Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for 2016
(sekerat kisah dari episode Mata Najwa goes to Netherlands)



Tanah airku tidak kulupakan
‘kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak ‘kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai




Apa rasanya mendengar dan menyenandungkan lagu kebangsaan ketika kita tengah berada di tanah asing. Belanda, misalnya. Mata Najwa melakukannya beberapa waktu yang lalu. Di sebuah aula yang cukup besar, gauungan suara menyayat rindu dari para peneguk ilmu di tanah Netherlands menyeruak seketika. 
Kerumuman mahasiswa asal Indonesia, beberapa wajah asing, tiga pembicara hebat yang duduk di atas panggung, dan tak terkecuali sang tuan rumah penuh haru menggemakan rindu untuk pertiwi. Hari itu, kerinduan akan rumah (baca: Indonesia) begitu terasa di panggung Mata Najwa Goes To Netherlands.
Pasti akan berbeda ketika lagu itu terdendang di atas tanah pertiwi. Kau kira apa yang membedakannya? Rasa. Sama seperti ketika memakan pelecing kangkung di tanah Lombok dan memakannya di tanah Belanda. Pelecing yang biasanya selalu dekat dengan rumah kini punya rasa yang berbeda, ada rasa baru yang muncul ketika pelecing kangkung dimakan di tepian aliran sungai kampung terapung di Belanda. Hehe.. Buat yang lagi jadi peneguk ilmu di luar negeri, saya cukup yakin untuk memastikan kalian pada nangis-nangis pas nonton. Recommended dah buat kalian… Te, wajib nonton! Haha..

Catatan Najwa malam itu menjawabnya. Ada atmosfir yang lain disana, iringan lagu lagu Tanah Airku yang digemakan di dalam ruangan itu meneguk rindu yang terlalu dalam. Ratusan manusia dengan mayoritas para perantau yang tengah meneguk ilmu berada di sana. Mereka mengharu biru mendapat kesempatan untuk merasakan rumah lewat cara yang tak biasa, menyanyikan lagu Tanah Airku karya Ibu Sud.
Siaran Mata Najwa malam itu (21/11) memang lain dari biasanya. Tiga tokoh penting tak tanggung-tanggung diboyong Najwa ke negeri Kincir Angin itu. Ridwan Kamil. Ganjar Pranowo dan Prof. Rhenald Kasali. Tema yang diangkat malam itu adalah “Generasi Pembelajar”. Agaknya tema yang sama sempat diangkat Mata Najwa sebelumnya, tapi entah kapan yang pasti pernah pakai tema itu. Baiklah.
Saya tak menyaksikan acara itu secara utuh. Kira-kira 10-15 menit setelah tayang barulah Ibu mindahin channel ke Metro TV. Saya sedang mengerjakan tugas Pak Sapiin kalau tak salah ketika itu. Mendengar suara khas Najwa, yah, apa daya… Langsung balik arah ke televisi. Cegrek… Ini dia yang ditunggu.. Edisi goes to Netherlands akhirnya tayang. Wajah sumringah ^_^.
Melihat dua wajah yang cukup sering diundang Najwa ke panggungnya, saya cukup yakin episode kali itu cukup menarik untuk ditonton di tambah lagi dengan satu tokoh yang sepertinya cukup terkenal tapi aku aja kali ya, yang belum tau namanya dan sekarang, jadi tau namanya. Hehe… His name is Prof. Rhenald, founder Rumah Perubahan. Tiga tokoh yang diundang di panggung Mata Najwa kali itu berbagi mengenai kisah belajar mereka hingga mampu menjadi seperti saat ini. Dari kisah yang mereka bagi, jelaslah bahwa konsep generasi pembelajar bagi mereka dimiliki oleh tipe manusia-manusia yang punya garis hidup yang keras.
Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng bertahan dengan keinginannya untuk berkuliah meski dari kiri dan kanan olok-olok keluarga mengacuhkan kapasitas ekonomi keluarganya. Lihatlah bagaimana Ridwan Kamil bercerita mengenai dirinya yang pantang pulang ke Indonesia karena malu baru beberapa bulan di AS dan belum mapan. Lalu Prof. Rhenald yang pernah memiliki satu setel seragam dan setiap hari selalu dicuci oleh ibunya lalu dikeringkan di dekat lampu agar kering. 
Satu hal yang membuat mereka bisa berdiri dan diundang di atas panggung Mata Najwa saat itu adalah karena penghormatan mereka terhadap sosok ibu. Ridwan kamil selalu ingat dengan pesan-pesan dari ibunya. Satu yang saya ingat ketika ia menceritakan pesan mengenai cinta dari ibunya. Kira-kira bunyinya begini, "Ibu saya memberitahu kalau cinta itu ada 3. Cinta kepada Tuhan, kepada sesama dan kepada tanah air." See?
Yakinlah bahwa ibu adalah satu-satunya jawaban untuk kesuksesan hidup kita. Terlalu banyak kisah-kisah manusia sukses yang berhasil karena doa seorang ibu. Tak perlu kita pungkiri itu, dan saya sangat yakin itu. Agama pun mengajarkan hal itu. Semoga doa dan restu beliau yang tiada putus mampu melebarkan jalan kesuksesan kita di dunia dan akhirat. Pun kita, semoga selalu ingat bagaimana berbalas budi meski sekali pun tak pernah cukup isi dunia untuk menebus budinya.
Hal lain yang juga membuat mereka pantas berdiri dan berkisah mengenai hidup mereka di panggung itu adalah karena mereka benar-benar sadar akan status mereka sebagai generasi pembelajar. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh dan penuh perjuangan. Mereka paham bahwa generasi pembelajar adalah generasi yang tak hanya duduk diam untuk meneguk ilmu namun dengan ilmu itu mereka mampu berbuat lebih untuk negeri, berbakti, membalas budi kepada ibu pertiwi. 
#MataNajwa, #MataNajwagoestoNetherlands, #GenerasiPembelajar, #RidwanKamil, #GanjarPranowo, #RhenaldKaasali

Kau tahu, Lang? Kuliah analisis wacana itu mengagumkan sekaligus menyeramkan. Ia dapat berubah sewaktu-waktu menjadi sebuah bedil dan meluncurkan timah panasnya ke arah bidikan yang tak terduga bahkan. Saya baru menyalami punggung tangannya beberapa waktu lalu, belum lewat satu bulan. Kau tahu yang membuatnya menarik? Sudah jelas KATA dan tentu yang tak bisa dipungkiri adalah pemberi KATA itu (baca: dosen). Dosen yang sekaligus pembimbing UKMF Pena Kampus itu, bagi saya punya daya magis tersendiri ketika mengeluarkan kata. Setiap frasa, kata, klausa maupun kalimat yang dikeluarkan beliau tak lepas dari ideologi, sejarah, filsafat dan hal-hal menarik lainnya. Bahkan Ia memulai hari ke-2 kuliah dengan menyusuri jejak filsafat mata kuliah ini. 
"Setiap ilmu pengetahuan itu berawal dari filsafat." Begitu ucap beliau dan saya seperti pernah mendengar kalimat itu dimanaaa gitu. Huhu.. Kurang kece apalagi mata kuliah ini. Semoga kita berjodoh ya, Analisis Wacana!
Baiklah... Kalimat yang saya ingat betul diucapkan Pak Dosen adalah, "Tak ada manusia yang benar-benar bebas." Apa maksud kau, Ji’?
Baiklah. Coba lipatkan jari-jari tanganmu satu dengan yang lain. Lalu lihatlah ibu jari yang bertengger paling atas milik siapa? Kiri atau kanan? (kau jawab sendiri!) Setelah itu, lakukan hal yang sama kembali namun dengan posisi sebaliknya. Jika tadi yang bertengger di puncak jemari adalah ibu jari sebelah kanan maka sekarang ubahlah posisi puncak jemari menjadi ibu jari kiri beserta telunjuk dkk. (Contoh Analogi dari pak Dosen)
Sudah? Bagaimana rasanya? Ada yang aneh? 
Yap! Seperti itulah manusia. Tak ada yang benar-benar bebas di dunia. Ia masuk dari satu wacana ke wacana yang lain. Berpindah dari satu ruang ke ruang lain dan tenggelam dalam wacana yang berbeda dari sebelumnya. Jika kau belum cukup memahami apa yang saya maksud, Lang kau bisa memahami satu  analogi yang juga diberikan Pak Sirulhaq, dosen Analisis Wacana, di bawah ini...

Wacana itu like building a house. Kita umpamakan sebuah rumah adalah sebuah wacana. Ia tersusun oleh berbagai komponen pembentuk. Untuk membangun rumah, beberapa komponen yang kita ketahui ada batu, bata, tanah, semen dan komponen lainnya. Kita umpamakan pasir, batu, bata, semen dan komponen pembentuk rumah itu adalah sebuah bahasa. Maka, bahasa-bahasa itu akan membentuk sebuah wacana pada akhirnya. 
Komponen pembentuk (konteks) wacana itu ada yang tersembunyi maupun tidak. Kembali kepada analogi rumah, ketika rumah selesai dibangun, komponen pembentuknya (konteks) ada yang tetap terlihat seperti tembok yang telah bercat, genteng, lantai berkeramik dll. Namun ada pula komponen pembentuk rumah yang tak tampak seperti pasir, batu, bata dll. Itulah yang dimaksud dengan konteks yang terlihat dan yang kasat mata.
Saya berusaha menjelaskan analogi ini kepada kakak saya, Ia mahasiswa teknik semeser tinggi yang sedang pilu dengan tugas akhirnya. Haha.. Namun penjelasan saya tak pernah disetujui oleh pikirannya. Ia mengatakan bahwa komponen pembentuk rumah itu tidak sesederhana apa yang saya jelaskan kepadanya. Saya jadi tak tahu akan menjelaskan pengetahuan saya yang masih cetek dan lagi panas-panasnya ini kepada siapa. Bapak? kagak bakalan selesai. Ibu? Sibuk. Ubay? Oh bener, Ubay adalah sosok yang tepat untuk dijadikan pendengar. Ia adalah satu-satunya pendengar terbaik di rumah untuk saat ini. Bolehlah untuk menjelaskan pengetahuan saya yang masih cetek dan anget-anget ini. Oh, No... Saya lupa, jelas ibunya menyuruh saya menjelaskan pengetahuan ini kepada Ubay tanpa suara. Hahaha... Ia belum genap 1 bulan. 
Penjelasan saya belum selesai. Saya sudah harus pulang dan melanjutkan hari di rumah.
Bye kampus!
25 September 2016| @UPT Perpus.


"Rengkuhlah, zenit kian berderak dibuatmu
Semesta tak lupa pada ketekunan
Jiwa-jiwa peneguk ilmu, jiwa-jiwa penegak ilmu
Teguhkan ia dengan teh berkilat madu di balik senja
Benamkan segala dalam pelita doa."

 Aamiin...

Keberangkatannya menuju London itu pun tiba. Kami sebenarnya begitu ingin mengantarkan kepergian salah satu wanita terbaik dari keluarga kami itu. Siang harinya, Kak Hendra mengatakan tak bisa mengantar kami, ehh... lebih tepatnya Ibu yang sangat ingin mengucap selamat jalan secara tatap muka. Jadilah akhirnya hanya Kak Hendra seorang yang melenggang ke bandara dan mengantarkan pundi-pundi poundsterling yang sebelumnya berupa rupiah itu. Sangu itu disiapkan Bapak Inda untuk kebutuhan tak terduga sepertinya. Agak kecewa sebenarnya tak dapat bersua sebelum akhirnya Te—panggilan akrab kami yang bersumber dari Eril, menjejaki kaki di tanah Inggris sana. Namun apalah daya, Lang.
Perginya Kak Hendra sekaligus mengakhiri niat Ibu berjumpa Kak Inda untuk terakhir kalinya setahun ke depan. Tak patah arang, Ibu menelepon Pak Acip, tetangga yang menyediakan mobilnya untuk jasa antar-jemput tapi tak berhasil. Ia tak berada di rumah. Usaha itu benar-benar menutup niat ibu untuk menemui Te.
"Kemarin itu, terakhir kita ketemu Kak Inda, ya?..." Pertanyaan Ibu itu hanya kami jawab dengan gumaman saja. Ada bening di pelupuk matanya.
Di rumah, kami, yang saat itu sebenarnya ingin mengantarnya tak kuasa menahan bayang-bayang kepergiannya di bandara sana. Imajinasi adegan per adegan semakin nyata ketika kudengar Ibu berbincang di sisi telepon genggam miliknya. Sendunya tak mampu berbuat banyak. Ia  tetap di sini meski terlalu ingin ia mengantar kepergian kemenakan tercintanya itu.
Kak Inda memang telah lama tinggal di rumah kami. Sejak memasuki dunia kuliah di Universitas Mataram (Unram), Ia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami di rumah ini. Mungkin sebab itulah, kami menjadi sangat dekat meskipun sebelumnya memang seperti itu pula keadaannya. 
Keberangkatan menuju London itu pun meninggalkan air mata, kegundahan, dan kawan-kawannya. Bagaimana tidak? Kesan tiga tahun mendiami rumah kecil kami begitu sulit dilepas Ibu. Ia wanita yang paling tak kuasa menampung bening hangat dari matanya. Berat memang… Apalagi bagi Bapak Inda, Ibu Inda, Ekal, dan Eril. Pasti selalu ada kekhawatiran melepasnya sendiri di negara orang. Ah… Segalanya tumpah.

Keberangkatan menuju London itu pun menyisakan kepedihan di setiap kami yang merasa kehilangan ini. Kehilangan yang membanggakan.
----


Perjalanan sejarah sebuah mimpi, mungkin begitu sulit dipercaya. Ia bak benih-benih emas jika disemai dengan baik. Is it her destiny? "Para fatalisme tentu menganggapnya begitu." seorang dosen mengatakannya pada perkuliahan di suatu pagi. Namun, perihal benih emas, setiap orang tentu memilikinya namun Te adalah satu diantara yang berhasil menyemai benih emas itu. Good Luck!

Terlalu banyak manusia hebat di sekitar kita. Perihal kita mengetahuinya atau tidak, itu hanya kita saja sebenarnya yang kurang peka pada sekitar. Kita terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri. Mereka terus melesat maju demi tercapainya prestasi diri. Penuh semangat, gairah, dan percaya diri sebagai wujud aktualisasi diri mereka sebagai sebuah proses kehidupan yang mesti dijalani.
Sering saya perhatikan, manusia hebat itu memiliki paling tidak satu hal yang mereka geluti. Misalnya saja seperti seorang teman yang memang benar-benar intens menikmati kegiatannya saat ini dalam sebuah komunitas yang aktif dalam menjaga lingkungan hidup. Selain memang merupakan mahasiswa pertanian, ia juga benar-benar eksklusif memberikan kontribusinya untuk lingkungan. Dan itu keren! Kurang keren apa coba kalau seseorang yang aktif dalam sebuah komunitas dan memberikan kontribusi nyatanya untuk negeri ini? Apalagi untuk kemaslahatan umat. Ah… semoga diriku mampu sepertimu, kawan.
Lalu saya beranjak menyambangi beranda kehidupan saya sendiri. Saya melihat sebuah cermin. Dalam cermin itu, saya melihat sosok saya yang tengah membersihkan cermin yang tampak buram itu. Seperti tak pernah dilap, banyak debu sisa aktivitas-aktivitas yang seringkali lupa untuk saya ambil saripatinya. Seakan-akan saya tak pernah selesai untuk membersihkannya.
Dan kini, saya merasa belum mampu menjadi manusia yang produktif seperti mereka, manusia hebat itu. Meskipun menjadi hal lumrah seorang manusia merasa iri atas prestasi lebih yang dimiliki manusia lainnya tapi tetap saja ada hal yang harus saya lakukan dalam hidup saya sebagai wujud aktualisasi diri untuk bergerak maju seperti mereka. Lah, sedangkan saya? Entahlah. Saya seakan tak pernah selesai dengan proses pencarian sebuah titik. Titik yang akan saya garisi dengan tinta secara perlahan untuk menjadi sebuah karya. Ingin menjadi ini, ingin menjadi itu.
Waktu seperti membuat saya terhempas gelombang lautan. Gelombang yang terus menerus menghantui saya untuk mendayung lebih jauh dan lebih jauh lagi. Melaju melewati lautan kehidupan yang sebenarnya. Terombang-ambing? Adalah kepastian dalam hidup, saya kira. Namun saat ini, untuk mendayung pun seperti tak pernah selesai bagi saya. Lalu apa yang selesai dari saya? Semoga bukan keberanian.
Namun hingga kini hati saya masih percaya dengan kalimat "Every child is special". Entah saya menggunakannya sebagai kamuflase penawar hati saja atau sebagai sebuah komitmen bahwa saya pun memiliki kemampuan juga yang mungkin belum terlihat saja (sebenarnya). Udah ah… Cocoknya mah lagu ballad yang ngiringin baca tulisan absurd ini…

Hingga kelu harapku kau pulang
tak juga kutemui namamu pada bintang-bintang

Masihkan rindumu, rindu kita, mencoba membuat
jejak pada gulita malam?

Andai gemintang tak kunjung membawamu kembali,
kucukupkan pelitanya sebagai penawar hati

Namun kau dan gulita seringkali terlalu bisu 'tuk sekadar

berkata, rindu!

Apa yang membuat masa lalu begitu menarik? Seakan-akan ketika membicarakan mengenai masa lalu, kita seperti di tariknya untuk kembali kesana.
Mungkin jawabannya adalah kenangan. Masa lalu seperti sebuah magnet, segala yang berkaitan dengan besi-besian akan tertarik ke dalamnya. Masa lalu yang begitu menyenangkan, biasanya meninggalkan jejaknya lewat kotak yang disebut kenangan-kenangan indah. Ah… Siapa yang tak ingin mengulangnya kembali? Apalagi masa ketika berkumpul bersama kawan-kawan lama. Tertawa, bermain,  bertengkar dan melakukan banyak hal bersama.
Drama Reply 1988 membuat kita yang berada di masa milenium sekarang merasa iri dengan gambaran kehidupan masa 1988. This Drama is too perfect untuk menggambarkan sosok 5 anak muda yang telah menjalin persahabatan sejak kecil hingga dewasa. Persahabatan mereka sangat indah. Tak ada konflik besar di antara mereka (kecuali masalah percintaan) yang perlu dirisaukan karena lima anak itu memulai debut persahabatan mereka sejak kecil. Hahaha..
Tapi yah, saya pikir-pikir lagi memang kisah keluarga di kompleks itu terlalu sempurna. Tak ada perkelahian antar sahabat. Mereka saling memahami dengan begitu baik. Semuanya sosoknya prontagonis. Sosok ibu yang benar-benar sempurna, ayah yang pengertian dan terbuka dan banyak hal yang saya pikir terlalu sempurna dalam setiap kisah-kisah mereka (kecuali kisah percintaannya Jung Hwan ya!). Meskipun sebenarnya, saya menginginkan Jung Hwan yang akan jadi pasangannya Dook Seon pada akhirnya. Saking tulus dan eratnya ia menyimpan cintanya kepada Dook Seon. Ah sudahlah…
Drama ini mengisahkan bagaimana suasana manusia-manusia tahun 1988. Ketika teknologi masih menjadi barang yang cukup mahal, tren mode fashion anak muda yang keranjingan barang-barang Nike dll. yang  cukup ngetren pada saat itu, hingga kisah manusia kekinian yang mulai lupa untuk bercengkerama dengan tetangga-tetangga juga kawan-kawan dekat rumah. Juga kisah berbagai keluarga dengan beragam lika-likunya, perjuangan orang tua untuk membesarkan anaknya.
Ah, mengapa Drama Korea selalu mampu menarik air mata sebagai pengganti ongkos drama mereka yang kita dapatkan gratis ini ya? Yah, hanya saja, bumbu-bumbu yang tak penting (kissing scene) sungguh-sungguh sering ditaburkan ke dalamnya. Padahal hal itu yang membuat drama Korea seringkali bernilai minus di mata saya. Padahal sangat disayangkan, film dan dramanya sangat bermutu (lebih baik ditiadakan scene-scene seperti itu).

Ini dia Hal paling menarik dari Reply 1988 menurut saya:
1.      Seorang Ayah akan selalu berjuang hingga titik terakhir untuk anaknya.

Mungkin hati seorang ayah adalah yang paling susah ditebak sepertinya. Lihatlah bagaimana Ayah Dook Seon yang sangat susah mengungkapkan isi hatinya di depan anak sulungnya, Bo Ra. Berjuang mati-matian untuk bekerja agar anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan.
2.   Bagi orang tua, permintaan anak bukanlah sebuah beban. Tapi sebagai anak kita seringkali menuntut lebih pada mereka.

Ingat bagaimana Ibu Jung Hwan membuatkan anaknya makanan kesukaannya tetapi lebih memilih makan bersama sahabat-sahabatnya? Kita mungkin menganggap diri telah dewasa dan dapat mandiri, tapi bagi Ayah dan Ibu, anak tetaplah seorang anak. Mereka tak menyadari betapa cepatnya kita tumbuh hingga kita perlahan mulai menjauh dari dekapan mereka. Padahal di hati mereka, betapa mereka ingin selalu berada di dekat kita. Sungguh, ketika adegan-adegan seperti ini , saya seketika mengingat Ibu dan Bapak. Saya bertanya apakah mereka pun sama seperti itu? (Saya sangat menyukai akting Ayah Dook Seon. Benar-benar sosok seorang Ayah sejati).
3.      Berkumpul bersama orang-orang tercinta adalah yang terbaik dalam hidup.

Apa jadinya jika kita hidup sendiri tanpa pernah bercakap-cakap dengan orang-orang tercinta kita? Ingat bagaimana kebahagiaan Dong Ryong ketika Ibunya menyiapkan sarapan untuknya setelah sekian lama ia hanya sarapan seorang diri?
4.      Beranilah! Ambillah resiko jika kau benar-benar ingin mendapatkan apa yang kau impikan.
Seperti yang diungkapkan Jung Hwan ketika ia begitu menyesal di dalam mobilnya, pada akhirnya takdir dan timing tidak terjadi karena kebetulan. Ia adalah usaha dari pilihan yang kita buat sendiri. Keberanian untuk meraihnyalah yang akhirnya membawa kita pada impian kita (yang saya bicarakan bukan hanya masalah cinta ya..)That's right. Bukan hanya masalah timing, tapi bagaimana usaha kita. Setelah berusaha dan gagal tak apa, yang penting kita telah melakukan sesuatu untuk mengejar mimpi kita.
5.      Masih banyak lagi. Saya tak begitu ingat. Yang pasti, empat hal di atas yang paling inti (saya kira)
Sekarang udah Mei aja. Tapi tulisan ini mengisahkan perjalanan dua bulan yang lalu. Karena sekarang ada mood buat nulis sekaligus paksaan dari dalam diri untuk menuangkannya dalam tulisan. Iya kan??? Hehehe… 18-21 Maret 2016. An impressive moment!


BEYOND ACCESS! 2016
Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti acara Beyond Access!. Acara ini bisa dikatakan merupakan reuni para alumni Access. Access merupakan Microscholarship untuk mereka yang masih di bangku sekolah menengah atas atau sederajat berusia 18-25 tahun di berbagai daerah termasuk Timor Leste. Microsholarship ini dipayungi oleh Regional English Language Office (RELO)U.S. Embassy. 
Program ini diberikan selama kurang lebih dua tahun (empat semester).Dalam program ini, kami mempelajari segala hal terkait Amerika Serikat. Belajar bahasanya, budayanya dan banyak hal lain tentang Amerika. Hal menarik yang sering kami temui adalah kami bukan hanya diajarkan berbagai teori lewat buku, audio, video tetapi terkadang, bule aslinya sering datang mengajari kami langsung. Kegiatan ini bisa dikatakan hampir sama seperti les bahasa Inggris pada umumnya namun bedanya yang seperti saya ungkapkan di atas. Kegiatan-kegiatan indoor maupun outdoor yang sangat menyenangkan. 
Ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA), saya cukup beruntung mendapatkan Access Microscholarship yang diselenggarakan oleh U.S. Embassy yang bekerja sama dengan Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia (UI) meskipun belum cukup lama Saya masuk dalam Microscholarship ini. Untuk Access Mataram, digawangi oleh UPT Pusat Bahasa, Universitas Mataram. Oleh karena itu, kegiatan belajar bahasa Inggris dilaksanakan di UPT Pubah.
Ketika mendapatkan e-mail bahwa saya dapat ikut dalam kegiatan Beyond Access!, di satu sisi hal-hal menyenangkan dan menggembirakan selama belajar di Access kembali terbayang dan saya yakin akan kembali terulang. Namun, di sisi lain, ternyata tak semua teman-teman Access Mataram dapat mengikuti kegiatan ini. Untuk Access Mataram, hanya ada empat dari sekitar dua puluhan Access yang lolos pendaftaran. Ibu Jenn, sebagai Regional English Language Officer (RELO) mengatakan, mereka sangat ingin mengundang semuanya namun tentu saja tak mungkin semua alumni dapat hadir. Oleh karena itu, kami yang berkesempatan hadir diminta untuk membagikan pengalaman kami selama mengikuti Beyond Access! Ini dia sedikit kisahnya.

Pergi Untuk Kembali
Gambar dari akun facebook salah satu peserta BEYOND ACCESS!

Jum'at, 18 Maret, sekitar pukul 6.00 pagi langit Lombok masih cukup gelap. Deru mesin pesawat sedari tadi membuat gaduh. Saya dan orang-orang lainnya bergerak memasuki badan burung bermesin itu.
Kekatro'an saya diuji sejak berada di bandara Lombok (BIL) hingga pulang kembali. Untung saja insting kebutuhan dasar manusia membawa saya cepat beradaptasi dengan lingkungan. Yah, nggak katro'-katro' amatlah ketika di bandara, hotel, dan tempat yang Saya kunjungi karena Saya sebenarnya sudah mendapat pembekalan dari Pak Tutor (Bapak) haha…
Saya duduk di sisi jendela sebelah kanan pesawat, dan itu cukup melegakan. Perlahan persawahan di sekitar area bandara, rumah-rumah, pepohonan besar, deretan lampu-lampu jalan yang masih menyala terus mengecil dari pandangan mata. Matahari mulai menyuar. Satu dua kali saya coba mengintip jendela pesawat mencoba menghilangkan kejenuhan selama hampir dua jam perjalanan (maklum, untuk pertama kalinya saya pergi ke luar daerah dengan pesawat terbang).
Saya dan teman-teman tiba di Soetta sekitar pukul 7.00 WIB. Cukup lama menunggu jemputan dari pihak Access, mungkin hampir lima belas menit kemudian kami didatangi oleh lelaki yang ternyata bernama pak Memen. Beliau yang mengantar kami ke hotel (plus mencarikan kami tempat makan, terima kasih, Pak!).

Pemuda-Pemuda Penuh Inspirasi
Sesi Shark Tank

Pukul 16.00 kami berkumpul di ball room hotel dan acara pun dimulai. Satu persatu wajah-wajah baru muncul. Peserta dari daerah Jakarta dan Bangkalan menjadi yang paling banyak berpartisipasi dalam acara ini.
Kegiatan ini diisi dengan Workshop dari empat anak muda yang membuat berbagai kegiatan bermanfaat untuk lingkungan mereka. Salah satunya adalah Kak Pandu, ia adalah penggagas Code For Bandung, sebuah komunitas yang berguna untuk membuat aplikasi untuk menyelesaikan permasalahan kota Bandung dengan bekerjasama dengan pemerintah kota Bandung sekaligus melakukan sosialisasinya sebagai alat partisipasi masyarakat. (semoga benar yang saya pahamin. hehe)
Lalu ada Mbak Herlin dari UI dengan English Art Labnya, dan pemuda inspiratif lainnya yang juga menyampaikan aksi peduli mereka terhadap masyarakat.Saya lupa satu program terakhir yang dibuat oleh dua pemuda (maaf saya lupa namanya)—Map berisi dokumen-dokumen terkait acara Beyond Access! ini tertinggal di pesawat dan hingga kini lenyap tak berbekas meski sudah diupayakan dengan berbagai usaha (kisah ini ada ceritanya sendiri, kapan-kapan saya ceritakan). Rezeki tak akan kemana. Biarlah jadi pelajaran saja. Aiihh, inget ini ngerasa.. Ah, biarlah.. Ikhlaskan, let it go! Let it go!....

What is Our Project?
Diskusi mengenai Project
Setelah mendapat berbagai inspirasi mengenai komunitas-komunitas yang menarik itu, saatnya kami mencoba mempraktekkan hal yang serupa seperti mereka. Menuangkan ide di benak kami masing-masing untuk melakukan aksi nyata bagi lingkungan sekitar. Pada sesi ini saya agak gimana ya… 
Ketika itu kami diberikan berbagai tema untuk menuangkan ide-ide brilian kami. Ciee.. Rencananya ketika itu saya akan memilih tema teaching and education, namun karena satu kelompok telah ditentukan jumlahnya, dan tema itu sudah penuh jadilah saya pergi ke kelompok lain yang masih kekurangan personil. Dan di sana saya sekelompok sama Husniati. Aduh, kenapa satu kelompok sih kita yang dari Lombok. Tapi tak apalah… yah, pada akhirnya kelompok kami membuat gagasan mengenai aksi anak-anak sekolah dasar untuk mengumpulkan sampah plastik dari makanan yang mereka konsumsi. Konsep ini bisa dikatakan mirip dengan bank sampah. Atas usulan si anak Jakarta itu (saya lupa namannya) kami akhirnya sepakat, Tricky Trash, that is our project name. hahaha… Meskipun kagak juara sih, yang penting sudah mencoba.

It's Time to Dinner
Mirip Tom Cruise bukan?

Intinya kegiatan selama empat hari tiga malam itu sangat luar biasa itu sangat menyenangkan, menginspirasi, luar biasa apalagi ditutup dengan dinner invitation di rumah Duta besar Amerika Serikat di Jakarta. Wiihh, kapan lagi bisa makan di rumah Dubes, gratis pula.
Jarak dari hotel ke kediaman U.S Deputy Chief of Mission (Wakil Duta Besar Amerika Serikat), Brian McFeeters (Mirip Tom Cruise ya?). Sebenarnya tak jauh tapi karena ketika itu jalanan cukup macet jadinya setengah sampai satu jam kami lewati di jalan. Lokasinya di daerah Menteng. Dekat Taman Suropati seingat saya. 
Hal yang cukup melelahkan pula adalah, untuk masuk ke rumah Dubes pun ada petugas yang mengabsen kami satu per satu sesuai abjad untuk masuk. Dan satu bis kalau tak salah berisi hampir empat puluhan. Jadi mekanisme masuknya itu begini, kami kan datang dengan dua bis. Setiap bis ada satu petugas yang bertugas mengecek satu per satu yang masuk. Jadi, yang dipanggil namanya langsung turun dan masuk ke dalam. Parahnya adalah, nama saya diawali huruf W. Meskipun cukup lama hingga ac bis itu membuat saya hampir mau muntah. Tapi memang begitu mekanismenya kali ya. Jelaslah, yang mau dikunjungi kan rumah Wakil Dubes.
Pas baru masuk, yang lain pada udah santai-santai aja, pada selfie, ehehehe… kita baru buka pintu. Hoho.. Rumahnya luar biasa. Indah! ^_^ Klasik-klasik gimana gitu… yang paling ditunggu-tunggu dan butuh perjuangan karena pakai antrean adalah Es Krimnya. heheehhe…terima kasih.

Sepertinya hanya itu yang dapat saya bagikan untuk kau, Lang! Agaknya banyak yang bisa saya ceritakan namun entah agak sulit untuk dituangkan ke alam tulisan. Mohon maaf jika terdapat kesalahan... 
Oh iya, Mr. Catur upload foto-foto lainnya di Flickr. Silakan dikunjungi...

https://www.flickr.com/photos/129946410@N02/albums/72157663907953184

#BeyondACCESS!2016
Saya lupa pada siapa saya berhadapan. Saya lupa betapa semangatnya anak itu. Saya lupa berapa kali saya memintanya mengulangi surah yang belum juga dihapalnya. Saya lupa usahanya yang berulangkali mengulang-ulang hafalannya namun belum mampu menghafalnya dengan urutan yang benar.
Di akhir maghrib itu, Ia akhirnya menyerah setelah mengulangnya beberapa kali. Ia meneyerah dan meminta saya menulis keterangan “ulang” saja pada kertas hafalan miliknya. Dan ketika itu, ketika itu saya langsung tersadar bahwa saya sudah kelewat batas. Wajahnya langsung berubah lesu. Semangatnya turun.
Ya, Allah… Saya baru tersadar akan hal itu. Betapa kejamnya saya hingga memintanya berulangkali menghafal namun Ia masih belum mampu menghafalnya. Betapa bodohnya saya tak melihat perjuangan kerasnya mencoba untuk bisa menghafal. Saya terlalu terobsesi. Maafkan saya ya Allah.
Maafkan saya karena tak peka melihat semangat adik saya yang satu ini. Maafkan saya, dek. Maafkan kakakmu yang bodoh dan tak peka ini. Karena saya semangatmu menjadi turun. Kau bukan tak mampu, tapi saya yang terlalu perfeksionis. Kau sungguh mampu! Hanya mungkin butuh waktu. Maafkan saya, dek. Apa yang Saya lakukan untukmu sebenarnya sungguh untuk kebaikanmu, namun ambisi saya untuk membuatmu bisa menghafalnya “sedikit lagi saja” membuat saya lupa perihal kata “lanjut” pada kertas hafalan itu. Dan tentu itu yang kau tunggu, bukan? Sungguh, maafkan saya. Tak apa kau belum mampu sekarang. Besok kita menghafal lagi, ya! Saya berusaha untuk tak seperti itu lagi kedepannya! Insya Allah.

Untung saja ia lelaki + periang!

Agaknya akan cukup mengerikan jikalau adik yang satu itu bukanlah seorang lelaki + periang. Saya cukup lega atas itu. Ternyata di masa anak-anak seperti itu dengan cepatnya mereka melupakan kekecewaan yang beberapa menit berlalu. Saya sudah harap-harap cemas saja berfikir kalau-kalau semangatnya menghafal sudah mulai luntur.
Ketika ia akan pulang, saya menantinya menggenggam telapak tangan saya untuk disalami. Dan ternyata ia masih penuh senyuman seperti biasanya. Saya lalu memeluknya mengatakan kalau ia sudah lanjut ke hafalan surah selanjutnya. Dan ternyata kekhawatiran panjang saya sebelumnya dijawab dengan enteng saja oleh si adik. “Memang saya mesti lanjut, kak!” sambil cengengesan dengan gigi yang tak beratturan. Lah ini anak. Untuk gue gak lebih kejam dari itu. hahaha… Ya, sudahlah! Anak-anak memang tak terduga!


#BelajarMenghargaiUsaha
#BelajarJadiGuru
#EveryChildIsSpecial
Kesibukan Ibukota

Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana kita berbicara. Jika indah bagi sebagian orang adalah mengenai apik dari segi bangunan, maka saya yakini Ibukota sudah apik meski saya belum bisa disebut mengetahui segala lini jalanan ibukota. Yah, empat hari memang belum bisa dikatakan cukup untuk mengetahui keindahan Jakarta. Maklum, saya hanya menempati tiga lokasi di sana, hotel,  mall dan wajah jalanan dari bis. Tapi saya sudah memiliki gambaran mengenai Ibukota. Tak masalah, kan?
Jika mereka yang mengharapkan keindahan dalam arti ketenangan, tanpa kebisingan, tentu bukan Ibukota jawabannya. Bagi yang tak pernah ke Ibukota sekalipun tentu tahu jawabannya. Media memahat sendiri wajah Ibukota negeri ini dengan persis.
Dan benar saja, apa yang saya lihat di televisi ternyata tak ada bedanya dengan apa yang saya temui di Jakarta. Kemacetan, kebisingan, asap kendaraan, bangunan tinggi, kesibukan hingga larut malam sudah menjadi sebuah keharusan bagi kawasan cukup kecil bernama Jakarta.
Jadi, seindah apa ibukota?
Jakarta indah sebagai ibukota. Bukan lewat keheningan malamnya, namun lewat kebisingan jalanannya. Bukan lewat segar udaranya, namun lewat kepulan asap knalpot kendaraannya. Berbagai permasalahan ibukota agaknya menjadi sebuah lahan masalah yang tak kunjung selesai digarap.
Jakarta menawarkan cara hidup yang berbeda dengan Mataram (Ini menurut pengamatan selama 4 hari disana). Bangunan-bangunan tingginya, asap kendaraan di jalan, aura hedon yang sangat lekat (saya memperhatikannya lewat cara hidup teman sekamar saya yang anak Jakarta) dan tentu saja hal itu akan berakhir dengan kesimpulan bahwa saya mungkin tak bisa hidup di Ibukota negara ini.
Namun ketika saya berjalan-jalan di sekitar hotel (daerah Cikini), Saya melihat wajah lain Ibukota yang hampir saya lupakan. Pada perlintasan kereta api, banyak lelaki, wanita, anak kecil yang tidur di di bawah kolong perlintasan kereta api itu. beratapkan beton dingin dan beralas kardus, saya melintasi jalan sempit itu dengan perasaan cukup was-was. Inikah wajah lain Jakarta? Ya, untungnya wajahnya yang kali ini saya lihat pernah saya jumpai di televisi.
Ah… Jakarta! Adakah keindahan ketika menyebut namamu di hadapan mereka yang tertidur pulas dengan selimut kardus itu? Saya tak tahu jawabannya. Mungkin kata Jakarta tak seindah mereka yang terlelap dalam selimut tebal mahal hasil sumbangan rakyat, bukan?
Hingga ketika kembali dari Ibukota, saya pun kembali berkutat dengan kesibukan kecil sebagai mahasiswa di kota yang indah ini. Cukuplah saya menjadi warga Mataram yang hidup selayaknya sekarang. Namun, Saya agak ragu jika Mataram akan tetap sama seperti saat ini. Ketakutan saya adalah kota ini akan menyerupai wajah Ibukota jika aktivitas hedon di layar kaca tetap masih dipertontonkan dan seakan menjadi wajah percontohan hidup masyarakat kekinian bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sabtu Malam (12/12/15) 
di sebuah toko buku




Setiba di rumah, senyum yang merekah sejak tadi masih saja tersisa di sudut bibir. Aku lupa menghirup aroma apa saja yang hadir disana. Malam ini tak terduga. Sungguh!
Aku keluar bersama kakakku selepas Isya. Berniat membeli buku kuliah yang sebenarnya ingin kufotocopy. Namun kakakku menyuruhku untuk membelinya saja, "Selagi ada rezeki," Ujarnya ketika itu. sebenarnya wajah merah Soekarnolah (baca: Rp. 100.000) yang membuatku memastikan untuk membeli buku itu daripada melakukan kegiatan illegal yang dianggap legal itu (fotocopy).
Awalnya ibu agak takut untuk membiarkan kami keluar malam karena suasana malam minggu yang biasanya selalu ramai, pun juga karena ada perbaikan jalan yang dilakukan di jalan yang akan kami lewati. Namun akhirnya kami pergi juga.
Motor matic kuning itu membawa kami ke sebuah toko buku di daerah Gomong, TB. Airl**gga. Segera kami naik ke lantai atas toko yang memang diperuntukkan untuk buku-buku Bahasa. Kakakku pun tampak sedang melihat buku-buku yang berjajar di rak Teknik.
Setelah buku itu ketemukan, Aku masih enggan beranjak dari rak buku Bahasa itu. Sesosok lelaki muncul dari arah tangga, arah kananku. Lelaki itu semakin dekat dan ternyata berhenti di rak di belakangku. Aku masih menatap buku itu sambil berfikir, sepertinya lelaki ini kukenal, tapi wajhanya belum sempat kulihat, masih ngeblur. Ketika menoleh, wajah itu, baju itu, gaya itu, ia disini! Lelaki itu… 
Ah, Malam ini sungguh tak terduga... 
Lelaki itu yang pernah kuceritakan padamu, Lang!
Uh… Aku kembali menatap buku yang kupegang. Tanganku membolak-balikkan lembaran-lembarannya tak karuan. Ia berdiri di sebuah rak buku di belakangku, tapi tak tepat dibelakangku, agak kanan sedikit. Tak dekat dan tak jauh juga. Ia mengenakan kaus oblong coklat dengan model rambut yang tak kutahu namanya. Sepertinya model seperti itu tak ada namanya, entahlah dan tentu saja wajah yang, ya wajah syahdu itu kujumpai disana.
Ah, tak sanggup rasanya berdiri dengan membolak-balikkan lembaran Morfologi yang kupegang. "Hai, lelaki berbaju coklat, ingin rasanya kusapa dirimu.” Pada kaca jendela di sebelah kiri memantul bayangannya yang sedang melihat buku. Aku tahu rak yang sedang dipandangnya itu adalah rak buku-buku umum yang membuat otak harus berfikir. Yah, aku mafhum karen ia pun sepertinya seorang yang pemikir.
Kakakku entah berbicara apa, hanya bibirnya saja yang terlihat jelas bergerak. Aku tak bisa menahan senyum yang sedari tadi muncul di sudut bibir. Kakakku pun ikut tersenyum melihatku, bukan, tertawa tepatnya. Entah ia mengerti atau tidak gelagat yang kubuat.
"Udah, Ya? Ndak ada yang dibeli lagi?" Tanyaku masih dengan senyum yang entah kapan usai. Ia menunjukkan sebuah buku namun karena harga yang cukup fantastis ia urung membelinya.
"Itu pun jilid 1, Jik!" tambahnya. Kami akhirnya memutuskan untuk turun dan melihat buku-buku di lantai satu.
"Cari buku, Kak?" Aku berbicara pada lelaki yang kulihat bayangnya di kaca jendela. (Pertanyaan macam apa ini? Yaiyalah nyari buku, lo pikir ini toko apaan???)
"Iya nih. Lagi cari buku apa?" Suaranya, senyum sekadar itu, uh.
"Ah, ini!"Aku menunjukkan buku Stilistika itu. Mungkin tingkahku terlihat agak kagok. Sepertinya begitu, aku tak bertanya pada kakakku. Haha…
"Lagi nyari buku apa, kak?" tanyaku lagi. 
"Ya, malam mingguan di toko buku, daripada ngumpul-ngumpul gak jelas kan?" ujarnya. Ya Allah, kalimatnya pun sudah menggambarkan sosoknya. Rabbi...
"Yaya..." Ujarku sambil manggut-manggut. Aku menatap buku-buku yang ada pada rak yang digandrunginya. Tak tahu lagi kalimat apa yang harus kuutarakan. Aku pamit dan kembali menyapanya, hanya sekadar. Ia meninggalkan senyumnya, disini.
Kami pun turun dan kembali menengok-nengok rak-rak buku di lantai satu. Tanganku berjalan-jalan mencomot buku-buku yang ada, tapi pikiranku, lebih dari separuhnya dibawa oleh pertemuan beberapa detik itu. Ah, aku lupa. Lupa menyimpan aroma di sekitarnya, lupa pada buku apa ia menghentikan langkahnya, lupa pada detik keberapa pertemuan itu terjadi, lupa apa saja yang ia katakan. Lupa bahwa itu pertemuan tak terduga.
Toko hampir tutup, aku dan kakakku segera ke kasir dan membayar. Setelah itu, putu ayu yang dijual di pinggir jalan menjadi penutup perjalanan kami setelah sebelumnya mampir pada gerai Alf**art di Ampenan.
Aku menutup gerbang rumah, senyum itu masih terbayang, hingga saat menulis tulisan absurd ini pun, senyum itu masih terbayang.

"Hai Stilistika, Sepertinya kau akan sering kutemani dalam waktu-waktu dekat ini. Hahaha… Karena alasan kau kujumpa ia." #Stilistika_Nyoman Kutha ^_^

Sumber gambar

Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Kepada Diri di Masa Depan
    images7.alphacoders.com Semoga keselamatan tercurah bagimu, diriku di masa depan… Surat ini adalah surat yang aku dan...
  • Kisah 5 Binatang
    Dari sekian banyak topik di dunia ini, mimin KF memasukkan tantangan menulis "5 BINATANG YANG INGIN DIPELIHARA" untuk jadi to...
  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Sunnatullah Air & Minyak
    https://id.pinterest.com/ Saya belum cerita kalau kami satu kelas, ennnggggg tepatnya satu angkatan pada semester ini merasa sea...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (10)
    • ▼  Desember (1)
      • Generasi Pembelajar, Generasi Pembalas Budi Untuk ...
    • ►  Oktober (1)
      • Analisis Wacana, Semoga Kau Tetap Mengagumkan…
    • ►  September (1)
      • About London, Have You Ever Dream It, Te?
    • ►  Agustus (1)
      • Menyambangi Beranda Diri: Refleksi Sejenak
    • ►  Mei (3)
      • Yang Tak Pernah Selesai Buatmu
      • Reply 1988, Masa Lalu yang Begitu Sempurna
      • BEYOND ACCESS! 2016
    • ►  April (2)
      • (Jangan) Maafkan Saya, Dek!
      • Seindah Apa Ibukota?
    • ►  Februari (1)
      • Sebuah Pertemuan
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes