Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Mei 2016

Hingga kelu harapku kau pulang
tak juga kutemui namamu pada bintang-bintang

Masihkan rindumu, rindu kita, mencoba membuat
jejak pada gulita malam?

Andai gemintang tak kunjung membawamu kembali,
kucukupkan pelitanya sebagai penawar hati

Namun kau dan gulita seringkali terlalu bisu 'tuk sekadar

berkata, rindu!

Apa yang membuat masa lalu begitu menarik? Seakan-akan ketika membicarakan mengenai masa lalu, kita seperti di tariknya untuk kembali kesana.
Mungkin jawabannya adalah kenangan. Masa lalu seperti sebuah magnet, segala yang berkaitan dengan besi-besian akan tertarik ke dalamnya. Masa lalu yang begitu menyenangkan, biasanya meninggalkan jejaknya lewat kotak yang disebut kenangan-kenangan indah. Ah… Siapa yang tak ingin mengulangnya kembali? Apalagi masa ketika berkumpul bersama kawan-kawan lama. Tertawa, bermain,  bertengkar dan melakukan banyak hal bersama.
Drama Reply 1988 membuat kita yang berada di masa milenium sekarang merasa iri dengan gambaran kehidupan masa 1988. This Drama is too perfect untuk menggambarkan sosok 5 anak muda yang telah menjalin persahabatan sejak kecil hingga dewasa. Persahabatan mereka sangat indah. Tak ada konflik besar di antara mereka (kecuali masalah percintaan) yang perlu dirisaukan karena lima anak itu memulai debut persahabatan mereka sejak kecil. Hahaha..
Tapi yah, saya pikir-pikir lagi memang kisah keluarga di kompleks itu terlalu sempurna. Tak ada perkelahian antar sahabat. Mereka saling memahami dengan begitu baik. Semuanya sosoknya prontagonis. Sosok ibu yang benar-benar sempurna, ayah yang pengertian dan terbuka dan banyak hal yang saya pikir terlalu sempurna dalam setiap kisah-kisah mereka (kecuali kisah percintaannya Jung Hwan ya!). Meskipun sebenarnya, saya menginginkan Jung Hwan yang akan jadi pasangannya Dook Seon pada akhirnya. Saking tulus dan eratnya ia menyimpan cintanya kepada Dook Seon. Ah sudahlah…
Drama ini mengisahkan bagaimana suasana manusia-manusia tahun 1988. Ketika teknologi masih menjadi barang yang cukup mahal, tren mode fashion anak muda yang keranjingan barang-barang Nike dll. yang  cukup ngetren pada saat itu, hingga kisah manusia kekinian yang mulai lupa untuk bercengkerama dengan tetangga-tetangga juga kawan-kawan dekat rumah. Juga kisah berbagai keluarga dengan beragam lika-likunya, perjuangan orang tua untuk membesarkan anaknya.
Ah, mengapa Drama Korea selalu mampu menarik air mata sebagai pengganti ongkos drama mereka yang kita dapatkan gratis ini ya? Yah, hanya saja, bumbu-bumbu yang tak penting (kissing scene) sungguh-sungguh sering ditaburkan ke dalamnya. Padahal hal itu yang membuat drama Korea seringkali bernilai minus di mata saya. Padahal sangat disayangkan, film dan dramanya sangat bermutu (lebih baik ditiadakan scene-scene seperti itu).

Ini dia Hal paling menarik dari Reply 1988 menurut saya:
1.      Seorang Ayah akan selalu berjuang hingga titik terakhir untuk anaknya.

Mungkin hati seorang ayah adalah yang paling susah ditebak sepertinya. Lihatlah bagaimana Ayah Dook Seon yang sangat susah mengungkapkan isi hatinya di depan anak sulungnya, Bo Ra. Berjuang mati-matian untuk bekerja agar anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan.
2.   Bagi orang tua, permintaan anak bukanlah sebuah beban. Tapi sebagai anak kita seringkali menuntut lebih pada mereka.

Ingat bagaimana Ibu Jung Hwan membuatkan anaknya makanan kesukaannya tetapi lebih memilih makan bersama sahabat-sahabatnya? Kita mungkin menganggap diri telah dewasa dan dapat mandiri, tapi bagi Ayah dan Ibu, anak tetaplah seorang anak. Mereka tak menyadari betapa cepatnya kita tumbuh hingga kita perlahan mulai menjauh dari dekapan mereka. Padahal di hati mereka, betapa mereka ingin selalu berada di dekat kita. Sungguh, ketika adegan-adegan seperti ini , saya seketika mengingat Ibu dan Bapak. Saya bertanya apakah mereka pun sama seperti itu? (Saya sangat menyukai akting Ayah Dook Seon. Benar-benar sosok seorang Ayah sejati).
3.      Berkumpul bersama orang-orang tercinta adalah yang terbaik dalam hidup.

Apa jadinya jika kita hidup sendiri tanpa pernah bercakap-cakap dengan orang-orang tercinta kita? Ingat bagaimana kebahagiaan Dong Ryong ketika Ibunya menyiapkan sarapan untuknya setelah sekian lama ia hanya sarapan seorang diri?
4.      Beranilah! Ambillah resiko jika kau benar-benar ingin mendapatkan apa yang kau impikan.
Seperti yang diungkapkan Jung Hwan ketika ia begitu menyesal di dalam mobilnya, pada akhirnya takdir dan timing tidak terjadi karena kebetulan. Ia adalah usaha dari pilihan yang kita buat sendiri. Keberanian untuk meraihnyalah yang akhirnya membawa kita pada impian kita (yang saya bicarakan bukan hanya masalah cinta ya..)That's right. Bukan hanya masalah timing, tapi bagaimana usaha kita. Setelah berusaha dan gagal tak apa, yang penting kita telah melakukan sesuatu untuk mengejar mimpi kita.
5.      Masih banyak lagi. Saya tak begitu ingat. Yang pasti, empat hal di atas yang paling inti (saya kira)
Sekarang udah Mei aja. Tapi tulisan ini mengisahkan perjalanan dua bulan yang lalu. Karena sekarang ada mood buat nulis sekaligus paksaan dari dalam diri untuk menuangkannya dalam tulisan. Iya kan??? Hehehe… 18-21 Maret 2016. An impressive moment!


BEYOND ACCESS! 2016
Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti acara Beyond Access!. Acara ini bisa dikatakan merupakan reuni para alumni Access. Access merupakan Microscholarship untuk mereka yang masih di bangku sekolah menengah atas atau sederajat berusia 18-25 tahun di berbagai daerah termasuk Timor Leste. Microsholarship ini dipayungi oleh Regional English Language Office (RELO)U.S. Embassy. 
Program ini diberikan selama kurang lebih dua tahun (empat semester).Dalam program ini, kami mempelajari segala hal terkait Amerika Serikat. Belajar bahasanya, budayanya dan banyak hal lain tentang Amerika. Hal menarik yang sering kami temui adalah kami bukan hanya diajarkan berbagai teori lewat buku, audio, video tetapi terkadang, bule aslinya sering datang mengajari kami langsung. Kegiatan ini bisa dikatakan hampir sama seperti les bahasa Inggris pada umumnya namun bedanya yang seperti saya ungkapkan di atas. Kegiatan-kegiatan indoor maupun outdoor yang sangat menyenangkan. 
Ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA), saya cukup beruntung mendapatkan Access Microscholarship yang diselenggarakan oleh U.S. Embassy yang bekerja sama dengan Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia (UI) meskipun belum cukup lama Saya masuk dalam Microscholarship ini. Untuk Access Mataram, digawangi oleh UPT Pusat Bahasa, Universitas Mataram. Oleh karena itu, kegiatan belajar bahasa Inggris dilaksanakan di UPT Pubah.
Ketika mendapatkan e-mail bahwa saya dapat ikut dalam kegiatan Beyond Access!, di satu sisi hal-hal menyenangkan dan menggembirakan selama belajar di Access kembali terbayang dan saya yakin akan kembali terulang. Namun, di sisi lain, ternyata tak semua teman-teman Access Mataram dapat mengikuti kegiatan ini. Untuk Access Mataram, hanya ada empat dari sekitar dua puluhan Access yang lolos pendaftaran. Ibu Jenn, sebagai Regional English Language Officer (RELO) mengatakan, mereka sangat ingin mengundang semuanya namun tentu saja tak mungkin semua alumni dapat hadir. Oleh karena itu, kami yang berkesempatan hadir diminta untuk membagikan pengalaman kami selama mengikuti Beyond Access! Ini dia sedikit kisahnya.

Pergi Untuk Kembali
Gambar dari akun facebook salah satu peserta BEYOND ACCESS!

Jum'at, 18 Maret, sekitar pukul 6.00 pagi langit Lombok masih cukup gelap. Deru mesin pesawat sedari tadi membuat gaduh. Saya dan orang-orang lainnya bergerak memasuki badan burung bermesin itu.
Kekatro'an saya diuji sejak berada di bandara Lombok (BIL) hingga pulang kembali. Untung saja insting kebutuhan dasar manusia membawa saya cepat beradaptasi dengan lingkungan. Yah, nggak katro'-katro' amatlah ketika di bandara, hotel, dan tempat yang Saya kunjungi karena Saya sebenarnya sudah mendapat pembekalan dari Pak Tutor (Bapak) haha…
Saya duduk di sisi jendela sebelah kanan pesawat, dan itu cukup melegakan. Perlahan persawahan di sekitar area bandara, rumah-rumah, pepohonan besar, deretan lampu-lampu jalan yang masih menyala terus mengecil dari pandangan mata. Matahari mulai menyuar. Satu dua kali saya coba mengintip jendela pesawat mencoba menghilangkan kejenuhan selama hampir dua jam perjalanan (maklum, untuk pertama kalinya saya pergi ke luar daerah dengan pesawat terbang).
Saya dan teman-teman tiba di Soetta sekitar pukul 7.00 WIB. Cukup lama menunggu jemputan dari pihak Access, mungkin hampir lima belas menit kemudian kami didatangi oleh lelaki yang ternyata bernama pak Memen. Beliau yang mengantar kami ke hotel (plus mencarikan kami tempat makan, terima kasih, Pak!).

Pemuda-Pemuda Penuh Inspirasi
Sesi Shark Tank

Pukul 16.00 kami berkumpul di ball room hotel dan acara pun dimulai. Satu persatu wajah-wajah baru muncul. Peserta dari daerah Jakarta dan Bangkalan menjadi yang paling banyak berpartisipasi dalam acara ini.
Kegiatan ini diisi dengan Workshop dari empat anak muda yang membuat berbagai kegiatan bermanfaat untuk lingkungan mereka. Salah satunya adalah Kak Pandu, ia adalah penggagas Code For Bandung, sebuah komunitas yang berguna untuk membuat aplikasi untuk menyelesaikan permasalahan kota Bandung dengan bekerjasama dengan pemerintah kota Bandung sekaligus melakukan sosialisasinya sebagai alat partisipasi masyarakat. (semoga benar yang saya pahamin. hehe)
Lalu ada Mbak Herlin dari UI dengan English Art Labnya, dan pemuda inspiratif lainnya yang juga menyampaikan aksi peduli mereka terhadap masyarakat.Saya lupa satu program terakhir yang dibuat oleh dua pemuda (maaf saya lupa namanya)—Map berisi dokumen-dokumen terkait acara Beyond Access! ini tertinggal di pesawat dan hingga kini lenyap tak berbekas meski sudah diupayakan dengan berbagai usaha (kisah ini ada ceritanya sendiri, kapan-kapan saya ceritakan). Rezeki tak akan kemana. Biarlah jadi pelajaran saja. Aiihh, inget ini ngerasa.. Ah, biarlah.. Ikhlaskan, let it go! Let it go!....

What is Our Project?
Diskusi mengenai Project
Setelah mendapat berbagai inspirasi mengenai komunitas-komunitas yang menarik itu, saatnya kami mencoba mempraktekkan hal yang serupa seperti mereka. Menuangkan ide di benak kami masing-masing untuk melakukan aksi nyata bagi lingkungan sekitar. Pada sesi ini saya agak gimana ya… 
Ketika itu kami diberikan berbagai tema untuk menuangkan ide-ide brilian kami. Ciee.. Rencananya ketika itu saya akan memilih tema teaching and education, namun karena satu kelompok telah ditentukan jumlahnya, dan tema itu sudah penuh jadilah saya pergi ke kelompok lain yang masih kekurangan personil. Dan di sana saya sekelompok sama Husniati. Aduh, kenapa satu kelompok sih kita yang dari Lombok. Tapi tak apalah… yah, pada akhirnya kelompok kami membuat gagasan mengenai aksi anak-anak sekolah dasar untuk mengumpulkan sampah plastik dari makanan yang mereka konsumsi. Konsep ini bisa dikatakan mirip dengan bank sampah. Atas usulan si anak Jakarta itu (saya lupa namannya) kami akhirnya sepakat, Tricky Trash, that is our project name. hahaha… Meskipun kagak juara sih, yang penting sudah mencoba.

It's Time to Dinner
Mirip Tom Cruise bukan?

Intinya kegiatan selama empat hari tiga malam itu sangat luar biasa itu sangat menyenangkan, menginspirasi, luar biasa apalagi ditutup dengan dinner invitation di rumah Duta besar Amerika Serikat di Jakarta. Wiihh, kapan lagi bisa makan di rumah Dubes, gratis pula.
Jarak dari hotel ke kediaman U.S Deputy Chief of Mission (Wakil Duta Besar Amerika Serikat), Brian McFeeters (Mirip Tom Cruise ya?). Sebenarnya tak jauh tapi karena ketika itu jalanan cukup macet jadinya setengah sampai satu jam kami lewati di jalan. Lokasinya di daerah Menteng. Dekat Taman Suropati seingat saya. 
Hal yang cukup melelahkan pula adalah, untuk masuk ke rumah Dubes pun ada petugas yang mengabsen kami satu per satu sesuai abjad untuk masuk. Dan satu bis kalau tak salah berisi hampir empat puluhan. Jadi mekanisme masuknya itu begini, kami kan datang dengan dua bis. Setiap bis ada satu petugas yang bertugas mengecek satu per satu yang masuk. Jadi, yang dipanggil namanya langsung turun dan masuk ke dalam. Parahnya adalah, nama saya diawali huruf W. Meskipun cukup lama hingga ac bis itu membuat saya hampir mau muntah. Tapi memang begitu mekanismenya kali ya. Jelaslah, yang mau dikunjungi kan rumah Wakil Dubes.
Pas baru masuk, yang lain pada udah santai-santai aja, pada selfie, ehehehe… kita baru buka pintu. Hoho.. Rumahnya luar biasa. Indah! ^_^ Klasik-klasik gimana gitu… yang paling ditunggu-tunggu dan butuh perjuangan karena pakai antrean adalah Es Krimnya. heheehhe…terima kasih.

Sepertinya hanya itu yang dapat saya bagikan untuk kau, Lang! Agaknya banyak yang bisa saya ceritakan namun entah agak sulit untuk dituangkan ke alam tulisan. Mohon maaf jika terdapat kesalahan... 
Oh iya, Mr. Catur upload foto-foto lainnya di Flickr. Silakan dikunjungi...

https://www.flickr.com/photos/129946410@N02/albums/72157663907953184

#BeyondACCESS!2016
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ▼  Mei (3)
      • Yang Tak Pernah Selesai Buatmu
      • Reply 1988, Masa Lalu yang Begitu Sempurna
      • BEYOND ACCESS! 2016
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes