Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Mei 2017
http://ayo-sekolah.org/


Sejak beberapa hari lalu, saya mulai mengubrek-ubrek isi lemari Sekretariat Pena Kampus.  Lemari itu berada paling bawah dengan kusen pintunya yang telah rusak. Di sana tertumpuk kumpulan arsip koran lama yang belum dikliping.
Biasanya koran yang kami kliping adalah koran kesayangan yang tiada lain dan tiada bukan adalah KOMPAS. Di sekret, kami memang berlangganan dua koran, Suara NTB dan KOMPAS. Dari dua koran itu, hanya Suara NTB yang hingga kini masih setia menjadi perawat wawasan kami. Itu pun saya, terhitung yang jarang membacanya. Kalau KOMPAS, sudah lama ia tak bersilaturrahim ke sekret tersebab urusan kocek yang tidak mumpuni untuk tetap berlangganan. Mengenai hal ini, sebenarnya ada kisahnya tapi tak usahlah saya ceritakan di sini.
Nah, koran-koran yang telah dikliping itu nantinya akan kami tukarkan dengan pundi-pundi rupiah. Lumayan sebagai pemasukan organisasi. Meski begitu, untuk menjualnya ke tukang loak, para pengurus sekret memasang syarat tertentu jika akan menjual arsip koran lama itu. Harus koran yang sudah lama banget, harus dikliping dulu, dan lain-lain. Kebanyakan sayangnya sepertinya. Apalagi Mbak Ilda.
Memang sih pundi-pundi rupiah itu tak seberapa jika dibandingkan dengan rentetan kata tak ternilai yag dibawa pergi si tukang loak. Lalu mau apa lagi? (kayak lagu?) Kami tak punya cukup tempat untuk meletakannya di suatu tempat. Nah, sisanya yang belum diklipinglah yang tersusun di dalam lemari dan saya ubrek-ubrek (kata "Ubrek" tidak ada di kbbi offline 5.1 saya -_-).
Kegiatan mengubrek-ubrek lemari berisi KOMPAS lama itu sebenarnya diawali dari rumah. Ketika itu, saya menemukan lembaran koran KOMPAS yang berisi empat halaman. Kebetulan lembaran-lembaran itu merupakan bagian dari konten Kompas Klasika. Artikel di dalamnya sebenarnya biasa saja, mengenai perjalanan reporter Kompas ke sebuah tempat di daerah Bandung yang ada Rumah Hobbitnya itu, lho! Saya lupa namanya, akan tetapi kemasannya memang luar biasa. Foto adalah hal pertama yang menarik tangan saya untuk membaca artikel itu.
Pernah juga helaian Kompas Klasika lainnya saya temukan di tempat yang sama (baca: rumah). Entah kenapa hanya fragmen-fragmennya saja yang saya jumpai. Pada artikel itu dibahas mengenai pendidikan di Finlandia yang memang sangat berbeda dengan di Indonesia. Hal pertama yang membuat saya tergerak untuk membaca artikel itu adalah gambarnya. Memang benarlah bahwa dua hal yang membuat manusia terpana, kata-kata dan gambar. Paulo Coelho mengatakannya dalam novel spektakulernya, The Alchemist. Hal lain yang memang menyuguhkan daya tarik adalah kata-katanya. Kalimat pembuka tulisan itu membuat saya jatuh cinta. Eh, itu koran ada dimana, ya? Ntar saya cari lagi dah! Sayang dibuang! Hahahah…
Rabu lalu (10/5) pun saya kembali melakukan aktivitas mengubrek-ubrek lemari Sekret itu. Saya beberapa kali membolak-balik lembaran-lembaran koran itu. Setelah menemukan yang menarik hati lalu membawanya pulang untuk dibaca.
Entah kenapa, untuk saat-saat ini saya sepertiny tengah ingin nostalgia. Eh, gitu ya bahasanya? Ya! Nostalgia dengan hari-hari bersama KOMPAS. Cie…. Kayak ente rajin baca koran aje, Jik! Hehehhe.. manusia seringkali tak bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Ya!!
Ia akan merasa kehilangan ketika sesuatu miliknya telah pergi tetapi malah melupakannya ketika ada di depan mata.
Yah, saya merasakan kalimat bijak itu benar-benar jleb dengan keadaan kami, khususnya saya yang ada di sekret. Ketika dulu kami masih berlangganan KOMPAS, saya terhitung jarang membacanya. Paling-paling lihat judul dan cari-cari hal yang menarik hati atau sekadar isi TTS. Masya'allah… kurang bersyukur kayaknya ini.
Sekarang benar-benar terasa apa yang dikatakan Mbak Ilda, KOMPAS itu sudah seperti rohnya Pena. Semacam lubang rahasia penyedia inspirasi. Apalagi kalau ada rapat untuk membahas kegiatan yang membutuhkan tema. Biasanya kami menyentuh KOMPAS sebagai amunisi untuk tema kegiatan. Hahahaha…
Coba buktikan sendiri! Akan ada sesuatu yang berbeda yang tidak akan ditemukan di surat kabar lain ketika kita membuka helai-helai surat kabar pedoman arah mata angin itu. Ada hal lain yang ditawarkan KOMPAS. Mungkin itu kenapa nama surat kabarnya, KOMPAS! Penunjuk arah, gitu! Hehehe...
Dengar-dengar, Bu Pimum alias Kak Hikmah akan mengembalikan tali silaturrahim Pena Kampus dengan koran KOMPAS? Bagaimana? Lumayan pengobat rindu di suasana organisasi yang agak lesu. Hehehehe….
Ditunggu ya!
Semoga aktivitas ngubrek-ngubrek saya tidak hanya sekadar euforia semata atas kerinduan dan kehilangan 1 tahun lebih.
Jangan sampai setelah kembali ada, surat kabar pedoman arah mata angin itu bisa lebih sering kau baca dan lebih gencar kau terima ilmunya, Jik! Semangat!

"Belajarlah, karena manusia tidak terlahir dalam keadaan pintar!"


Bagi manusia yang tidak begitu tertarik dengan pementasan drama (kecuali drama di film-film), ada satu mata kuliah yang sempat saya hakimi tak menarik. Waktu itu, kami satu angkatan khususnya Kelas B Pagi, masih bingung akan mengambil mata kuliah apa. Jadwal kuliah belum muncul dan mata kuliah yang tersedia melebihi kuota maksimal SKS. Kompleks!
Biasanya pada semester-semester sebelumnya, mata kuliah yang muncul di laman KRS-an sudah dipaketkan. Engggg, istilahnya tidak ada pilihan lain selain mengambil itu semua. Jadilah kami sering kali menyebut diri kami sebagai anak paketan. Memang benar, sih -_-

Masa KRS yang selalu membingungkan
Perdebatan muncul ketika beberapa teman ada yang sudah mengajukan KRS ke dosen PA. Masih mending pilihan mata kuliahnya sama, ini beda. Itulah salah satu masalah yang muncul di awal semester 6 ini. Saya sempat mengajukan KRS dan ketika itu, saya jelas-jelas tidak mencentang MK Sastra Pertunjukan. Kenapa? Karena kami berpikir ketika itu, pasti isi kuliah ini (read: Sastra Pertunjukan) ada sangkut pautnya dengan drama. Oleh karena itu, saya dan beberapa teman sekelas ketika itu merasa berat jika harus melakukan pentas drama untuk keTIGA kalinya. Luar biasa kan?
Intinya urusan KRS ini bermuara pada sistem paket lagi. Jadilah akhirnya kami melakukan modifikasi KRS dan  mencentang mata kuliah yang memang telah dipaketkan. Beberapa ada yang disetujui PA di laman daring semacam saya (terima kasih, Pak! Bapak memang luar biasa! Maaf tidak pernah silaturrahim ke Bapak. ^_^), tapi banyak juga yang mengisi KRS manual. Akhirnya selempang "anak paketan" terasa benar-benar kami kenakan. Hahaha…
Bagaimana dengan MK Sastra Pertunjukan itu? Oh itu… Akhirnya ia pun ikut hadir dalam KRS modifikasi dan muncul di jadwal kuliah setiap Sabtu siang. Jlegg. Kagak kebayang mau drama lagi.

Sastra Pertunjukan
Akhirnya pertemuan awal kuliah sastra pertunjukan tiba. Saya sudah lebih dulu dagdigdug meskipun dosen yang mengampu kuliah ini adalah dosen terkece sastra, Pak Murahim dan bukan termasuk ke dalam daftar dosen Killer. Tetap saja, saya masih kepikiran dengan konten kuliah ini yang sepertinya akan banyak memperbincangkan aktivitas harian anak Teater Putih, DRAMA.
Jangan-jangan disuruh akting lagi kayak drama, jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Lebay banget, saudara ini! hahaha….
Prasangka awal saya mengenai kuliah ini pun perlahan surut. Apalagi dengan kuliah perdana yang menyenangkan hati bahwa sastra pertunjukan berbeda dengan pertunjukan sastra. Intinya, kuliah ini bukan kuliah DRAMA. Jika di drama, kami akan lebih banyak membicarakan mengenai pertunjukan maka di kuliah ini kami akan lebih banyak berbicang mengenai sastranya. Bagi saya, informasi itu penting tersebab saya tidak akan menyeret otak saya untuk berusaha mengulang kembali masa-masa sulit kuliah Drama jilid I dan II.
Beberapa pertemuan selanjutnya malah mengarahkan kami untuk melakukan pertunjukan pembacaan puisi. Uwiiiiih. Jadi keinget jaman musikalisasi di kelas Bahasa dulu. Hahaha…
"Mengintip pagi sisa mimpi….."
Prasangka buruk saya mengenai kuliah ini pun berganti jadi cinta. Uwihhh… iya, karena UTSnya pembacaan puisi. Buat saya itu menyenangkan.

Kloter I Pembacaan Puisi
Sabtu, 22 Maret dan hari itu Didik ikut kelas kami sedangkan dia anak dari kumpulannya yang terbuang.. Eh, itu puisinya Chairil… Maksudnya, dia anak prodi sebelah (read: bahasa inggris). Saya ajakin dia ikut kelas ini karena saya kira dia masih suka dengan puisi dan tetek bengeknya. Dia kan sastrawan di kelas ketika masih duduk di bangku MAN 2 (Uwiwuiui..). Yah, begitulah.
Waktu di kelas, leeeeh… dia gencar banget nyuruh saya maju baca puisi. Setiap satu teman selesai baca, dia ribut-ribut sendiri nyuruh saya maju. Katanya biar cepat selesai, biar gak kebeban lagi. Sebenarnya benar juga sih, lah tapi saya belum sreg sama puisi yang mau saya baca. Waktu itu saya rencananya akan membaca puisi Ada Pohon Bernapas milik SDD. Hingga kuliah usai, saya belum juga maju beserta puluhan kawan-kawan di kelas yang bernasib sama.
 Minggu berikutnya, saya sangat menanti kuliah ini. Jelas! Karena mau tampil, buk! Biar cepat selesai! Akan tetapi waktu seringkali memberikan pelajaran bersabarnya di saat yang kurang tepat, menurut kita. Jadilah kami bubar pada hari itu karena tidak ada dosen. Padahal semangat teman-teman yang telah susah-susah berlatih dari beberapa hari sebelumnya sama seperti saya, begitu menantikan waktu untuk menampilkan pertunjukan puisi masing-masing. Kenapa kagak masuk, Pak?

Kloter II Pembacaan Puisi
Sabtu selanjutnya, semangat saya bisa dibilang hampir kandas. Saya tak pernah menyentuh kembali naskah puisi saya sejak minggu sebelumnya. Sudah patah arang duluan. Jadilah saya tak pernah latihan sekaligus tak begitu berharap Pak SQ masuk. Pun juga karena saya gupuh menyiapkan makalah untuk mata kuliah seminar yang jatuh pada Rabu depan. Akhirnya saya mengerjakan makalah saya sembari menunggu waktu datang tidaknya Pak Dosen.
Bapak Dosen akhirnya datang dan mengharuskan saya melihat kembali naskah puisi yang untungnya masih ada di dalam tas. Saya hanya membacanya sekilas, itu pun dalam hati. Lebih banyak menenangkan diri karena aura mistis maju ke depan agaknya cukup mendominasi. Hahaha… Saya lebih banyak melakukan ritual penting sebagai bentuk apresiasi kepada teman-teman yang sudah maju (baca: tepuk tangan).
Belum siap untuk posisi pertama, kedua, ketiga, keempat dst saya masih duduk di kursi saya. Agak lama saya duduk di bangku dan akhirnya mencoba mengacungkan tangan. Eh, beberapa kali mengangkat tangan agar ditunjuk akhirnya pada usaha saya yang keempat atau kelima atau keenam akhirnya saya diberi kesempatan oleh K. Arya yang ketika itu ditunjuk sebagai moderator.
Beberapa kali, melihat teman-teman yang maju dan menampilkan pembacaan yang luar biasa keren, saya jadi kagok, malu, dan takut. Takut, kalau-kalau saya tidak bisa menyeimbangi penampilan mereka yang memang udah kece. Asli, masih di tempat duduk pun, aura mistis maju ke depan yang khas itu semakin menjalar hingga ketika saya melangkahkan kaki ke depan kelas.
Saya membawakan puisi SAGA yang saya tulis sendiri. SAGA sebenarnya saya ikutkan dalam kompetisi penulisan puisi yang diadakan oleh panitia Harlah PCINU Maroko. Hanya saja, ada beberapa kata yang saya rasa perlu perbaikan sehingga puisi yang saya baca di kelas merupakan hasil perbaikan dari teks aslinya. Hehehe… yang penting masih saya yang nulis, kok! Masih ori  kalau bahasa masyarakat JBO.
Meski tidak mendapat juara tetapi saya sudah bersyukur karena SAGA bisa bersarang di urutan ke-12 dari 100 puisi yang dibukukan. Tumben-tumben ya! Haha. Jangan kelewat seneng, Jik! Baik, baik…

SAGA
Oleh: Wazi Fatinnisa

Dari lubang-lubang kecil di dinding
kulihat saga begitu pekat di langit senja

Hidup kita ada di antara serak-serak reruntuhan
Di antara debu yang tak jua henti menjejal langkah

Pada maghrib kita
selalu saja terdendang riuh kembang api
Tapi herannya, tak satu pun bahagia
Meruas di setiap bibir anak kecil

Dari lubang-lubang kecil di dinding, bu
Kulihat darah berciprat di jalan tiada ujung
Perih lebih dulu sampai menggigil tubuh

Akan kemana kita, bu?
Sedang di luar
Saga semakin pekat,
Malam kian merapat
Dingin sudah dekat

Akan kemana kita, bu?
Sedang peluru
tengah bersiap
di muka pintu
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ▼  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ▼  Mei (2)
      • Merawat Sisa Ingatan; Menanti Kembalinya Pedoman A...
      • Sastra Pertunjukan dan Penghakiman Tak Berdasar Saya
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes