Setangguh Ilalang
  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kampus
  • Ruang
  • LPM Pena Kampus
Home Archive for April 2016
Saya lupa pada siapa saya berhadapan. Saya lupa betapa semangatnya anak itu. Saya lupa berapa kali saya memintanya mengulangi surah yang belum juga dihapalnya. Saya lupa usahanya yang berulangkali mengulang-ulang hafalannya namun belum mampu menghafalnya dengan urutan yang benar.
Di akhir maghrib itu, Ia akhirnya menyerah setelah mengulangnya beberapa kali. Ia meneyerah dan meminta saya menulis keterangan “ulang” saja pada kertas hafalan miliknya. Dan ketika itu, ketika itu saya langsung tersadar bahwa saya sudah kelewat batas. Wajahnya langsung berubah lesu. Semangatnya turun.
Ya, Allah… Saya baru tersadar akan hal itu. Betapa kejamnya saya hingga memintanya berulangkali menghafal namun Ia masih belum mampu menghafalnya. Betapa bodohnya saya tak melihat perjuangan kerasnya mencoba untuk bisa menghafal. Saya terlalu terobsesi. Maafkan saya ya Allah.
Maafkan saya karena tak peka melihat semangat adik saya yang satu ini. Maafkan saya, dek. Maafkan kakakmu yang bodoh dan tak peka ini. Karena saya semangatmu menjadi turun. Kau bukan tak mampu, tapi saya yang terlalu perfeksionis. Kau sungguh mampu! Hanya mungkin butuh waktu. Maafkan saya, dek. Apa yang Saya lakukan untukmu sebenarnya sungguh untuk kebaikanmu, namun ambisi saya untuk membuatmu bisa menghafalnya “sedikit lagi saja” membuat saya lupa perihal kata “lanjut” pada kertas hafalan itu. Dan tentu itu yang kau tunggu, bukan? Sungguh, maafkan saya. Tak apa kau belum mampu sekarang. Besok kita menghafal lagi, ya! Saya berusaha untuk tak seperti itu lagi kedepannya! Insya Allah.

Untung saja ia lelaki + periang!

Agaknya akan cukup mengerikan jikalau adik yang satu itu bukanlah seorang lelaki + periang. Saya cukup lega atas itu. Ternyata di masa anak-anak seperti itu dengan cepatnya mereka melupakan kekecewaan yang beberapa menit berlalu. Saya sudah harap-harap cemas saja berfikir kalau-kalau semangatnya menghafal sudah mulai luntur.
Ketika ia akan pulang, saya menantinya menggenggam telapak tangan saya untuk disalami. Dan ternyata ia masih penuh senyuman seperti biasanya. Saya lalu memeluknya mengatakan kalau ia sudah lanjut ke hafalan surah selanjutnya. Dan ternyata kekhawatiran panjang saya sebelumnya dijawab dengan enteng saja oleh si adik. “Memang saya mesti lanjut, kak!” sambil cengengesan dengan gigi yang tak beratturan. Lah ini anak. Untuk gue gak lebih kejam dari itu. hahaha… Ya, sudahlah! Anak-anak memang tak terduga!


#BelajarMenghargaiUsaha
#BelajarJadiGuru
#EveryChildIsSpecial
Kesibukan Ibukota

Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana kita berbicara. Jika indah bagi sebagian orang adalah mengenai apik dari segi bangunan, maka saya yakini Ibukota sudah apik meski saya belum bisa disebut mengetahui segala lini jalanan ibukota. Yah, empat hari memang belum bisa dikatakan cukup untuk mengetahui keindahan Jakarta. Maklum, saya hanya menempati tiga lokasi di sana, hotel,  mall dan wajah jalanan dari bis. Tapi saya sudah memiliki gambaran mengenai Ibukota. Tak masalah, kan?
Jika mereka yang mengharapkan keindahan dalam arti ketenangan, tanpa kebisingan, tentu bukan Ibukota jawabannya. Bagi yang tak pernah ke Ibukota sekalipun tentu tahu jawabannya. Media memahat sendiri wajah Ibukota negeri ini dengan persis.
Dan benar saja, apa yang saya lihat di televisi ternyata tak ada bedanya dengan apa yang saya temui di Jakarta. Kemacetan, kebisingan, asap kendaraan, bangunan tinggi, kesibukan hingga larut malam sudah menjadi sebuah keharusan bagi kawasan cukup kecil bernama Jakarta.
Jadi, seindah apa ibukota?
Jakarta indah sebagai ibukota. Bukan lewat keheningan malamnya, namun lewat kebisingan jalanannya. Bukan lewat segar udaranya, namun lewat kepulan asap knalpot kendaraannya. Berbagai permasalahan ibukota agaknya menjadi sebuah lahan masalah yang tak kunjung selesai digarap.
Jakarta menawarkan cara hidup yang berbeda dengan Mataram (Ini menurut pengamatan selama 4 hari disana). Bangunan-bangunan tingginya, asap kendaraan di jalan, aura hedon yang sangat lekat (saya memperhatikannya lewat cara hidup teman sekamar saya yang anak Jakarta) dan tentu saja hal itu akan berakhir dengan kesimpulan bahwa saya mungkin tak bisa hidup di Ibukota negara ini.
Namun ketika saya berjalan-jalan di sekitar hotel (daerah Cikini), Saya melihat wajah lain Ibukota yang hampir saya lupakan. Pada perlintasan kereta api, banyak lelaki, wanita, anak kecil yang tidur di di bawah kolong perlintasan kereta api itu. beratapkan beton dingin dan beralas kardus, saya melintasi jalan sempit itu dengan perasaan cukup was-was. Inikah wajah lain Jakarta? Ya, untungnya wajahnya yang kali ini saya lihat pernah saya jumpai di televisi.
Ah… Jakarta! Adakah keindahan ketika menyebut namamu di hadapan mereka yang tertidur pulas dengan selimut kardus itu? Saya tak tahu jawabannya. Mungkin kata Jakarta tak seindah mereka yang terlelap dalam selimut tebal mahal hasil sumbangan rakyat, bukan?
Hingga ketika kembali dari Ibukota, saya pun kembali berkutat dengan kesibukan kecil sebagai mahasiswa di kota yang indah ini. Cukuplah saya menjadi warga Mataram yang hidup selayaknya sekarang. Namun, Saya agak ragu jika Mataram akan tetap sama seperti saat ini. Ketakutan saya adalah kota ini akan menyerupai wajah Ibukota jika aktivitas hedon di layar kaca tetap masih dipertontonkan dan seakan menjadi wajah percontohan hidup masyarakat kekinian bagi seluruh rakyat Indonesia.
Langganan: Komentar ( Atom )

Google+

Twitter

Tweet oleh @wazifa19

LATEST POSTS

  • Perihal Melepas Keberangkatan Gadis Kecil yang Dulu Bersama Kami
    Wagon-wagon kereta api melambai kepada kami yang berdiri di peron perpisahan Seperti ada yang tertinggal usai peluit panjang dibuny...
  • Pra-sidang Skripsi; Menahan Diri Untuk Tak Pusing dengan Debat Ngalor-Ngidul
    Pasca Ujian Debat perdana capres dan cawapres 2019 mengenai Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme diadakan pada Kamis malam lal...
  • Good Day!!! Ini Tahun Terakhir Kita (Bagian III)
    Kali ini langsung di posting tanpa bersemedi di notepad yang kalo' di scrool ke bawah udah panjang amat itu notepad... Theme:  Ini P...
  • Tuhan... Kembali Aku
         Sesak... Teriakan berkemul dalam dada. Hati ingin mengangis dalam lelah perih menyayat hempaskan dengan lirih di ny...

Blog Archive

  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (9)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2017 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ▼  April (2)
      • (Jangan) Maafkan Saya, Dek!
      • Seindah Apa Ibukota?
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Wazi Fatinnisa
Perempuan kelahiran Juli(^_^). Blogger yang berusaha menulis tidak tergantung mood. Mahasiswa yang seringkali menghabiskan waktu ke perpustakaan kampus bukan untuk mencari buku. Kini masih menuntut ilmu di bumi Allah. Moga berkah!
Copyright 2014 Setangguh Ilalang.
Designed by OddThemes