Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for 2019


Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan

Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibunyikan
Disana berbaris, jejak hati-hati kami yang nanar
Mengurai sepi yang sedari tadi tak kunjung henti

Petang kemarin, waktu menyisipkan ingatannya kepada kami
perihal gadis kecil yang begitu kami kenali
Kini kami menyaksikannya mendewasa bersama waktu
Ia dan keberanian telah bersepakat untuk menjatuhkan pilihan membangun keluarga kecil bersama seorang lelaki shalih pilihannya.

Petang kemarin pula, lelaki dengan janggut dan rambut yang telah banyak memutih itu menatap jauh ke lepas langit
Seperti ditatapnya serdadu-serdadu malaikat yang turun kala itu menyaksikan perpindahan sebuah tanggungjawab
Dari pundak lelahnya, ke pundak seorang lelaki yang telah dipilih gadis kecilnya itu. (Aamiin)

###

Senja di ladang jagung usai acara | Jumat Mubarok | Gerung, 06/09/19

Itu kali kedua, saya harus rela dan ikhlas melepas kepergian seorang saudari untuk menjalani kehidupan barunya. Menjadi adik terkecil, ternyata begitu menyesakkan, Saudara! Kau menjadi makhluk kecil terakhir yang berkali-kali merasakan kehilangan dalam jalinan saudara perempuan to'.

Hal yang Saya sadari ketika petang kemarin dan waktu setelahnya adalah, Saya berada di situasi mental yang lebih tenang dari pengalaman pertama ditinggal saudari pertama Saya. Saya menulis ini dengan perasaan yang tak keruan ternyata.

Ada banyak hal yang selanjutnya saya tak tahu harus disikapi dengan cara bagaimana. Kini, Bapak, Ibu, pasti akan merasa cukup hening berada di rumah sendiri (meski Ubay setiap minggu bermain ke sini). Sebab anak-anaknya telah pergi ke kehidupan yang baru. Memang akan ada saatnya, semua menjadi tua dan akan mengalami masa-masa sepi. Ditinggal anak untuk menjalani kehidupan mereka yang baru. Sunnatullah...

Bukankah Bapak dan Ibu telah menyelesaikan tugasnya? Bukankah telah rampung tugas orangtua sampai Ia mengantarkan anaknya kepada anak tangga pernikahan? Benar sekali. Hingga kini pun Bapak dan Ibu masih punya satu tanggungjawab lagi. Iya, putri kecilnya yang terakhir belum tiba di tahap itu. Ia masih bersemedi untuk belajar mendewasakan diri.

###

Saya seringkali terbawa suasana ketika seseorang telah sampai pada titik seperti ini, kepala saya berkeliar menjelajahi lini-lini kehidupan dengan triliunan nikmat Allah SWT. yang melingkupi mereka yang sedang berbahagia. Saya, dipastikan lebih banyak menangis dan menjadi seorang pemurung, tampaknya.

Kepada Bapak dan Ibu,
Saya ingin mengingati waktu-waktu yang lalu ketika kami masih bisa dipangku dan dibuai. Ada perasaan haru yang terlalu ketika waktunya tiba untuk saling berpisah.
Seperti saat ini. Saya tak tahu sesepi apa rumah kami esok setelah Saya kembali ke pondok dan Ubay pulang bersama Najma, Abi dan Uminya. Saya bahkan tak berani bertanya kepada Bapak dan Ibu mengenai kesepian macam apa yang mereka rasakan saat ini dan mungkin waktu-waktu ke depan. Mereka pun tampaknya tak tahu akan menjajal kata-kata apa untuk mendeskripsikan kesepian mereka kepada saya.

Kepada Kami, yang Bersuka Sekaligus Berduka...
Mungkin perlu waktu bagi kami untuk perlahan menata hati, mengikhlaskan tiap-tiap takdir Allah yang terjadi. Dukacita sekaligus sukacita di satu waktu itu, bukan hanya karena meninggalnya tetangga kami (Pak Seneng) yang dimandikan oleh Bapak kemarin pagi (Beliau orang yang begitu baik. Semoga beliau dilapangkan kuburnya oleh Allah SWT.), tetapi juga karena kepergian seorang gadis kecil yang dahulu selalu bersama kami dan kini mulai mengarungi kehidupan dunia yang fana ini bersama imamnya, Insyaallah hingga akhir hayatnya nanti. Aamiin.

Tidak ada yang lebih tabah daripada waktu.
Dituangkannya air mata pada seberkas sendu
Diluangkannya tawa pada secangkir madu
Tak ada yang lebih tabah daripada waktu
Disimpannya keping-keping kenangan untuk kemudian dibuka di ruang-ruang rindu

Teriring salam dan doa bagi Via dan Kak Ardi atas pernikahannya. Mulai saat ini, lepaslah satu temali tanggungjawab yang dibebankan di pundak Bapak. Semoga berkah mengiringi kalian berdua.



Pasca Ujian

Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lalu (17/01). Hari itu hari yang melelahkan bagi saya karena kembali ke rumah di sore hari ketika kantuk siang telah lewat dan saya belum menyelesaikan ppt untuk ujian skripsi besok (19/01). Cukup mengesalkan sebenarnya mengapa jadwal debat perdana ini dilaksanakan pada Kamis malam ketika keesokan harinya saya harus bertempur bersama skripsi dengan empat sks yang terasa melebihi bebannya itu. Mau kecewa tapi rasanya sudah lelah. Ya sudah!
Saya tak bisa menghindari kilatan mata dan dengungan telinga yang menyeret-nyeret langkah ke depan tivi. Terang saja, ruangan tivi berada dekat dengan tempat saya bersemedi membangun persiapan tempur. Suara tengik pendukung grasa-grusu itu mau tidak mau seperti setan bermata merah yang pelan tapi pasti menggoda saya untuk tergiur dengan peristiwa yang sudah barang tentu jadi TTI di pertwitteran. Karena membahas tema Terorisme, saya merasa tak perlu belajar dan hanya perlu duduk saja di depan tivi untuk menonton debat karena pertanyaan yang akan muncul di sidang skripsi besok tak akan jauh-jauh dari pembahasan debat ini, khayal saya! Helleh...
Sebenarnya, saya malas mengikuti acara debat tersebut namun telinga saya menjadi yang pertama membangkang keinginan itu disusul mata dan akhirnya kaki yang mengharuskan seluruh anggota badan melesat ke depan tivi. Mondar-mandir tivi dan laptop, saya pun akhirnya tak menyelesaikan debat yang penuh kekecewaan itu juga tak menyelesaikan slide-slide ppt untuk sidang. Saya tertidur usai Kyai Ma’ruf membahas terorisme dan terbangun pada dini hari sekitar pukul satu seperempat lalu menyadari bahwa saya belum menuntaskan slide-slide ppt untuk sidang skripsi.
Jumat (18/01), saya menghadapi satu tahap krusial dalam perjalanan pendidikan strata satu. Yoai, sidang skripsi! Itu adalah hari pendek usai penundaan jadwal sidang yang mengambil waktu yang cukup panjang, satu minggu ke belakang. Parahnya, batas jadwal sidang skripsi terakhir adalah hari Sabtu (19/01) lalu. Mau bagaimana lagi, saya sudah bolak-balik menanyakan jadwal ke tiga dosen ketjeh. Walhasil, semuanya sepakat mengiyakan untuk menguji di hari barokah itu. Walhasil pula, Pak Burhan tidak saya dapati di hari penting itu, pun pada hari-hari setelahnya hingga hari ini, Senin (21/01). Beliau tak membalas chat maupun sms saya. Huhu.. Jarang sekali beliau tak membalas chat mahasiswa yang tak pernah bosan sekadar bertanya bapak ke kampus kah? Atau seperti saya yang mengingatkan jadwal sidang skripsi.
Berbeda dengan saat ujian proposal skripsi kemarin, kali ini saya tak menunggu lama kehadiran para dosen ketjeh. Pak Imam menjadi yang pertama hadir, beliau memang selalu on time meski dengan kondisi kesehatan yang seringkali membuat mahasiswa merasa kalah semangat dengan beliau. Maasyaallah… barakallahu fii umrik. Saya menunggu di luar dan meninggalkan Pak Imam duduk sendiri di dalam sembari menunggu dosen lainnya datang. Tak sampai lima menit saya kira, Pak Sir berjalan masuk ke ruangan hampa udara itu sampil mengapit bundelan skripsi saya yang tidak setebal make-up kamu, iya kamu!
Sejurus kemudian, Pak Sir sudah akan masuk ke ruang 4 (ruang tempat saya sidang skripsi) sambil melihat ke arah saya. Saya katakan bahwa Pak Burhan belum datang. Beliau pun membawa kabar mengenai Pak Burhan yang tidak dapat hadir karena harus pulang ke Sumbawa lalu memberi kode untuk meminta saya segera masuk ruangan dan memulai sidang. Baiklah, dua anak cukup. Eh, dua dosen cukup maksudnya! Heleeh…
Saya pun akhirnya kembali berada di ruangan yang sama ketika ujian proposal beberapa waktu lalu. Sengaja saya pilih karena satu-satunya yang memiliki jendela dan terasa cukup lapang dibanding kan ruangan lain. Beruntungnya, tak ada jadwal ujian di pagi itu. Jadi, suasana beranda ruang ujian cukup tenang. Saya memerhatikan wajah orang-orang di luar ruang 4 yang perlahan menghilang seiring dengan gerakan tangan saya yang menutup pintu ruangan. Pukul sembilan lewat beberapa menit.
Saya duduk dengan komat-kamit bermacam-macam rupa yang bermakna satu, meminta Allah SWT memberikan ketenangan kepada saya untuk mengatasi problematika yang sedang dan akan saya hadapi kala itu. Pak Imam yang berada di seberang meja-tepat di hadapan saya, akhirnya menyilakan saya memaparkan hasil penelitian skripsi saya setelah sebelumnya sempat memberikan prolog yang mengaitkan skripsi saya dengan debat tadi malam. Huhu.. Saya tak selesai menonton, Pak!
Sekitar sepuluh sampai lima belas menit sepertinya saya cuap-cuap di hadapan dua dosen tertjinta. Sampai hari ini, saya belum bisa move on dari penelitian skripsi saya yang membahas mengenai isu terorisme. Kebetulan tema debat capres dan cawapres pertama kemarin membahas mengenai terorisme, saya kira elektabilitas skripsi saya ketika diujikan H+beberapa jam usai debat itu cukup tinggi karena tidak termakan usia alias relevan dengan perkembangan saat ini. Terlalu yakin, Anda, buk! 😅
Singkat cerita, akhirnya saya keluar ruangan dan menemukan beberapa wajah mujahidah yang saya kenal disana. Sekitar dua sampai tiga menit para dosen berdiskusi di dalam, saya duduk dengan perasaan khawatir bukan karena tegang yang terbawa dari dalam, namun karena usai sidang itu, saya harus jor-joran mengejar kelengkapan berkas-berkas yudisium yang sudah mepet. Belum lagi nilai ujian yang hingga Kamis (25/01) ini yangvternyata belum keluar karena alasan yang complicated. Heuh… saya harus memikirkan pula jadwal ujian di Pak Burhan yang belum dilaksanakan, dan segelumit keruwetan lainnya demi mendaftar yudisium. Situasi ini sebenarnya cukup menyebalkan bagi saya. Bukan apa-apa, beberapa kebijakan terkadang terasa terlalu menguras ongkos untuk ukuran seorang mahasiswa (padahal sejatinya bisa dihemat) hehe... Tanya saja keruwetannya pada mujahid/mujahidah yang lalu-lalang dan tampak (lebih sering) berjalan cepat di barisan mujahidah peralihan pascaskripsi.
Sekarang, disinilah saya akhirnya berada. Fase di saat mujahidah skripsi naik satu kelas ke tahap mujahidah peralihan pascaskripsi. Heleh… Ini dia, fase yang dinamakan fase krebi petty-keribetan bersama lembaran, ttd, dan stempel yang tiada henti, fase urus-mengurus yang mesti diurus.
Sudahlah, mari berdoa saja semoga Allah yang maha pemberi kemudahan, memudahkan urusan saya dan Anda sekalian, pembaca...

Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Kepada Diri di Masa Depan
    images7.alphacoders.com Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan… Surat ini adalah surat yang aku dan...
  • Kisah 5 Binatang
    Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi to...
  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Sunnatullah Air & Minyak
    https://id.pinterest.com/ Saya belum cerita kalau kami satu kelas, ennnggggg tepatnya satu angkatan pada semester ini merasa sea...

Blog Archive

  • ▼  2019 (2)
    • ▼  September (1)
      • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dul...
    • ►  Januari (1)
      • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing ...
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes