punya Saya baru terisi satu paragraf doang, sisanya di laptop. Maaf mengecewakanmu, kawan. Saya jadi buru-buru nulis materi yang di laptop. Bukannya laptop lu mati, Jik? Oh, iya… itu laptop pinjaman dari teman juga yang baik hatinya, makasih kawan! Kalian benar-benar orang yang baik!
Pas ngerjain di mushollah bentar-bentar Saya liat jam,  terus liatin Tina tidur, terus itu kawan seperjuangan nelpon. Biar aja dah, maaf ya Saya diemin telponnya, masih belom jadi soalnya. Lanjut teruss! Tina masih begoloq tiduran di depan Saya (dia enak dari beberapa hari sebelumnya udah kelar, SALUT!!!).
Jam udah nunjuk angka 10 mau jam 11. Lembar folio punya Saya abis. Tanyain teman-teman yang lain, pada jawab kagak ada! Langsung ke tempat fotokopi depan musholla mau beli folio. Tapi…. Lamaaa.. itu ibu n bapaknya pada sedang sibuk fotokopi ama jilid. Haduh… mungkin kalau Saya punya fans di kampus, mereka ngeliat Saya udah kayak ulat yang kagak bisa diem. Pergi ke teman yang satu minta kertas tapi kagak ada, nyari ke yang lain juga tiada. Balik ke fotokopian itu tapi masih sama. Haduh.. gaswat ini udah mau jam 11. Bentar lagi masuk. Sedikit lagi nulisnya nih! Akhirnya Saya balik ke mushholla. Nanyak ke teman-teman lagi punya double folio. Eh, ternyata Tisa punya banyak di tasnya.
“kamu nggak nanya, sih!”. *Perasaan gue udah nanya deh! Atau cumin perasaan doing? Aduh… 
ya udahlah.. yang penting ada. Lanjuttt!!! Teman-teman yang lain udah pada selesai, tinggal diriku seorang. Tunggu aku, kawan! Akhirnya perjalanan menulis makalah menyimak selesai. I’m finished! Alhamdulillah! Makasih ya, Allah. Sebelum balik ke kelas ke kantin dulu beli air. Dari tadi belum masuk apa-apa! Huh!Kazaa!!!
*Plong rasanya kalau tugas udah jadi y! Pas duduk nungguin Sal makan di kantin Emak, Tisa ceramahin Saya.
“Kamu ngapain aja dari kemarin? Tadi malem ngapain? Makanya besok-besok kalau ndak ngerti bawa tugasnya, tanya ke kita.”
Makasih untuk nasihatnya yang buat nyesek, makasih juga pujian dari Tina yang sebenarnya kurang tepat ditujukan ke Saya! Hahaha…
Udah ya! Intinya jangan ikuti kemalasan Saya. Ikutilah sikap rajin teman-teman Saya. Sip! Jadilah mahasiswa teladan, ya!
*Linguistik pun menanti! 
(Maaf kagak ada foto, ntar deh minta di temen! Oke!)
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ▼  November (3)
      • Pria Brewok Itu, Che Guevara!
      • It's Time to Let Her Go!
      • Menyimak Kelar Linguistik Menanti
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes