Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for Oktober 2014



mungkin terlalu naif bahkan mungkin begitu bodoh aku 'tuk mengerti
ribuan hal didunia bahkan akhirat
mungkin antara naif dan bodoh saling berkait?
lihatlah, itu salah satu kebodohanku.

mungkin aku yang tak mau mengerti 
tentang semua
tapi setidaknya ada seseorang 
yang bersedia berbagi tentang ini

aku hanya makhluk bisu yang lebih pantas disebut kambing,
kambing banci yang hanya tahu tentang makan rumput
itu saja yang kutahu
egoku terbiasa meracau

tapi setidaknya ada seseorang yang mengatakan dengan lantang padaku
bahwa ini hanya masalah waktu 
tapi setidaknya ada ruang bagiku tuk berbicara, menyuarakan tangisku
mengatakan bahwa aku pun berhak tahu.


Ahad, 5 Oktober 2014

Allahu akbar… allahu akbar… allahu akbar… Gema takbir bergaung menyemarak ahad yang mubarok ini. Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H.
Tadi sekitar pukul 7.30 Saya berangkat ke masjid dekat rumah. Baru saja keluar dari gang kecil depan rumah, sepi! hehehe… kayaknya kita gelombang terakhir dah. Tapi belom-belom mulai kali shalatnya, setengah jam lagi, iya!
Saya beserta penunggu rumah mempercepat langkah menuju masjid. Satu gang lagi yang kami lewati terbilang cukup sempit dengan jejeran rumah-rumah permanen yang menghimpit. Keluar dari gang, ternyata di jalan beraspal itu masih ada beberapa jamaah yang juga akan melaksanakan shalat Idul Adha. Alhamdulillah kagak telat.
Tiba di masjid, ternyata shaff bagi jamaah perempuan sudah penuh. Saya melihat beberapa wanita menaiki tangga menuju lantai atas yang belum sepenuhnya selesai itu. Lantas Ibu mencoba mengikuti beberapa orang didepannya mencari tempat di lantai atas. Saya pun mengikuti pimpinan bersama Jeng Pie. Tapi ternyata di atas pun sudah penuh. 
Saya lalu turun dan mencoba kembali mencari celah bersama Ibu dan Jeng Pie. Sia-sia. Di bawah sudah tidak muat. Hanya Ibu yang mendapat tempat di bawah. Saya beranjak dan kembali ke atas bersama Jeng Pie. Agak lama Saya mencari cara untuk bisa menggelar sajadah. Akhirnya saya menggeser sandal-sandal jamaah yang berserakan di dekat tangga lalu Jeng Pie berada di bawah, antara tangga yang menuju lantai atas dan bawah bersama beberapa jamaah perempuan lainnya. Posisi saya tepat di paling belakang dekat tangga. Nasib orang telat!  
Itu kejadian yang pertama. Nah yang kedua nih! Yang buat para Ibu tidak bisa tahan es mosi. Tau es mosi? Semacam es dung-dung tapi kalau di makan sakiiittttnya itu di sini. (tunjuk jidat).
Di lantai atas hanya berisi jamaah perempuan dan beberapa anak-anak saja. Nah, masalah muncul ketika tidak terdengar suara Imam yang hendak memimpin sholat. Padahal speaker sudah terpasang di atas tiang bangunan yang belum jadi sepenuhnya itu. Para jamaah perempuan yang mayoritas para Ibu pun ribut (Saya ndak termasuk yang ribut-ribut lho!).
Seorang Ibu yang berbaris di shaff depan keluar dari shaffnya dan meminta Ibu di sebelah Saya untuk memberitahukan hal itu kepada para bapak yang ada di bawah. Tapi tak di gubris dan Saya mencoba melongo ke bawah dan plekk. Ibu-ibu yang ada di lantai bawah sudah mulai takbir. Ah udah ah. Kemudian Saya memberitahu Ibu disamping Saya bahwa sholat sudah di mulai. Jadilah Saya eh, Kami semua cuman bisa pasang niat berjamaah aja.  Alias ikut hati dan gerak orang didepan aja. Lalu di tengah sholat Saya bingung, Imam di bawah udah takbir ke berapa ya? Kagak kedengaran! Yang kedengaran mah suara koor "aaaamiiin" jeamah laki + khotbah di masjid desa sebelah.
Eh, jadi kagak khusyuk dah! Pleekk. Yah itung aja dah 7 takbir rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua kan? Sip! Yang penting niatnya.
Sholat kelar. Jamaah langsung ribuuuttt karena masalah speaker yang bisu. Jadilah para jamaah yang ada di lantai atas langsung kabur. Saya langsung angkat sajadah pindah posisi ke tempat lowongyang di tinggali orang-orang yang pergi itu. Ih.. ini ibu-ibu belum selesai acara udah main kabur aja, kata saya dalam hati.
Salah seorang ibu berbicara kepada temannya yang sepertinya di tujukan juga untuk kami semua, “Nteh te turun. Ape jaqm pade dengah eleq te?”. Kalau di translate sama mbah gugel kira-kira begini artinya, “Kita turun aja, yuk! Kalian mau dengar apa di sini?”. Lebih baik turun, kalau di bawah bisa dengarin khotbah.
Tak lama berselang, lantai atas yang semula ribut oleh jamaah yang kecewa akhirnya mulai sepi. Hanya tinggal beberapa jamaah yang sibuk mencari sandal. Saya pun akhirnya turun bersama Jeng Pie. Ikut kecewa juga sih! Tapi yah, mungkin para bapak panitia lupa mengecek speaker yang ada di lantai atas. Penonton kecewa!
Bersama Jeng Pie, Saya menururni tangga dan melihat Ibu yang duduk di shaff belakang. Saya pun ikut duduk di sana dan ternyata suara Imam pun tak begitu jelas meskipun masih bisa dikatakan lebih baik dari nasib Kami diatas. Tak beberapa lama kemudian Kami pun akhirnya pulang sebelum khotbah selesai karena suara khotbah dan fokus kami sudah menjauh entah kemana.
Pulang! Lewat jalan yang berbeda y! #sunnah!
Hehehe… Saya lucu dengar Ibu-ibu yang bercerita kepada Ibu lainnya. Mereka bingung ikut gerakan siapa. Suara tiada terdengar. Jadilah shaff paling depan yang di ikutin padahal mereka pun tak mendengar suara Imam. Mungkin ada yang mendengar beberapa tapi yah, begitulah!
Udah ah! Ceritanya kepanjangan. Yang penting makna Hari Rayanya. Moga aja kejadian itu jangan sampai jadi perdebatan dan berujung pada masalah besar kedepannya, ok ibu-ibu! Sip!
Ya udah! Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H. Mohon maaf lahir batin. Mari serbu qurbannya! Wacaaw!



Ini tulisan sebenarnya bertanggal Rabu, 15 Januari lalu. Udah basi ya? Tiada apalah, yang penting hepi. 
Siang itu selepas sholat zuhur Aku terduduk di bangku panjang berwarna coklat didepan kelas sambil menatap bangunan berlantai dua tepat di seberang lapangan tengah dengan rerumputan yang baru saja dipangkas Pak Muhammad siang tadi. Bel tanda pelajaran usai mengalihkan pandanganku pada jam dinding kuning kecil yang tergantung pada tembok putih beraroma rindu ini.
Aku mendesah,
Huh... pengayaan untuk kelas XII akan segera dimulai. Kali ini para Ucupers merajai.
Yang kehadirannya dinanti akhirnya tiba. Pak Ucup mengajak kami belajar di luar kelas. Assikkkk....
Beliau telah lebih dulu duduk dengan kaki bersila diatas rerumputan hijau di lapangan tengah. Pepohonan di sekeliling lapangan rumput memayungi kami dari matahari yang teriknya tak begitu membara. Belaian angin juga menemani pengayaan kali itu. (Patut untuk di foto.) 
Membahas soal-soal sastra dalam lingkaran udara sore madrasah, sungguh menenangkan, menyenangkan, menyenyumkan...
Apaan tu??? Hehehe….
"Belum terkait pada judul postingan"
Oke, sabar!
Saat itu kami membahas soal UN Sastra Indonesia tahun 2008/2009. Pak Ucup meminta kami menyelesaikan sebuah soal puisi. Mungkin kau tahu puisi ini.

Jati Cinta

Kalau cintaku tak sampai padamu
Di atas keranda telah kusiapkan kain kafan
Kemarin kubeli dengan ...
Di belakang rumah ada sepetak tanah
Warisan nenek moyangku
Kubur aku di sana
Kelak bakal tumbuh sebatang pohon tanpa nama
Tanpa ujung pangkal
Pintaku, sebut ia: Jati Cinta

                                                Asia Ramli 
Kata yang tepat untuk melengkapi baris ketiga puisi tersebut adalah ...
a. nurani
b. harga diri
c. emosi
d. berani
e. hati-hati

Ketika itu kami terbagi menjadi dua kelompok. kelompok laki dan perempuan.
Ketika salah satu perwakilan dari kelompok perempuan akan menjawab, kami memutuskan memilih pilihan (b. harga diri).
Mengapa? Karena puisi tersebut menggambarkan seorang lelaki yang cintanya tertolak (kasih tak sampai) pada si wanita. Nah, pada puisi tersebut sang lelaki seperti menampakkan bahwa ia adalah lelaki sejati sehingga ketika cintanya tertolak oleh si wanita, Ia lebih memilih untuk mati karena cintanya yang begitu kuat pada si wanita. Hal tersebut menunjukan bahwa lelaki itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang lelaki, sehingga bagian yang rumpang pada larik ketiga tersebut adalah…. (b. harga diri)
Sebenarnya ketika Kami mencari puisi itu di internet, yang benar adalah menggunakan nurani,
"Alasannya karena nurani menggambarkan keikhlasan lelaki itu terhadap si wanita."
Kece ya kalimatnya. hehehe... 
Mungkin bisa jadi sih... Silahkan dipikirkan lagi bagi yang mau... Tapi, terlepas dari benar-salahnya jawaban itu....

Kau tahu siapa yang mewakili kelompok kami dan menjabarkan tentang esensi puisi "Jati Cinta" itu?
Dialah, Ustadzah kita... Bq. Hatmita Murdiani. ya...
  
Ketika Mita Bicara Cinta.

 "Sejak kapan"???
“Apanya?”
“Sejak kapan Mita bicara cinta?”
Cun bilang Ia sendiri tak mengerti apa itu cinta, (yang ini kagak begitu percaya...hehehe..)

"SEJAK SAAT ITU," batinku!
saat bintik di mukanya merona mengulum merah jambu
saat senyum menyemat pada air mukanya...
saat itu...
tak tahu persisnya kapan, kawan...
tapi, Ketika Mita Bicara CInta 
tiga jarum penunjuk waktu itu menunjuk angka berurut...
pukul 3:45 sore.

Pengayaan Usai...

NB: Sayangnya tanpa foto TKP ya! Tapi postingan ini spesial untuk Chun yang waktu itu mencatat waktu di TKP.
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ▼  Oktober (3)
      • Sajak Bodohku
      • Sabar Ibu-Ibu! (Oleh-oleh sholat Ied!)
      • Ketika Mita Bicara Cinta
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes